Memuliakan Tetangga

Dua hari berturut-turut, tetangga di kompleks perumahan orangtua saya meninggal. Tadi pagi pun ada seorang lagi Hamba Allah yang dipanggil berpulang. Kali ini, saya tidak serepot kemarin. Karena posisi rumahnya yang tetangga jauh, maka saya sebatas menshalatkan jenazah saja dan tidak ikut mengantar hingga ke pemakaman. Sementara karena yang kemarin adalah tetangga dekat, kami berupaya membantu lebih baik untuk meringankan kedukaan keluarganya.

Di dalam Islam agama yang saya anut, tetangga harus dihormati karena ia adalah orang terdekat dan tercepat yang akan menolong kita dalam keadaan darurat. Keluarga inti yang terdiri dari ayah-ibu dan anak biasanya sedikit. Sementara keluarga batih lain seperti paman atau bibi (kakak atau adik ayah atau ibu), kakek-nenek atau sepupu biasanya tidak tinggal berdekatan. Sehingga, apabila terjadi musibah terutama kedukaan tentu yang pertama bereaksi adalah tetangga.

Saya lantas teringat pada sabda manusia termulia, kekasih Sang Tuhan Sejati, Rasulullah Muhammad SAW berikut:

من كا ن يؤمن با الله و اليوم الآ خر فلا يؤ ذ جا ر ه و من كا ن يؤمن با الله واليوم الآ خر فليكرم ضيفه من كا ن يؤمن با الله و اليوم الآ خر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas adalah tuntunan bagi Muslim untuk ber-mu’amalah atau berinteraksi dengan sesama manusia. Bahasa ‘gaul’-nya adalah “hablum minannas“. Di dalam Islam, seorang Muslim tidak cuma harus berhubungan dengan Tuhan melalui ibadah (hablum minallah), tapi juga dengan sesama manusia dan lingkungan (hablum minal ‘alam).

Saya sendiri termasuk bodoh dan tolol bila harus berhubungan dengan manusia. Interpersonal saya tidak terlalu bagus. Itu karena saya ini sombong. Betul.

Kalau Anda baca blog saya dan merasa terinspirasi, bagus. Alhamdulillah. Tapi saya sungguh bukan inspirator, apalagi motivator. Karena bila saya termasuk “golongan” mereka, saya harus “ja-im” (jaga image). Karena itu saya tak pernah bilang di sini -atau di mana pun- bahwa saya ini perfect. Saya justru menyebutkan bahwa saya punya begitu banyak kelemahan, alih-alih seorang yang “Super” atau “Luar Biasa”.

Karena saya tahu kelemahan saya, maka saya berusaha bekerja lebih keras. Ini termasuk dalam hal memuliakan tetangga. Saya berupaya tidak mengganggu mereka dan tentu saja cawe-cawe saat mereka memiliki keperluan, baik itu musibah maupun kesenangan. Kalau pun ada pamrih, saya cuma berharap mendapatkan bantuan serupa saat saya mengalami keperluan. Itu saja.

Mengingat saya sombong, maka saat berinteraksi dengan tetangga saya berupaya keras meredam kesombongan itu. Kalau tidak, nantinya saya akan dimusuhi lingkungan. Tahu sendiri kan kalau gosip sudah menyebar? Haduh, susah menghentikannya. Karena itu, mari kita memuliakan tetangga. Jangan defensif dan juga merasa tidak memerlukan mereka ‘mentang-mentang’ kita berhasil dalam karir di kantor atau malah kaya karena usaha kita. Justru tetangga itulah yang bisa diandalkan saat kita sedang ada keperluan. Percayalah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s