RED – Resensi Film

Menyaksikan film ini seperti menyaksikan kebangkitan kembali bintang-bintang film gaek. Rasanya seru, seperti saat menonton The Expendables (resensi baca di sini). Apalagi jalan ceritanya asik, ditambah humor yang kental, plus tembak-tembakan jedar-jeder, ditanggung puas menyaksikannya.

Buat yang belum tahu, film bergenre action-comedy ini aslinya komik (graphic novel). Makanya di awal film ada credit title DC-Comics selaku pemegang hak cipta. Di Indonesia komik yang ditulis oleh Warren Ellis dan ilustrasi oleh Cully Hamner ini memang tidak begitu ngetop. Namun, versi filmnya justru lebih segar daripada versi komik yang gelap. Robert Schwentke sang sutradara-lah yang membuatnya enak ditonton.

RED sendiri adalah singkatan dari Retired-Extremely Dangerous. Ini tentu saja akronim rekaan saja, untuk menggambarkan para agen CIA yang sudah pensiun, tapi karena pengalaman dan keahliannya masih dianggap berbahaya. Saking berbahayanya malah mereka menjadi sasaran pembunuhan dari  agensi yang pernah dibelanya. Agen yang terutama dilabeli RED adalah Frank Moses, diperankan dengan apik oleh aktor kharismatik Bruce Willis.

[spoiler alert!]

Di awal film, Moses yang sudah pensiun dengan iseng dan nakal terus-menerus menelepon petugas pembayaran pensiunnya, seorang wanita bernama Sarah  Ross (Mary Louise Parker). Dengan alasan cek pensiunnya belum datang, padahal Moses dengan sengaja merobeknya hanya agar ada alasan menelepon Sarah.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi tim special-ops berpakaian pasukan khusus serba hitam saat ia sedang ke kamar mandi. Mereka ditugasi membunuh Moses. Namun alih-alih berhasil, justru semua anggota tim itu justru berhasil dibunuh Moses. Saat inilah, bagi yang belum membaca resensi film seperti saya, akan mulai heran, kok bisa ‘orang biasa’ seperti Moses membunuh pasukan khusus.

Moses lalu langsung menuju Kansas, kota tempat Sarah berada. Ia mengajak gadis itu pergi, karena ia telah 22 kali meneleponnya dan menurut Moses itu pasti diketahui agensi dan membuat keselamatan Sarah terancam. Saat Sarah malah marah dan melemparinya, Moses memutuskan menculiknya. Ia lalu menuju New Orleans, untuk menemui mentornya yang bijak –dan tentu juga sudah pensiun-, yaitu Joe Matheson (Morgan Freeman). Joe ini juga kebingungan menghabiskan masa pensiun, padahal ia sudah jadi agen sejak Perang Vietnam! Malah ia sengaja merusak TV agar mendapatkan bantuan dari petugas perawat panti jompo tempat tinggal, semata demi bisa duduk di kursi melihat perawat itu membelakanginya dan menikmati pantatnya. Si perawat tak marah dan hanya geleng-geleng kepala karena menganggap itu “kenakalan kakek tua” saja.  Maka, saat Moses datang, Joe justru senang dan setuju membantunya.

Tapi pertemuan mereka terlacak karena Sarah berhasil meloloskan diri dari sekapan Moses di motel, saat Moses sedang menemui Joe di panti jompo. Moses berhasil melumpuhkan agen CIA yang menyamar sebagai polisi dan berniat menahan Sarah, lantas dengan menggunakan mobil polisi mereka kabur dan dikejar-kejar agen-agen lain di kawasan French Quarter. Tentu saja mereka berhasil lolos dengan cerdik. Moses menggunakan radio polisi memberitakan ada polisi yang tertembak dan justru melaporkan mobil agen CIA yang mengejarnya sebagai tersangka. Maka, jadilah si agen bernama William Cooper (Karl Urban) terjebak karena dikepung polisi.

