Komitmen Pada Diri Sendiri

Komitmen bisa diimplementasikan dalam banyak bentuk. Dalam hubungan inter-personal misalnya, komitmen bisa berarti kesetiaan pada pasangan. Dalam hubungan kerja, komitmen menemukan formatnya dalam integritas. Kepada negara, komitmen mungkin bisa berbentuk kepatuhan pada aturan. Nah, kepada diri sendiri, komitmen berarti kemampuan menepati janji dan disiplin pada “personal challenge” yang sudah dibuat.

Saya termasuk orang yang sering melanggar komitmen pada diri sendiri. Sehingga, banyak target pribadi gagal dicapai dan “personal challenge” tinggal jadi kenangan.

Bagi kita, memang selama nafas masih ada, seolah sudah hampir pasti bahwa mentari akan terbit esok hari. Karena “masih ada hari esok” itulah, kita seringkali menunda-nunda begitu banyak pekerjaan.

Pekerjaan di sini sebenarnya bukan cuma pekerjaan dalam arti “tugas dari bos atau klien” saja. Pekerjaan di sini termasuk pula membenahi persoalan pribadi seperti komunikasi dengan pasangan, memperhatikan pendidikan anak, merawat apa yang telah diraih dan sebagainya. Pekerjaan pribadi ini kelihatannya tak penting, sama dipandang remehnya dengan pekerjaan domestik yang dilakukan ibu rumah tangga, namun sebenarnya sangat krusial.

Kenapa krusial? Karena dengan begitu, pribadi kita selalu menjadi pribadi yang bertumbuh.

Begitu kita menolak komitmen untuk bertumbuh, maka yang ada perkembangan pribadi kita akan menjadi stagnan belaka. Di sini, kita akan menjadi pribadi ‘basi’ yang tergilas perkembangan zaman. Bukan cuma tidak mampu berkembang di dalam, tapi juga sulit berkembang di luar. Pengetahuan kita pun akan menjadi basi (obsolete) dan menjadi tak mampu meningkatkan harkat kehidupan kita.

Jangan keliru, komitmen pada diri sendiri ini justru yang paling penting. Karena sebelum mampu memenuhinya, justru komitmen kepada pihak lain tidak perlu dibuat atau dipenuhi dulu. Namun, banyak di antara kita yang terbalik. Misalnya saja dalam soal pengelolaan uang. Kalau kebutuhan pribadi yang bersifat primer belum terpenuhi, maka sebaiknya yang tersier apalagi mewah tak perlu dipenuhi. Sayangnya, seperti disinyalir Ligwina Hananto dalam bukunya yang pernah saya ulas beberapa hari lalu, banyak orang yang bergaya hidup mewah dengan mengabaikan komitmen pada diri sendiri. Bentuk komitmen pada diri sendiri itu antara lain meningkatkan dan menguatkan status perekonomiannya sendiri. Namun, komitmen bukan melulu bersifat “kerja” atau pengembangan diri belaka, juga termasuk yang bersifat santai.

Di akhir pekan, komitmen kita pada diri sendiri untuk beristirahat dan memberi jeda pada tubuh juga diuji. Demikian pula komitmen kita pada keluarga dan orang-orang tercinta untuk memberikan waktu berkualitas setelah selama 5-6 hari kita bekerja mencari nafkah. Komitmen ini pada dasarnya merupakan sebuah kesanggupan diri untuk mengkaitkan antara niat, tekad, dan perbuatan. Memang, ini hal yang mudah dikatakan/dituliskan, namun sulit dilaksanakan. Sanggupkah kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s