Buried – Resensi Film

Film ini beresiko bagi kesehatan para penderita jantung, claustrophobia (fobia ruang sempit) dan nyctophobia (fobia ruang gelap). Juga bagi yang tidak suka film bertema suspense yang mengandalkan kekuatan script atau mengharapkan film penuh warna atau nuansa action, film ini bukan untuk Anda. Bagi yang mudah bosan, sebaiknya juga menonton film lain saja.

Kenapa begitu banyak peringatan? Ya, karena terus-terang saja, film ini sendiri cukup mengejutkan saya. Sudah ratusan film saya saksikan, namun baru ini yang menggunakan satu aktor saja, dan hanya dia yang terlihat langsung oleh penonton di sepanjang film! Betul! Hanya ada satu aktor sepanjang film! Namun apakah itu membosankan? Tergantung. Bagi saya sih tidak, malah menarik. Tapi bagi tipe “ababil” (ABG labil) ya suka film “seru-seruan”, mungkin ya.

Film ini dimulai dengan kegelapan yang berlangsung selama sekitar 1 menit . Hanya ada suara desahan nafas, itu pun jika didengarkan seksama. Penonton –apalagi di bioskop- mungkin akan mengira ini kerusakan. Kesunyian dipecahkan dengan suara klik beberapa kali, kegelapan diterangkan dengan kerjapan cahaya, lantas disusul muncul sesosok wajah mulai dari mata, hidung, lalu seluruh wajah dan tangan yang menggenggam pemantik api model zippo. Wajah lelaki. Lelaki itu terlihat disumpal mulutnya dengan kain, dan segera terlihat juga diikat kedua tangannya ke depan. Lelaki itu berteriak “Hey!” beberapa kali. Tapi seperti tak ada yang mendengarnya. Tentu saja, karena ia memang sendirian.

Lelaki yang sendirian tersebut adalah  Paul Conroy, seorang supir truk untuk perusahaan kontraktor swasta bernama CRT yang bertugas di Irak (dimainkan dengan baik oleh aktor Ryan Reynolds). Entah bagaimana, ia tiba-tiba mendapati dirinya berada di ruangan gelap dengan mulut disumpal kain dan tangan diikat tali tambang kasar. Setelah berhasil melepaskan kain di mulutnya dan memutuskan tali dengan menggunakan paku yang ada, Paul menyadari ia berada di sebuah kotak terbuat dari kayu bekas peti kemas. Kotak itu bukan kotak biasa, melainkan peti mati! Dengan segera pula Paul menyadari bahwa peti mati itu dikubur di bawah pasir. Artinya, ia dikubur hidup-hidup!

Karena kepanasan, Paul melepas kemejanya dan melemparnya ke arah kaki.beberapa saat kemudian, terdengar suara, ternyata dari telepon genggam seluler yang bergetar. Telepon yang berada di saku baju kiri Paul itu tidak disadari ada di sana, hingga berbunyi. Paul mengambilnya. Di layar tertulis BaqCell, salah satu operator telepon seluler di Irak. Dengan telepon itulah kemudian ia berinteraksi dengan dunia, walau ia kesulitan mengoperasikannya karena menggunakan aksara Arab.

Paul ingat, bahwa ia diberi sebuah nomor darurat. Ia mencoba mengingatnya, tapi ternyata lupa. Ketika ia mencari catatan di dompetnya, isi dompetnya kosong melompong. Maka, panggilan pertama yang dilakukannya adalah menelepon nomor darurat di A.S., karena Paul adalah warga A.S. Sebuah panggilan internasional dengan memencet nomor 001 911, yang kemudian diterima operator di Youngstown, Ohio. Tentu saja operator tersebut kebingungan karena Paul menelepon dari Irak, bahkan terdengar tak percaya.

Setelah upaya menelepon 911 gagal, Paul lantas menelepon istrinya, Linda. Sayangnya, baik telepon rumah maupun telepon genggam selularnya tak diangkat. Ia lantas menelepon informasi dan bertanya nomor telepon FBI. Tapi operator telepon malah menanyakan kantor mana yang hendak dituju. Dengan geram Paul yang meminta mana saja tapi tidak disambungkan akhirnya memilih Chicago. Special Agent Harris yang mengangkat telepon juga menanyainya macam-macam, terutama kronologisnya. Semua prosedur itu, termasuk keraguan sang agen, tentu saja membuat Paul kesal hingga berteriak. Bahkan tiba-tiba telepon terputus karena masalah koneksi yang buruk.

Ia kemudian menelepon tempat kerjanya, CRT yang merupakan kepanjangan Crestin, Roland, and Thomas. Di situ ia malah dilempar-lempar dan ditanya-tanya macam-macam. Tapi saat dihubungkan ke petugas yang berwenang yaitu Alan Davenport yang menjabat Director of Personnel, yang bersangkutan malah tidak di tempat.

