Bossy

Dulu, salah satu Oom saya sering dijuluki “Bossy” oleh Ibu saya yang merupakan kakaknya. Pengertian “bossy” adalah bergaya seperti boss, namun tentu bukan boss sesungguhnya. Sikap “bossy” biasanya terkait tingkah-laku atau “attitude”, meski juga terkait kepribadian (personality) namun tidak langsung. Artinya, sikap ini sebenarnya bisa diubah lebih mudah daripada mengubah kepribadian.

Salah satu hal yang kerap dijuluki sebagai sikap “bossy” adalah memerintah orang lain. Bahkan, kerap kali memerintah ini dengan “berteriak”. Tentu saja, memerintah yang dimaksud adalah memerintah tanpa hak. Misalnya menyuruh adik mengambilkan sepatu, padahal sebenarnya bisa mengambil sendiri. Terlebih, adik bukan pesuruh kita.

Meneriaki orang lain seperti dalam ilustrasi gambar memang berlebihan. Namun “meneriaki” di sini juga bisa berarti menuntut orang lain melakukan kemauan kita. Sekali lagi, tanpa hak. Karena kalau boss sebenarnya, karena ia memang memegang mandat dari pemberi kerja, ia berhak. Kenapa berhak? Karena waktu dan tugas bawahan sudah diberikan kompensasi dengan gaji atau pembayaran lainnya. Sementara yang tidak berhak misalnya sesama rekan satu sekolah dimana kedudukannya setara.

Di sini kemampuan menempatkan diri atau bahasa awamnya tahu diri sangat penting. Jangan mentang-mentang. Kalau meminjam istilah di dunia pemasaran adalah positioning.

Artinya, kita harus tahu menempatkan diri sendiri dalam perbandingan posisi dengan orang lain. Sebagai contoh adalah kasus saya sendiri. Saya pernah bekerja pada boss yang usianya cuma terpaut satu tahun di atas saya. Namun, beliau adalah putra pemilik perusahaan yang kaya-raya. Saya memang bisa duduk satu meja dengannya. Bahkan sesekali bercanda. Namun, posisi saya jauh di bawahnya, meski usia kami tidak terlampau jauh. Saya pun selalu memanggil “Pak” di kantor maupun di luar kantor. Itulah kemampuan memposisikan diri. Beliau berhak bersikap boss, karena memang boss saya. Sementara kalau saya belagu merasa setara dengannya, kira-kira apa reaksi beliau?

Orang bersikap “bossy” biasanya karena di satu sisi kehidupannya ia memang boss. Namun harus diingat, boss di satu tempat bukan berarti boss di tempat lain. Saya adalah boss di keluarga besar (saya anak tunggal dari ayah saya yang anak pertama dari kakek yang anak pertama buyut dan seterusnya. Jadi dituakan). Akan tetapi di kantor saya tempat saya pernah bekerja tadi, saya cuma bawahan. Saya bukan boss.

Pendeknya, bila seseorang bersikap “bossy”, sudah pasti ia memiliki ego tinggi. Dan orang berego tinggi, sangat dekat bahkan nyaris sama dengan orang sombong. Sudah pasti ada kesombongan di hatinya karena ia menganggap diri lebih baik, lebih hebat atau semacamnya dari orang lain. Dan celakanya meski ia berupaya menyelimutinya dengan kata-kata manis, tingkah lakunya yang “bossy” tadi merupakan pengejawantahan sesungguhya, yang tanpa disadarinya keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.

So, don’t be bossy, but be humble to anyone.

Foto: naomishow.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s