Cooper lantas bertanya pada atasannya, siapa sebenarnya Moses. Karena data yang diberikan padanya sebelumnya mengatakan Moses hanyalah seorang analis tanpa pengalaman lapangan. Atasannya yang mengatakan bahwa operasi memburu Moses adalah resmi operasi CIA. Sang atasan lantas merujuknya ke ruang data yang sangat rahasia dan berlapis baja tebal, terletak di lantai bawah tanah Markas Besar CIA di Langley, Virginia. Di ruangan itu ia disambut petugas arsip yang sudah tua, yang selain memberikan data dalam map bertuliskan “Ultra Top Secret” yang jauh lebih tebal daripada yang pernah diberikan atasan Cooper, juga menerangkan dengan bangga bahwa Moses adalah agen lapangan (NOC) CIA terbaik yang pernah ada. Dari si penjaga arsip ini pula didapat arti akronim “RED”.

Adegan-adegan selanjutnya berkisar pada upaya Moses ‘ngelumpuke balung pisah’-mengumpulkan anggota tim yang terpencar. Mereka bertiga –bersama Sarah yang diculik namun mulai menyukai petualangan- menuju ke Pensacola, Florida untuk menemui seorang mantan agen lain yang dihinggapi penyakit paranoid, Marvin (John Malkovich). Setelah berhasil mengajak Marvin bergabung, mereka menemui Victoria (Hellen Miller) di Chesapeake, Maryland dengan jalan darat melalui Mobile, Alabama.

Mereka berlima kemudian menyadari bahwa semua yang ada dalam tim masuk daftar reporter New York Times yang juga sudah tewas terbunuh. Dari tangan ibu sang reporter, Sarah yang berpura-pura sebagai rekannya berhasil mendapatkan sebuah nomor, yang ternyata nomor buku di perpustakaan New York University yang besar. Di dalam buku itu mereka berhasil mendapatkan daftar lain yang kemudian mereka cocokkan. Ternyata ada satu nama yang belum mati selain mereka berempat, yaitu Gabriel Singer. Mereka lantas menuju Chicago dan berusaha menemui Singer. Singer mengungkapkan bahwa mereka menjadi sasaran karena semuanya bertugas di Guatemala dan mengetahui aksi jahat di sebuah desa di mana pasukan A.S. membantai seluruh warga desa yang sipil dan tak berdosa. Perintah itu ternyata datang dari seorang pimpinan pasukan yang saat itu menjadi Wakil Presiden A.S. Saat itulah Marvin menyadari ada helikopter bernomor sama yang sudah mengintai mereka sejak masih di rumah Marvin di Pensacola. Dan ternyata benar, Gabriel tewas ditembaki dari helikopter itu.

Moses lalu menemui seorang mantan agen KGB Uni Sovyet yang kini sudah menjadi atase pertahanan Rusia di A.S. Ia dengan nekat memasuki Kedutaan Besar Rusia dan ditangkap untuk dihadapkan kepada Ivan Simanov (Brian Cox). Ivan setuju membantu dengan syarat yang baru akan kita temui di akhir film. Dari Ivan inilah justru Moses mendapatkan bantuan untuk memasuki Markas Besar CIA di Langley, Virginia. Sangat ironis, mantan agen CIA menyusup ke bekas markasnya sendiri dengan bantuan mantan musuhnya!

Samaran Moses adalah seorang jenderal bintang satu Angkatan Darat, yang ditemani seorang ahli nuklir yang diperankan Sarah. Mereka pun menemui petugas arsip tua yang gembira menyambut Moses kembali. Ia selain memberikan data tentang Guatemala, juga memberikan informasi bahwa seorang agen muda –Cooper- sehari sebelumnya telah datang meminta data tentang Moses.