Paul kebingungan karena ia kemudian menghadapi birokrasi yang rumit dan aneka pertanyaan konyol. Ia misalnya malah ditanya di mana lokasinya. Padahal jelas ia tidak ingat karena pingsan diserbu gerombolan saat konvoinya berada di Baqubah, provinsi Diyala. Semua temannya tampaknya tewas, dan hanya ia yang dibiarkan hidup. Saat kemudian penculiknya menelepon, barulah ia tahu mereka menghendaki tebusan US$ 5 juta! Paul kebingungan dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Si penculik dengan santai bilang agar Paul meminta ke keluarga atau Kedutaan Besarnya. Ia pun diberi batas waktu hingga jam 9 malam, sekitar tiga jam saja dari waktu saat itu.

Harapan muncul saat ia menelepon Departemen Dalam Negeri (US Department of the State) dimana ia seorang wanita petugas bernama Rebecca Browning ternyata sudah mengetahui “situasi”-nya. Kata ini sempat membuat Paul kesal karena terkesan meremehkan. Nomornya sendiri didapat Paul dari menelepon Donna Mitchell, sahabat istrinya yang sempat juga membuatnya kesal karena lebih mengutamakan akan belanja daripada mencarikan nomor yang dimintanya. Dari Rebecca, ia kemudian dihubungkan dengan Dan Brenner, komandan Grup Penanganan Masalah Sandera. Dari Dan ia memperoleh sejumlah informasi dan harapan bahwa tim mereka sedang mencarinya.

Oleh penculiknya, Paul juga kemudian diminta merekam videonya sendiri dengan HP untuk kemudian disiarkan melalui internet (catatan saya: tidak disebut YouTube! sama sekali, tapi asosiasi penonton akan terbawa ke sana). Tindakan ini membuat pemerintah A.S. “kebakaran jenggot”, info yang didapatnya dari Dan. Ini karena video itu sudah ditonton oleh 74.000 orang dan bahkan sudah disiarkan pula oleh Al-Jazeera. Dari HP itu juga ia dikirimi video oleh penculiknya yang menunjukkan adegan saat sahabatnya Pamela Lutti yang juga diculik ditembak mati.

Dalam keputus-asaan, Paul sempat merekam video berisi wasiat. Di situ penonton tahu ia cuma punya tabungan US$ 700 (sekitar Rp 7juta). Jumlah yang kecil tentunya untuk diwariskan. Paul juga menelepon ibunya yang sudah pikun karena kangen. Ironisnya, sang ibu malah sudah lupa bahwa ia punya anak. Di saat genting itu, Alan Davenport atasannya malah kemudian meneleponnya dan merekam pembicaraan mereka. Alih-alih menolong, CRT malah cuci tangan atas problema Paul! Ia dipecat karena dianggap berselingkuh dengan Pamela Lutti. Alangkah sialnya! Sudah jatuh tertimpa tangga!

Paul juga harus menghadapi kenyataan bahwa baterai HP-nya dengan cepat menurun. Juga tantangan tipisnya oksigen tersisa, ruangan sempit dan tentu saja waktu sempit. Ada beberapa kejutan lain yang membuat nyawa Paul terancam. Namun yang paling mengancam adalah retaknya papan peti mati yang memang cuma terbuat dari kayu bekas peti kemas. Ini mengakibatkan masuknya pasir ke dalam peti. Akankah Paul selamat?

Film ini bukan film pertama yang menggambarkan kengerian perang. Juga bukan film pertama yang berkisah tentang sisi-sisi “War on Terror” yang antara lain berupa invasi A.S. ke Irak yang dimulai sejak 2003, tentu selain invasi ke Afghanistan yang malah dimulai sejak 2001. Sudah ada beberapa film. Yang pro invasi A.S. seperti The Heart Locker atau The Kingdom. Sementara yang anti perang dan tidak setuju invasi A.S. seperti Fahrenheit 9/11.

Kejanggalan, tapi bukan kesalahan shooting (bloopers). Ruangan terlihat cukup luas saat kamera melakukan zoom out ke atas tubuh Paul sehingga ia terlihat telentang. Saya jadi ngeh ini cuma film. Ditambah lagi, dengan ruangan yang digambarkan cuma seukuran peti mati tersebut –sekitar 2 meter X 0,5 meter- Paul terlihat cukpu leluasa bergerak. Bahkan ia bisa memutar badannya dari sisi atas tempat kepalanya berada ke sisi bawah di kakinya. Coba saja sendiri, hal itu sangat sulit bahkan hampir mustahil. Tapi Paul bisa melakukannya, bahkan dua kali: saat ia harus menjangkau peti di bagian kakinya dan kemudian berbalik lagi beberapa waktu kemudian saat harus menjangkau HP-nya yang terlempar saat ia berupaya mengusir ular yang masuk ke peti.

Secara umum, saya menganggap film ini layak tonton, dengan pengecualian bagi mereka yang masuk kategori seperti saya sebut di awal tulisan. Hanya saja, siapkan camilan memadai karena film ini menyesakkan dada. Walau tentu saja memberi kita perspektif baru tentang makna hidup dan kehidupan.

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

One response to “Buried – Resensi Film

  1. Ping-balik: Resensi-Review oleh Bhayu MH » Blog Archive » Buried·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s