Bersyukur… bersyukur… bersyukur

Sulitkah bersyukur?

Ya dan tidak.

Sekedar mengucapkan alhamdulillah atau puji Tuhan atau semacamnya mungkin mudah. Malah ada yang menggunakan model terapi mengucapkan “terima kasih” saat bangun tidur dan menjelang tidur.

Saya sendiri merasa sulit bersyukur. Sudah beberapa kali saya menulis mengenai hal ini. Padahal, banyak sekali nikmat yang saya terima. “Fabiayyi ‘ala irabbikuma tukadzibaan” demikian ALLAH SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an mulia. Kalimat yang berarti “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”) itu diulang berkali-kali dalam surat Ar-Rahman, surat ke-55 dalam Al-Qur’an.

Seringkali, apa yang tidak saya punyai atau gagal saya dapatkan lebih mengganggu benak saya. Padahal, apa yang sudah saya miliki dan saya dapatkan seringkali belum dinikmati secara optimal.

Cara bersyukur bagi tiap orang berbeda. Bagi saya, ternyata adalah mempersedikit waktu luang. Maka, saya berusaha menjadi orang yang sesibuk mungkin. Hingga secara fisik mungkin menjadi lelah. Dengan begitu, saya jadi tidak punya waktu untuk melamun. Karena melamun biasanya akan menyesali kegagalan di masa lalu. Hal ini memang mengganggu karena saya terbiasa dengan kesuksesan, dan seringkali merutuki kegagalan. Apalagi bila kegagalan itu akibat saya sendiri. Namun tentu saya tidak akan merutuki kegagalan yang variabel penentunya terletak pada orang lain. Misalnya gagal jadi juara lomba. Karena penentunya adalah juri, bukan saya.

Bersyukur bagi saya justru seringkali dengan melihat betapa banyak orang lain yang tidak seberuntung saya. Meski ada beberapa masalah di keluarga misalnya, saya melihat banyak sekali yang memiliki keluarga yang lebih tidak harmonis. Atau dalam soal rezeki. Justru untuk itu banyak sekali yang jauh lebih tidak beruntung.

Namun untuk menyadarinya, saya harus turun dari tahta menara gading saya. Kerapkali saya sengaja naik kereta api Jabodetabek atau naik angkot untuk melihat realitas hidup. Beberapa kali saat mobil saya masuk bengkel saya juga memaksa diri naik angkot alih-alih taksi. Sementara untuk makan, sehari-hari memang saya masih lebih sering makan warteg. Tapi bukan di warteg melainkan menyuruh pegawai saya membelinya. Untuk mendapatkan perspektif, seringkali saya sengaja membeli dan duduk di warteg berlama-lama. Bahkan kunjungan ke Taman Buaya Indonesia Jaya di Bekasi saja menyadarkan saya, betapa sesungguhnya saya beruntung. (tulisan bisa dibaca di sini). Para penampil atraksi pawang ular, debus dan pawang buaya yang susah-payah mencari kesaktian jelas tidak bisa dikategorikan orang berada.

Saya harus seringkali menegur diri sendiri dengan keras. Sekarang, badan saya secara fisik sudah mulai menerima akibat saya tidak bersyukur di masa lalu. Bagian rahang saya kini agak mengsle (bahasa Jawa: bergeser) karena pernah berkelahi secara fisik. Oh ya, saya merasa jagoan di masa lalu, walau sudah mencoba tidak bergaul dengan preman, namun saya pernah berkelahi dengan sopir taksi. Walau menang saat itu, namun pukulan si sopir (dan beberapa pukulan lain di saat lain) membekas hingga kini. Saya terima itu sebagai peringatan saya tidak bersyukur. Dan setiap malam, setiap pagi, setiap waktu luang, saya mencoba bersyukur. Semoga Tuhan menyayangi kita dengan bersyukur.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s