Setelah berhasil mendapatkan data, mereka sadar Alexander Dunning (Richard Dreyfuss) tidak termasuk dalam daftar yang akan dibunuh, setelah mencocokkan data yang dipublikasikan didapatkan oleh reporter yang tewas dan data yang diselipkan dalam buku. Ia adalah seorang CEO dari perusahaan produsen alat pertahanan (defense contractor). Maka, mereka pun dengan menyamar menemui Dunning. Joe menyamar sebagai jenderal dari negara Afrika yang diembargo PBB dan berniat membeli senjata gelap, sementara Moses dan Marvin sebagai pengawalnya, Victoria dan Sarah sebagai sniper di luar yang mengawasi keadaan.  Dari Dunning mereka mengetahui banyak detail baru, dimana ia mengakui memang dilindungi oleh pemerintah A.S. Saat mereka sedang menginterogasi Dunning, informasi datang dari Victoria via Handy Talky, ternyata villa tempat pertemuan mereka ternyata sudah diawasi FBI dan CIA. Mereka dikepung, sehingga saat mereka hendak kabur harus ada pengalihan. Dan pengalihannya adalah Joe yang berganti pakaian seperti Moses keluar lewat pintu depan sementara yang lain lewat samping dan lari ke hutan. Sayangnya, untuk itu Joe harus mengorbankan nyawanya karena sengaja ditembak Victoria. Ivan kemudian menyelamatkan mereka, meski sayangnya Sarah tertangkap karena tergelincir di salju.

Moses dan timnya kemudian memutuskan menyerbu dan menculik Wakil Presiden A.S.. Di sini adegan tembak-menembak antara tim RED dengan CIA dan Secret Service (SS) berlangsung seru dan lucu sekaligus. Konflik terus-terjadi hingga akhir film, karena Moses yang berhasil menculik Wakil Presiden meminta pertukaran dengan Sarah yang ditangkap CIA. Ending-nya seru dan mengejutkan, meski agak klise. Jelas dong, ini film “jagoan pasti menang” kok.

Banyak hal menarik perhatian saya di film ini. Antara lain penggunaan setting berbagai kota. Karena itu adegan perpindahan antar-kota disekat dengan ‘post-card’ bergambar kota yang kemudian jadi ‘hidup’ dan ‘bergerak’ sebagai adegan film. Sangat komik!

Adegan tembak-menembaknya juga menampilkan aneka senjata yang keren. Tidak cuma senapan serbu AR-15 yang dipergunakan special-ops CIA,bahkan senapan rantai (chain gun) berkaliber .50 pun muncul! Uniknya, senapan yang bisa membolongi tank ini dipergunakan oleh nenek tua Victoria! Bahkan Marvin mengeluarkan senapan pelontar granat –tampaknya sejenis M-4- dari dalam boneka babi warna pink lucu yang dibawanya melewati sensor bandara. Agak subyektif, saya tergelak karena teringat “Super Pignata” di game Mafia Wars!

Meski begitu, jelas ada kelemahan. Misalnya saja adegan saat Ivan meledakkan mobil limousine dinas Wakil Presiden A.S. yang kedua, karena yang pertama sudah diberondong Victoria dengan senapan rantai-nya. Saya bingung, kapan pasang bomnya ya? Juga saat Victoria ternyata mengikatkan senapan rantainya dengan tali agar terus menembak, sementara ia sendiri pergi, jelas mustahil di dunia nyata. Kenapa? Karena dengan kalibernya yang besar, mustinya mobil yang ditembaki -dimana di baliknya Wakil Presiden dan pengawal SS-nya berlindung- sudah meledak. Tapi ini tidak.

Sementara para kritikus luar negeri mengatakan, film ini terlalu mengandalkan kekuatan acting para aktor senior yang bermain dan justru kurang mengeksplorasi karakter. Tapi bagi saya, ini cukup. Setidaknya bisa menyegarkan akhir pekan dengan banyak tawa. Bagi yang ingin hiburan segar, film ini jelas sangat layak untuk ditonton. Begitu layaknya hingga saat ending film dikatakan akan ada operasi di Moldovia –sebagaimana janji Moses kepada Ivan-, saya berharap film ini dibuat sequel-nya.

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

2 responses to “RED – Resensi Film

  1. I luv ths movie, kocak, tegang, dan penuh aksi. Menghibur deh…a must see movie. Apalagi dengan jaminan aktor gaek sekaliber Bruce Willis dan Morgan freeman.

  2. Ping-balik: Resensi-Review oleh Bhayu MH » Blog Archive » RED·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s