Mempahlawankan Obama

Usai sudah kunjungan kenegaraan singkat Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama di Indonesia. Meski amat singkat, bahkan kurang dari 24 jam -tepatnya 19 jam- saja, persiapan Indonesia selaku tuan rumah terbilang luar biasa. Dari segi pengamanan terutama, gabungan aparat keamanan TNI dan Polri mencapai tak kurang dari 13.000 personel. Perinciannya adalah 8.000 personel dari kepolisian dan sekitar 5.000 dari TNI,  ditambah 20 personel dari satuan penanggulangan teroris, 38 personel dari Pasukan Pengamanan Presiden, dan 409 aparat dari pasukan pengamanan dalam. Gelar pasukan itu belum termasuk pengerahan peralatan tempur seperti panser APC (Armoured Personnel Carrier) dan Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) yang digelar di dalam dan sekitar kampus Universitas Indonesia, Depok. Tentu saja juga termasuk dua pesawat F-16 A/B Fighting Falcon yang sesuai protokoler akan mengawal pesawat Air Force One yang ditumpangi sang Presiden A.S.  selama berada di wilayah udara Indonesia.

Sudah begitu banyak gelar pasukan kita sebagai tuan rumah, A.S. masih juga tak percaya. Mereka membawa ratusan petugas Secret Service (S.S.), dinas rahasia pengawal kepresidenan A.S. Bahkan mobil limousine Cadillac khusus milik Presiden A.S. itu juga dibawa serta, tentu dengan mengesampingkan Mercedes kepresiden yang kita punya.

Pengamanan luar biasa ketat itu berdampak negatif pada warga. Kemacetan terjadi di mana-mana selama 19 jam kunjungan itu. Karena sterilisasi oleh aparat bahkan lebih hebat daripada terhadap presiden sendiri. Wartawan pun kena imbas tidak bebas meliput. Hampir semua foto Obama dalam kunjungan di Indonesia dibuat oleh fotografer asing. Aneh sekali. Kita sepert dijajah kembali. Tak merdeka di negeri sendiri.

Semua itu seakan melengkapi ke-“gumun”-an kita kepada sosok “Barry”, sebagai pribadi yang dianggap mewakili Indonesia cuma gara-gara sempat tinggal di sini sewaktu kecil. Kita mempahlawankan Obama, seakan beliau telah berjasa amat besar bagi negeri ini. Sementara sosok yang benar-benar berjasa ditolak karena alasan yang tidak adil. Sebutlah Soeharto. Coba saja, apa sih jasa Obama pada kita? Jelas jasa Soeharto lebih besar. Tapi hanya karena beberapa cacat di antaranya tindakan yang dianggap melanggar HAM maka Soeharto dianggap penjahat. (Ingat, kita harus berlaku adil sesuai tuntunan agama. Walau saya adalah salah satu pemimpin gerakan mahasiswa U.I. saat reformasi, jasa-jasa Soeharto pada Indonesia jelas lebih besar daripada Obama kan?).

Obama bahkan dibuatkan patung khusus yang sempat diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada 10 Desember 2009 di Taman Menteng-Jakarta Pusat. Pembuatan patung itu digagas oleh kelompok bernama “Friends of Obama” yang dipimpin Ron Mullers dengan biaya tak kurang dari Rp 100 juta. Setelah diprotes keras oleh berbagai kalangan, akhirnya patung itu dipindahkan ke SDN 01 Besuki-Menteng, tempat ia pernah bersekolah. Patung itu dicopot dari Taman Menteng pada 14 Februari 2010 dan dipasang kembali di SDN 01 Besuki-Menteng pada 21 Februari 2010. Hingga kini patung itu aman di sana.

Boleh-boleh saja kita menganggap Obama inspiratif. Perjuangannya seperti dituliskan di bukunya The Audacity of Hope boleh ditiru siapa saja yang ingin membaktikan diri pada negara. Namun rasanya berlebihan mempahlawankan Obama begitu rupa seperti membuatkan patung untuknya. Apalagi kunjungan kenegaraan amat singkatnya ke tempat yang disebutnya sebagai “bagian dari diri saya” itu dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan. Namun justru kunjungannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dibatalkan dan ia langsung bertolak ke KTT G-20 di Seoul-Korea Selatan lebih cepat 2 jam dari jadwal semula.

Meski ada harapan-harapan terhadap kerjasama “Kemitraan Komprehensif RI-AS” yang ditandatangani dalam kunjungan ini, namun kita tidak boleh terlalu mempahlawankan beliau karena pada dasarnya sebagai Presiden A.S. ia terikat pada kebijakan negara yang merupakan hasil negosiasi antar dua partai di sana, yaitu Demokrat dan Republik. Obama juga bukan sosok malaikat yang tak pernah salah atau figur “Ratu Adil”. Karena itu mempahlawankan Obama justru terasa seperti “mimpi di siang bolong”, berharap ada “Superman” yang menyelamatkan bangsa kita dari kesulitan.

Tidak! Kita harus menyelamatkan diri sendiri. Tuhan tidak cuma memberkati Amerika dengan seruan “God bless America” saja. Tapi Tuhan juga memberkati Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s