Penipu, Pembual & Pengkhayal

Pinokio, karakter kartun yang hidungnya memanjang tiap kali dia berbohong

Pinokio, karakter kartun yang hidungnya memanjang tiap kali dia berbohong

Begitu banyak penipu dan pembual di dunia ini. Sampai-sampai orang-orang jujur (insya ALLAH saya termasuk di dalamnya) kesulitan membuktikan dirinya jujur.

Saya punya segudang pengalaman pribadi soal ini. Dikira penipu atau pembual itu sudah teramat sangat biasa. Apalagi oleh orang yang baru kenal. Mata yang memicing, bibir yang mencibir, cara bersalaman yang ragu, menerima kartu nama dengan sebelah tangan (untuk kemudian digeletakkan begitu saja) itu adalah gesture dari orang yang ragu pada kita. Mereka menganggap kita penipu atau pembual.

Lucunya, saya sama sekali tidak mendapati keraguan itu pada diri orang-orang hebat. Mentor saya, seorang mantan menteri, tidak pernah meragukan saya sejak awal perkenalan. Beberapa menteri yang saya pernah temui juga begitu. Demikian pula sejumlah orang hebat yang saya temui dari beragam profesi, mereka malah dengan santun menerima uluran tangan saya dan menyimpan kartu nama saya dengan baik. Akan tetapi, sebaliknya dengan diri orang-orang yang saya kemudian ketahui mereka ini “tidak aman” pada dirinya. Mereka memandang saya dengan meremehkan, merendahkan, menghina, atau minimal meragukan.

Memang, banyak orang yang setelah dewasa tahu, bahwa mudah sekali untuk “bercerita”. Jarang ada orang yang mendapatkan ‘dongeng’ dari orang lain mau repot-repot mengecek keabsahannya. Saat menghadiri reuni akbar sebuah kampus terkemuka di Bandung -menemani partner saya- , kami mendengar seorang yang duduk di bangku pinggir jalan (bukan peserta reuni, sepertinya pedagang kaki lima) sedang bercerita pada rekan-rekannya. Kira-kira begini katanya, “Saya mah semua kampus udah pernah saya masukin. Mulai dari kampus a…, b…, c….”  Kami saling berpandangan heran, apa ya kira-kira maksud orang ini? Ya, tentu saja ia sedang membual. Entah agar dikira teman-temannya ia pernah kuliah, atau minimal dianggap berwawasan luas karena sering jalan-jalan ke banyak tempat.

Contoh lain banyak ditemui di internet. Mereka-mereka yang mengklaim aneka hal terutama agar jualannya laku. Kisah sukses sekejap di berbagai bidang mudah ditemui. Mulai dari “kaya tanpa kerja” sampai “langsing tanpa usaha” ada. Tinggal pilih yang mana. Saya sendiri selalu mengecek dan mengecek ulang (check and re-check) klaim-klaim semacam itu. Ditambah lagi sekarang banyak pembajak akun, mengirim cerita keren yang menggiring kita untuk mengklik tautan (link) yang diberikan. Setelah itu, bukannya khasiat atau bukti dari cerita yang kita dapat, malah akun kita hilang.

Saya juga belajar, bahwasanya visi terlalu jauh ke depan juga sulit dipahami oleh mereka yang berpikiran sempit. Kalau Anda rajin membaca tulisan saya di sini, beberapa kali saya dianggap aneh justru oleh pegawai saya sendiri. Mereka menganggap saya mengkhayal seraya mencerca dan memaki saya, tapi tetap santai mengisi perutnya dengan uang gaji yang saya berikan. Minimal, di satu hal itu mereka berhutang banyak pada saya di akherat kelak.  Visi terlalu jauh ke depan, atau bahkan sekedar wacana ternyata tidak bisa masuk di otak mereka yang masih berada di level “pelaksana” (doers).

Jadi, kalau saya bilang bahwa saya berniat membuat sambel yang tidak perlu pakai ngulek, mereka akan bilang saya pengkhayal. Kalau saya bilang sanggup makan sambal 5 mangkuk tanpa kepedasan misalnya, mereka akan bilang saya pembual. Kalau saya bilang bisa menjual sambal dengan harga 1 juta per piring (seperti diajarkan Pak Tung Desem Waringin), apalagi, pasti saya serta-merta dituding penipu.

