Ulama Palsu

Saya tertawa melihat seorang yang mendaku diri ulama menangis termehek-mehek saat “diadili” oleh Panwaslu DKI Jakarta. Terlihat jelas bahwa aktingnya itu sangat murahan. Bahkan, ia tidak mampu mengeluarkan air mata. Saya tidak membahas inti masalah yang membuat ia sampai merasa perlu bergaya seperti itu di depan jurnalis, namun saya membahas mengenai klaim tentang ulama.

Seorang ulama atau pemuka agama seharusnya menjadi panutan bagi umatnya. Hanya saja, dalam Islam, harus digarisbawahi bahwa ulama bukanlah orang yang tidak bisa bersalah atau berdosa. Namun, dosanya tidak boleh termasuk dosa besar. Meski ada hadits yang mengatakan ulama adalah pewarisnya Nabi, namun harus diberi catatan itu adalah ulama yang sejati. Sementara kini, di dunia yang makin materialistis dan penuh kepalsuan, kita melihat menjamurnya “ulama palsu” bak “nabi palsu” di abad pertengahan.

Ulama yang saya sebut pertama itu, kita tahu pernah dipergoki berada satu kamar dengan wanita yang bukan muhrimnya di sebuah apartemen. Secara pribadi, saya juga sempat tahu informasi lebih dalam tentang beliau, tapi bukan pada tempatnya diungkapkan di sini. Maka, saya tidak pernah menganggap ia sebagai ulama. Saya hanya melihatnya sebagai seorang penyanyi dengan jubah putih. Itu saja.

Bahkan bagi saya, kadar keimanan dan ke-Islam-an personel Bimbo jauh lebih bagus. Meski tak banyak yang tahu di awal karirnya Bimbo sempat bernyanyi pop bahkan dangdut, namun setelah masuk ke musik religius mereka pun mengubah perilaku sehari-harinya. Kita tidak pernah mendengar ada skandal dari personel Bimbo bukan?

Ada pula dua orang ulama tenar yang saya anggap “ulama palsu”. Mereka masih muda, ganteng dan tentu saja menjadi kaya sebagai selebritis yang sering tampil di televisi. Yang seorang pernah dituduh memperkosa mantan istrinya, sementara yang satu lagi gemar mengkoleksi mobil mewah dan ada tuduhan ia menipu pasiennya. Belum lagi “ulama palsu” lain seperti ustadz yang menjadi Ketua Koperasi Langit Biru. Betapa banyak korban yang ditipunya.

Sesungguhnya, menjadi ulama itu berat. Karena kalau ia keliru menyampaikan, orang lain akan sesat. Dan dosa seorang yang menyesatkan ganda. Selain dosa berbohong atau berkata menyesatkan, ia juga menanggung dosa orang yang disesatkan. Karena itu, saya prihatin sang ulama yang saya sebut pertama itu datang ke Panwaslu DKI Jakarta diiringi para pengikutnya yang taklid buta. Mereka bahkan meneriakkan asma agung Tuhan Yang Maha Besar semata untuk mengesankan bahwa sang ulama itu innocent. Harus diingat, seorang ulama sejati punya track record tak tercela. Dan jelas dari satu kejadian yang saya sebutkan di atas saja ia sudah tercela. Maka, ia pantas disebut sebagai “ulama palsu”.

3 responses to “Ulama Palsu

  1. Sebenarnya “beliau” yg dimaksud dlm tulisan ini sebenarnya harus segera memperjelas identitas/profesi dirinya, sebagai penyanyi kah,pendakwah (sy tdk menyebutnya ulama) kah,atau politisi kah ?, jgn diborong semua, nanti umat Islam yg awam macam saya makin bingung…he..he. Sebagai muslim kita juga wajib mendoakan beliau semoga diberi hidayah oleh Allah untuk berperilaku lebih baik. Amin

  2. Ping-balik: Sakit, Sempit, Tua « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s