Belajar dari Kekalahan Manchester United

Kekalahan tim sepakbola kesayangan saya Manchester United semalam dalam final Liga Champions Eropa 2011 semalam membuat saya bersedih. Walaupun sebenarnya saya sudah menduganya, karena secara teknis, taktik dan kualitas individual pemain Barcelona lebih bagus. Saya langsung memberi komentar pada account FaceBook resmi klub itu, dan beberapa orang bule yang membaca memberi jempol “like this”.

Intinya saya memberikan komentar, bahwasanya taktik Sir Alex Ferguson sudah melapuk sehingga mudah diterka lawan. Joseph “Pep” Guardiola, pelatih Barcelona yang masih muda itu tentu lebih dari mampu untuk mengatasinya. Hasilnya kita sama-sama tahu, dua kali berhadapan di final kompetisi yang sama, dua kali pula Pep unggul atas Alex.

Pelapukan -terutama dalam konteks ilmu dan pengetahuan- dalam bahasa Inggris disebut “obsolete.”  Ini adalah kondisi dimana apa yang kita ketahui ternyata sudah usang dan menjadi tidak “up to date” lagi. Dengan demikian, apa yang pernah berhasil diterapkan di masa lalu, tak bisa lagi diimplementasikan pada saat ini.

Menurut sahabat saya Ikbal Maulana, M.Sc. dalam bukunya Improve Your Learning Intelligence: Menambang Pengetahuan dari Jejaring Profesional (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010), ada dua jenis pelapukan pengetahuan. Pelapukan pertama adalah karena seseorang (atau bisa juga suatu institusi) tidak lagi menggunakan atau menerapkan ilmu-pengetahuan yang dimilikinya. Sementara pelapukan jenis kedua adalah bila seseorang tidak memperbaharui pengetahuannya, sedangkan di luar dirinya dunia terus berkembang. Ia tidak menyadari apa yang dikuasainya sudah tidak memadai lagi pada saat ini.

Tampaknya, apa yang dialami oleh Sir Alex Ferguson masuk kategori kedua.

Telah memenangkan selemari piala rupanya membuat pola dan taktiknya bisa dipelajari lawan dengan mudah. Apalagi saat ini teknologi media seperti video sudah begitu modern. Tinggal mempelajari sejumlah rekaman video saja, seorang pelatih hebat akan bisa ‘membaca’ bagaimana seorang pelatih tua seperti Sir Alex biasa menggunakan ilmunya. Tak dapat dipungkiri, makin tua usia seseorang, makin konservatif ia. Makin sulit pula ia melakukan perubahan alias tidak adaptif.

Dalam pertandingan semalam misalnya, pola dasar pergerakan M.U. yaitu menyerang lewat sayap relatif mudah diterka. Menempatkan Wayne Rooney sebagai penyerang utama didampingi Javier “Chicarito” Hernandez pun sudah bisa diduga. Yang agak mengejutkan hanya taktik di babak pertama di mana M.U. tampil menyerang sejak awal. Tapi rupanya, hal ini membuat “lubang” di pertahanan sehingga Barca malah bisa menjebol gawang Edwin van Der Sar lebih dulu.

Sir Alex sendiri terkenal menyenangi pemain yang pendiam dan tidak banyak membuat ulah di luar lapangan. Nama-nama besar seperti David Beckham, Christiano Ronaldo atau Ruud van Nistelrooy tidak membuatnya ragu mendepak mereka tatkala membuat ulah. Akibatnya, banyak pemain tua yang masih dipakai M.U. Di satu sisi, ini bagus bagi kerjasama tim dan loyalitas yang menumbuhkan “esprit de corpse”. Namun di sisi lain, pemain yang terlalu lama “bertugas” di suatu klub akan terbiasa dengan pola permainan tertentu. Di samping itu, segala indikator fisik jelas akan menurun seiring menuanya usia.

Masuknya Javier “Chicarito” Hernandez memang menyegarkan. Namun regenerasi di tubuh tim ini berjalan lambat. Pembelian Zoran Tosic dan Adem Llajic tahun 2008 lalu terbukti keliru. Mereka berdua gagal memenuhi harapan. Yang mengherankan, Federico Macheda belum juga mendapat tempat di tim utama. Ia malah dipinjam-sewakan kepada klub Italia Sampdoria yang musim ini justru terdegradasi. Sementara Mame Biram Diouf yang sebenarnya cepat dan bagus juga masih dipinjam-sewakan kepada Blackburn Rovers, dengan rencana akan dijual dalam waktu dekat.

Kemampuan Sir Alex meracik tim berbeda memang sudah teruji. Namun taktik dan kebiasaannya sudah dipelajari lawan-lawannya. Karena itu, seharusnya beliau terus mencari ajian baru yang sakti. Sehingga kelak bisa menandingi taktik “tiki-taka”-nya Barca di bawah Pep. Dan tentunya juga tim-tim lainnya. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s