Tadinya, saya capek meyakinkan orang-orang semacam ini. Dan celakanya mereka-mereka ini terus-menerus datang kepada saya. Orangnya sih beda, tapi tipenya sama. Seakan-akan -ini istilah saya-, ke mana-mana saya harus menempelkan ijazah atau sertifikat kompetensi di jidat saya. Itu pun mereka masih bisa tidak mengacuhkan, karena memang mereka tak peduli apa pun selain dirinya.

Akhirnya saya tahu, masalah ada di mereka, bukan di saya. Saya ingat saja secara positif, justru orang-orang hebat yang sudah aman dan eksis malah menghargai saya begitu rupa. Justru para pecundanglah yang tidak mau menghargai kelebihan dan prestasi orang lain. So, seperti kata The Queen di lagunya We Are The Champions: “No Time for Loser!”

8 responses to “Penipu, Pembual & Pengkhayal

  1. Membaca artikel diatas begitu menarik dan inspiratif buat saya ,dan saya ingin share sedikit pengalaman dengan para pembaca,,perkenalkan nama saya jhonny , usia 32tahun , menikah , pekerjaan technical engineering ,,dalam hidup saya begitu besar kecintaan saya terhadap dunia sains ,fisika , electro, listrik dan dunia teknik lainnya ,apapun usaha dan pekerjaan banyak yg saya geluti demi mendapatkan ilmu teknik yg ingin saya pelajari , demi hal ini saya berpuluh kali keluar masuk kerja , begitu banyak tantangan , keraguan,merendahkan , dan ketidak percayaan orang lain terhadap saya, mengingat saya cuma sebagai lulusan SMP , seringkali kali saya mendapatkan cibiran , keraguan , dan pastinya ketidak percayaan ,tapi saya tetap tegar , dan percaya suatu saat saya akan mendapatkan apa yang saya impikan , ,,dulu disatu tempat perusahaan , pertama kali saya masuk sebagai pegawai kebersihaan karena ijazah saya tidak memungkinkan mendapatkan jabatan yg bagus ,suatu saat ada seorang kepala produksi yg sedang kesulitan memperbaiki system komputer yg eror dikantornya , saya coba menawarkan diri untuk memperbaikinya , tapi jawabannya sungguh menyakitkan , seraya bilang ‘ hah !! masa kamu bisa perbaiki software dan hardware komputer , km kan cuma lulusan smp dan pegawai kebersihaan,, kalo kamu bisa gak mngkin km jd OB ! ,, aku menanggapinya dengan tersenyum ,dan aku pun berlalu ,,hari demi hari aku lihat komputer system tersebut tak kunjung diperbaiki dan produksi pun terganggu karena komputer tersebut tersambung ke hardware mesin , mendengar informasi yg bisa memperbaiki komputer tersebut hanya Orang ahli dari jakarta,,akhirnya saya pun dipanggil meski ragu kepala perusahaan menyuruh saya untuk memperbaikinya , hanya butuh waktu 30 menit saya menyelesaikan. komputer tersebut , alangkah kagetnya kepala produksi yg meragukan kemampuan saya ,, seraya bilang ‘gak nyangka ‘ dan besoknya saya dipanggil pemilik perusahaan dan saya diangkat menjadi kepala maintenance , saya mengepalai beberapa orang lulusan smk dan sarjana ,,,dari cerita pengalaman saya diatas apapun usaha dan kemampuan kita tidak dibatasi oleh kekurangan kita selama kita yakin dan optimis ,dan dr hasil usaha kerja serta pembelajaran selama ini sedikit banyak saya menguasai bidang teknik seperti kelistrikan , electro, mesin,komputer ,pneumatic, dll kebanyakan dr perusahaan menerima karyawan ato pegawai berdasarkan dari ijazahnya bukan dari skill dan kemampuannya ,,teori dan bukan prakteknya , (maaf bukan merendahkan yg berpendidikan Tinggi dsb)

    • Wah, sharing yang sangat bagus Bung Jhonny. Sebenarnya bukan masalah pendidikan tinggi atau rendah, tapi kompetensi. Karena memang ada ilmu dan ketrampilan yang berdasarkan pengalaman, tapi juga ada yang perlu sekolah khusus untuk itu. Terima kasih sekali sudah berbagi. Sukses utk Anda & salam utk keluarga.🙂

  2. Ping-balik: Bohong! | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s