Kepentingan Buruh vs Kepentingan Masyarakat

Kemarin, buruh di kawasan Bekasi memblokir jalan tol Jakarta-Cikampek. Masuk dari pintu keluar Cibitung, ribuan buruh memaksa pengguna jalan tol menunggu berakhirnya aksi mereka selama berjam-jam. Akibatnya, kemacetan merebak jauh dan mengular hingga ke ibukota. Tindakan para buruh itu memaksa kabinet bersidang darurat dan akhirnya mengabulkan tuntutan para buruh. Padahal, PTUN Jawa Barat sebelumnya telah memenangkan gugatan Apindo Bekasi atas SK Gubernur Jawa Barat No.561/Kep.1540-Bansos/2011 soal UMK Bekasi.

Ini ironis. Bagaimana hukum positif ternyata bisa dimentahkan dengan keputusan kabinet yang terdesak oleh demo jalanan. Apalagi mengingat sebelumnya ada kerusuhan yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dimana massa yang jelas-jelas dikerahkan untuk berdemo oleh pihak tertentu berhasil membuat kekacauan tanpa mampu ditangani aparat.

Oke. Taruhlah ada pihak yang keliru tidak mengakomodir aspirasi rakyat. Misalnya Bupati Bima yang mengeluarkan izin pertambangan bagi PT SMN. Namun itu tidak lantas membenarkan tindakan anarkis dalam menyikapinya. Entah apa sebabnya, aparat kepolisian tampak ragu menindak kerusuhan tersebut. Demikian pula dalam hal demo di Bekasi. Padahal, tindakan buruh Bekasi tersebut sudah merugikan kepentingan masyarakat.

Meski mungkin para buruh bisa dibilang sedang memperjuangkan kepentingannya, namun “nya” di sini berarti golongan sendiri. Sama saja misalnya bila ada ormas (organisasi massa) yang berdemo atau bentrok, tentu itu disebut untuk golongannya sendiri. Di luar buruh yang berdemo, ada masyarakat lain yang tidak tersangkut-paut dengan kepentingan para buruh.

Lebih jauh, demonstrasi para buruh itu menimbulkan suasana tidak kondusif. Indonesia yang tengah membutuhkan investasi asing bisa jadi akan kembali terpuruk. Padahal, peringkat ekonomi dan hutang kita baru saja dinaikkan oleh berbagai lembaga pemeringkat internasional seperti “Standard and Poor”.

Rupanya para buruh kerap berpikiran pendek dengan hanya memikirkan diri sendiri. Memperjuangkan UMK memang bagus, namun perhatikanlah siapa yang mengusung agenda tersebut. Lihatlah bendera-bendera yang berkibar dalam demonstrasi, bukankah mereka adalah LSM? Kenapa buruh mau dijadikan ‘alat’ bagi kepentingan LSM? Kalau mau negara kita maju, maka satu-satunya cara menyelesaikan permasalahan apa pun termasuk sengketa perburuhan adalah melalui jalur hukum. Bukan dengan memaksakan kehendak melalui demonstrasi, apalagi kerusuhan.

Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf

Iklan

One response to “Kepentingan Buruh vs Kepentingan Masyarakat

  1. Sepenuhnya ulasan mas Bhayu saya setuju,terutama terhadap tindakan anarkis yg sudah menunjukan bahwa demikian lemahnya kewibawaan pemerintah RI saat ini.

    saya sepakat tidak setuju dgn anarkis.
    namun “nya” (pinjam istilah mas Bhayu ),peristiwa2 serupa adalah pertanda bahwa rakyat sudah muak dengan segala kebusukan aparat negeri ini,terutama mereka mafia koruptor yang telah ikut memiskinkan rakyat ini.

    saya nyimpan optimisnya saja mas,semoga negara kita mendapat Hidayah Tuhan,agar bisa lebih baik dari keadaan sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s