Humor “Wagu”: Bercanda Soal Bencana

“Ssst! Diam!”

Rasanya ingin saya membentak orang yang bercanda “wagu”. Hari Sabtu (12/3) ini, saya mendengar dan membaca hal itu setidaknya dua kali. “Wagu”, adalah istilah bahasa Jawa yang intinya menggambarkan situasi pembicaraan –biasanya humor atau candaan- yang salah tempat, salah positioning dan basi. Padanan bahasa gaulnya bisa jadi adalah “jayus” atau “kriuk” atau “garing”. Bercanda yang tidak lucu sama sekali.

Pertama, terjadi di siang hari saat saya menemui seorang rekan pedagang benda koleksi filateli di Kantor Filateli Jakarta. Di situ, sedang berkumpul sejumlah pedagang benda filateli kelas kakap. Kebetulan, mereka sedang membicarakan rencana pameran filateli di Jepang yang kemungkinan gagal. Saya saat itu sedang membalas sms adik “partner” saya tentang kabar yang diterimanya dari kakaknya yang memang sedang ada di sana. Karena saya tidak terlibat dalam rencana pameran tersebut, saya tidak ikut angkat bicara. Sampai ada salah satu yang bercanda, “Ada yang bilang tsunaminya bakal masuk Jakarta. Saya bilang nggak mungkin. Kenapa? Soalnya tsunaminya nggak bakal mau bayar. Kan masuk Ancol bayar 25 ribu?” Saya melotot kepadanya dan tidak tertawa sama sekali. Namun untuk marah saya tidak enak hati karena yang bicara usianya saya taksir sudah sekitar 70-an tahun. Tindakan sopan yang mungkin saya lakukan adalah segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin setelah membereskan urusan dengan rekan saya.

Lalu malamnya, saat membuka FaceBook “partner” saya, dimana saya juga meninggalkan pesan di “wall”-nya, saya membaca seorang kerabatnya yang menulis dengan maksud bercanda. Tulisannya kira-kira begini: “Tante, jangan lupa bawain mobil-mobil korban tsunami ya, biar bisa dapat mobil gratis.” Muka saya langsung merah padam. Niat saya untuk membalas langsung di comment saya batalkan, dan saya memilih menulis posting ini untuk kemudian saya berikan tautannya kepada yang bersangkutan.

Humor, Saudara, memang untuk memancing tawa. Tapi harus diingat, ada situasi di mana humor sama sekali tak boleh dilakukan, termasuk dalam suasana berduka. Sebaliknya, terkadang ada humor sosial dimana meski tak lucu, pendengarnya diharapkan tertawa demi kesopanan. Hal ini biasa terjadi dalam suasana meeting atau ada seorang dengan jabatan tinggi melontarkan humor. Meski tak lucu, kita diharapkan “tertawa sosial”.

Orang yang tak mampu melontarkan humor secara tepat, bisa dibilang minim wawasan dan pengetahuannya, termasuk juga kemampuan interpersonalnya. Humor yang bernuansa SARAS (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan, Seks) misalnya, sangat tabu digunakan dalam pertemuan resmi. Termasuk pula humor yang merendahkan wanita, dimana saya sering sekali mendengarnya dalam pembicaraan di kantor-kantor.

Kalau Anda pernah baca majalah semacam New Yorker atau minimal Reader’s Digest, Anda akan mendapati “humor tingkat tinggi” yang memerlukan kecerdasan tinggi pula untuk mencernanya. Termasuk dalam humor ini adalah humor politik dan bisnis. Menggunakan humor macam ini jelas tidak akan menyinggung siapa pun.

Nah, masalah ketersinggungan ini juga harus diperhatikan jelas. Humor berbau SARAS jelas menyinggung pihak minoritas. Tertawa yang diakibatkan humor harus berasal dari kelucuan kalimat, bukan ejekan kepada minoritas atau situasi yang dialami orang lain. Inilah bedanya humor Bagito dengan Warkop DKI misalnya. Humor karena situasi konyol yang dibuat-buat sering diistilahkan sebagai “slapstick”.

Menggunakan “slapstick” humor kepada orang lain yang berada dalam situasi tertentu jelas sangat tidak tepat. Termasuk kepada orang yang sedang kena musibah. Bagaimana rasanya bila saat ayah/ibu, suami/istri, anak atau kerabat kita wafat lalu ada yang bercanda di depan jenazah yang sedang disemayamkan, “Wah, sepertinya dosqi meninggalnya senang. Tuh, mulutnya senyum. Udah ketemu bidadari ya? Kenalin dong…” .

Dalam soal tsunami atau bencana lain, mungkin yang bersangkutan belum pernah kena musibah semacam itu, atau minimal melihat dan mengalami langsung. Saya Saudara, berkali-kali melihat dan mengalami langsung. Misalnya sewaktu kerusuhan massal 1998, saya ada di lapangan Saudara, sebagai pimpinan gerakan mahasiswa. Saat mayat-mayat tak utuh yang hangus menghitam dibawa ke RSCM, saya ada di sana Saudara, karena pos komando kami memang di kampus UI Salemba. Saat tsunami Aceh dan Merapi meletus, saya punya kerabat yang berangkat ke maupun ada di lokasi. Jelas saya tak mungkin bercanda soal itu.

Nah, untuk yang bercanda soal bencana itu, saya do’akan semoga Tuhan memberinya “pengalaman” menakjubkan secara langsung. Amin. Kalau sudah dapat “pengalaman” masih juga bercanda, berarti memang tak punya hati nurani.

Karena itu, bila tak mampu melontarkan humor yang “tepat”, please… keep silent.

“Ssst! Diam!”

 

Sumber foto: raplocal.blogger.com.br

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s