Citius, Altius, Fortius

Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Begitulah arti dari semboyan dunia olahraga yang dijadikan motto atau semboyan olimpiade itu.

Dalam dunia di luar olahraga, berkiprah di dunia apa pun kita dalam hidup, semboyan itu juga seharusnya diterapkan. Misalnya saja dalam pekerjaan sebagai pegawai.

Kita harus membuktikan diri sebagai yang lebih cepat. Artinya kita tidak sekedar lebih cepat datang di kantor saja, tapi terutama harus lebih cepat menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas yang diberikan atasan. Namun harus diingat, jangan sampai menjadi yang paling cepat pulang kantor, karena untuk yang ini justru harus jadi yang paling lambat bila memang diperlukan (atau bisa dibaca: bersedia memprioritaskan tugas dengan menomorsatukan waktu untuk perusahaan).

Kita harus membuktikan diri sebagai yang lebih tinggi. Bukan masalah tinggi badan, tapi lebih tinggi dalam hal pencapaian prestasi. Dalam hal ini mencapai standar melebihi atau melampaui harapan pemberi pekerjaan (beyond expectation) adalah sebuah keharusan. Bila diminta satu, berikan dua.

Kita juga harus membuktikan diri sebagai yang paling kuat. Bukan juga ukuran fisik, tapi justru lebih banyak urusan mental. Karena di pekerjaan banyak sekali hal-hal terkait urusan “politik kantor”. Saya kerapkali menjumpai pegawai kompeten namun mentalnya lemah. Kuat di sini termasuk kuat menghadapi tekanan dari atasan untuk menyelesaikan tugas sesuai tenggat.

Sebelum melanjutkan membaca, saya ingatkan dahulu bahwa ada unsur pribadi dalam bagian berikut postingan ini. Bagi yang tidak suka membaca postingan model “curcol”, maka saya sarankan tidak meneruskan (curcol alert!). Namun izinkan saya membagi kebahagiaan ini dengan Anda semua.

Kemarin, saya begitu bersyukur dan bangga saya saat menerima kabar gembira dari pasangan saya bertubi-tubi. Pertama, visanya untuk mengikuti konferensi internasional dikabulkan kedutaan negara bersangkutan. Padahal, negara itu terkenal sulit dimasuki orang asing. Sebagai gambaran, kantor adik pasangan saya -yang berpusat di luar negeri- pernah untuk satu keperluan hendak memberangkatkan 20 orang, namun ditolak masuk negara tersebut, tentu dengan tidak menerbitkan visanya. Khusus untuk pasangan saya, kepergian keluar negeri ini memecahkan rekor di perusahaannya karena ada kelaziman bahwa yang bisa diberangkatkan untuk suatu keperluan atau tugas ke luar negeri harus sudah bekerja minimal 3 tahun. Sementara yang bersangkutan baru 2 tahun lebih sedikit di sana. Oh ya, perusahaan tempatnya bekerja bukan perusahaan kecil lho, jadi prosedur birokrasinya pasti lebih ribet…

Kedua, di sore hari sepulang dari mengambil visa, pasangan saya dipanggil atasannya dan diberitahu bahwa ia kembali naik jabatan. Ini berarti promosi jabatan kedua kalinya dalam rentang waktu kurang dari enam bulan. Ini pun memecahkan rekor di perusahaan tersebut. Selain menjadi orang tercepat dan tersering mendapatkan promosi, juga menjadi orang termuda yang menduduki jabatan setingkat itu.

Saya cuma bisa mengucapkan Alhamdulillahirabil’alamin. Ini adalah buah dari menerapkan prinsip menjadi pribadi yang “Citius, Altius, Fortius” dalam pekerjaan dan hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s