The Mechanic – Resensi Film

Tanpa disengaja, dua pekan berturut-turut saya menyaksikan film bertema pembunuh bayaran. Dalam bahasa Inggris, istilah kerap digunakan adalah “assasin”, namun yang lebih “gaya” adalah “hitman”. Aktornya adalah Jason Statham, yang dengan kepala botak dan wajah dinginnya sangat cocok memerankan karakter macam ini. Salah satu filmnya yang paling teringat di benak saya adalah The Transporter (2002). Sayangnya, ia malah tidak terpilih bermain dalam film Hitman (2007). Padahal, saya yang suka memainkan game-nya sudah mengharapkannya.

[spoiler alert!]

Di film buatan 2011 ini, yang merupakan pembuatan ulang (remake) dari film berjudul serupa tahun 1972, Jason Statham berperan sebagai Arthur Bishop. Ia seorang pembunuh bayaran yang sangat ahli. Mampu membunuh dengan berbagai cara. Mulai dari yang terlihat nyata maupun tersamar sehingga terlihat alami atau seperti kecelakaan. Istilah lain muncul untuk “pembunuh bayaran” di sini, yaitu “mechanic”. Ini juga  serupa dengan istilah “cleaner” yang muncul di film Leon: The Professional (1994).

Ia bekerja untuk sebuah perusahaan keamanan bersama mentornya, Harry McKenna (Donald Sutherland). Perusahaan itu sendiri dipimpin oleh seorang bernama Dean Sanderson (Tony Goldwyn). Sampai satu saat, Arthur diperintahkan Dean untuk membunuh Harry. Alasannya, Harry dituduh membocorkan operasi mereka di Cape Town-Afrika Selatan yang menyebabkan lima orang yang ditugaskan semuanya terbunuh. Bahkan, untuk meyakinkan Arthur, Dean menunjukkan adanya transfer masuk ke rekening Harry sebesar US$ 20 juta. Meski sempat bimbang, Arthur melaksanakan penugasan itu secara profesional. Kedoknya adalah perampasan mobil (car jacking) yang gagal. Tindakan kriminal ini memang lazim terjadi di New Orleans, kota tempat perusahaan tersebut berada. Hanya saja, Harry meminta agar dirinya tidak terlihat seperti pengecut, dibuat skenario agar seolah Harry sempat menembakkan pistol hadiah dari seorang Laksamana, namun pistol itu direbut oleh sang perampok dan dengan pistolnya sendiri Harry ditembak.

Kematian Harry membuat putranya Steven McKenna (Ben Foster) yang sudah lama minggat datang kembali. Namun ia hanya mendapati bahwa rekening Harry sudah dikosongkan dan rumahnya pun segera disita oleh bank. Maka, ia meminta “balas budi” dari Arthur yang sudah diajari oleh ayahnya agar juga mengajari dirinya ketrampilan sebagai pembunuh bayaran. Meski tadinya menolak, akhirnya Arthur setuju melatih Steven. Latihan dimulai dengan membeli anjing chihuahua, yang baru kemudian diketahui maksudnya. Selain latihan menembak dan ketrampilan lain termasuk mempelajari buku panduan perusahaan asuransi tentang penyebab kematian, Steven diminta minum kopi dan membaca tiap pagi selama tiga minggu berturut-turut di sebuah cafe.

Ternyata, anjing chihuahua dan kebiasaan minum kopi di cafe itu terkait dengan penugasan pertama Steven untuk membunuh seorang pembunuh bayaran dari perusahaan lain. Tugas yang seharusnya mudah karena tinggal menaruh racun di dalam minuman malah jadi sulit karena Steven memilih cara lain dengan membiarkan dirinya ikut ke rumah orang yang bertubuh besar itu dan mencoba mencekiknya. Tentu saja terjadi perkelahian sengit sebelum kemudian Steven berhasil memenangkannya.

Penugasan berikut adalah membunuh seorang “nabi palsu” bernama Vaughn yang kaya dari mengeruk harta umatnya. Meski berhasil membunuhnya, namun “tidak bersih” karena kecerobohan Steven yang menjatuhkan sekrup saat mereka sedang bersembunyi di balik kaca di dinding. Sebuah aksi keren bisa disaksikan saat mereka berdua berusaha melarikan diri dari para pengawal Vaughn. Termasuk terjun dari gedung dengan menggunakan tali gondola.

Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah karena Dean memutuskan membunuh Arthur. Bersama Steven, mereka menjadi buruan perusahaannya sendiri. Bahkan rumah persembunyian Arthur di pinggir pantai Lousiana terlacak. Saat mereka berdua sedang berupaya melarikan diri dan Arthur menyuruh Steven membawa peralatan di garasi mobil antik classic convertible (saya tidak bisa melihat logo mereknya, kemungkinan Aston Martin) yang sedang dibangunnya sendiri, Steven menemukan pistol ayahnya. Tahulah dia bahwa sang mentor yaitu Arthur sendiri yang membunuh Harry ayahnya.

Maka, sudah bisa diduga Steven mencoba membalas dendam. Ia berupaya membunuh Arthur.  Meski sebelumnya sembari melarikan diri, ia membantu Arthur membunuh Dean, atasannya di perusahaan yang memerintahkan para pembunuh bayaran lain mengakhiri hidup mereka berdua. Saat sedang melakukan hal itulah, Arthur tahu bahwa ia dibohongi Dean karena salah satu dari lima orang pembunuh bayaran yang disebutkan Dean tewas di Afrika Selatan berhasil ditemukan masih hidup. Ini artinya, Harry difitnah. Arthur pun akhirnya membunuh orang ini. Akhir film lumayan meski bisa terbaca, karena mencerminkan kata-kata yang digrafir di pistol milik Harry: “Victory Love Preparation”.

Saya menyukai film beralur cepat ini. Karena selain menyajikan adegan action dan laga yang keren, juga menyajikan detail yang bagus. Ada pengetahuan ala McGyver ditunjukkkan di film ini. Bagi yang mau belajar, ada pelajaran survival yang bisa ditiru. Terutama agar berhati-hati dan selalu mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk. Karena seperti kata yang tertera di pistol pemberian sang Laksamana tadi: “Victory Love Preparation”.

 Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

Iklan

One response to “The Mechanic – Resensi Film

  1. Ping-balik: Resensi-Review oleh Bhayu MH » Blog Archive » The Mechanic·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s