Daun Muda: Hijau & Segar

Gara-gara kompetisi semi SEO yang diadakan oleh Blogger Bekasi dalam rangka Amprokan Blogger 2011 (AB 2011), saya jadi tertarik pada ‘daun muda’. Lho? Bukan, ini bukan ‘daun muda’ yang itu, tapi benar-benar daun yang muda. Iya, daun yang di pohon pastinya.

Dengan bersemangat saya menanam pohon untuk menghijaukan kantor saya yang relatif gersang. Karena lahan terbatas, maka terpaksalah tanaman itu ditanam dalam pot. Untung masih ada cukup tempat untuk menaruhnya. Saya senang, karena ‘daun muda’ tadi, kantor saya menjadi hijau dan segar.

Menumbuhkan ‘kecerdasan ekologis’ seperti pesan dari AB 2011 memang tidak mudah. Tidak hanya perlu ‘kecerdasan’ dalam konteks intelektual, tapi juga hati. Kita perlu menumbuhkan kesadaran bahwasanya hidup kita ditunjang oleh alam. Sementara saat ini seolah manusia sudah terlepas dari alam dan mampu menghidupi diri dengan industri.

Menurut Daniel Goleman dalam bukunya Ecological Intelligence (Kecerdasan Ekologis): Mengungkap Rahasia di Balik Produk-produk yang Kita Beli (Jakarta: Gramedia, 2010) yang baru saja saya beli, kecerdasan ekologis membuat kita dapat menerapkan apa yang kita pelajari mengenai akibat aktivitas manusia terhadap ekosistem sehingga dapat mengurangi kerusakan dan sekali lagi hidup lestari dalam ceruk kita -yang sekarang ini berupa seluruh planet bumi (p. 38). Istilah “ceruk” digunakan Goleman karena sebelumnya ia menggunakan contoh kasus bagaimana sebuah desa bernama Sher di Tibet bertahan hidup di ceruk lereng gunung.

Sekarang, dengan aneka produk industri hasil kapitalisme global mengepung kita, secara tak sadar kita menghancurkan bumi tempat kita tinggal bersama-sama. Contoh paling sederhana adalah penggunaan aneka kemasan secara massif. Setelah produknya kita konsumsi, kemasannya hampir pasti kita buang. Sulit memang, karena bila tidak dibuang, maka akan menyebabkan penumpukan sampah di rumah kita. Caranya justru mengurangi dari awal. Saya melakukan tindakan sederhana seperti misalnya menolak menggunakan plastik saat membeli barang di toko termasuk minimarket. Kalau perlu, bawalah plastik bekas dari rumah atau kantong/tas sendiri.

Sebaiknya juga belilah aneka bahan segar dari pasar tradisional. Karena biasanya di pasar tradisional atau tukang sayur minim kemasan. Sementara barang di pasar modern seperti supermarket modern pasti dikemas. Tengok saja sayur atau buahnya hampir pasti menggunakan styrofoam dan plastic wrapping. Selain itu di pasar modern kebanyakan sayur dan buahnya impor, sehingga tidak mendukung pertanian dan perkebunan dalam negeri. Hal ini mengkuatirkan hingga harian Kompas pernah menurunkannya dalam laporan utama edisi minggu sekitar 2 pekan lalu.

Secara pribadi banyak sekali tindakan yang bisa dilakukan. Termasuk salah satunya dengan menanam pohon di halaman atau kebun, bila tak ada lahan ya minimal di pot. Sehingga daun-daun muda itu akan menghiasi tempat tinggal dan kantor Anda. Mereka akan memberi bumi nafas segar karena proses fotosintesis yang dihasilkannya menyuplai oksigen bagi keperluan manusia dan hewan. Intinya, mulailah kesadaran dari diri sendiri. Karena bumi yang kita tinggali ini cuma satu. Dan ia harus kita rawat bersama-sama.

Untuk perspektif mengenai Peran Amprokan Blogger Menghidupkan Suksesmu dalam Membudayakan Kecerdasan Ekologis dapat dilihat di blog LifeSchool-Indonesia. (klik pada judul).

Foto ilustrasi: browsewallpapers.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s