Mendengarkan Tuhan

Tuhan bicara dengan banyak cara. Tapi sudahkah kita mencoba mendengarkan?

Seringkali kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, sehingga tak sempat lagi berhenti, mencoba mendengarkan-Nya.

Seringkali malah kita justru terlalu sibuk bicara, meminta ini-itu kepada Tuhan, sehingga tak lagi mendengarkan-Nya.

Saya sendiri bingung, kenapa begitu banyak orang menyebut-nyebut Tuhan dalam keseharian, sementara pikiran, ucapan juga tindakan mereka sangat jauh dari-Nya. Di kala kita mencoba mengekspresikan diri dengan membawa perilaku yang terasa sudah mencerminkan suara Tuhan, namun seringkali tindakan itu justru merupakan penolakan mendengarkan suara Tuhan.

Kita gemar mengatasnamakan Tuhan, tapi tak pernah bertanya pada diri sendiri: benarkah Tuhan perlu diatasnamakan? Dan terlebih lagi, benarkah memang kita mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan tindakan atas namanya?

Saya sendiri bukanlah orang yang senantiasa mampu mendengarkan suara Tuhan. Akan tetapi, setidaknya saya mencoba mengerem untuk tidak bertindak atas nama Tuhan.

Tetapi di negeri ini, sepertinya nama Tuhan sudah menjadi murah. Para pejabat yang ketika dilantik menyebut nama Tuhan, saat menjabat malah lupa pada larangan Tuhan. Misalnya untuk tidak mencuri, di sini termasuk pula korupsi.

Tentu saja, Tuhan tetap saja Maha Kaya. Tidak berkurang sedikit pun kekuasaan Tuhan karena tingkah orang-orang macam ini. Akan tetapi, herannya, mereka yang mengaku mewakili Tuhan dengan berbagai lembaga bercorak keagamaan justru menyibukkan diri dengan agenda internal, tanpa pernah peduli kondisi nyata terutama di kalangan masyarakat marginal. Ibadah pribadi lebih digenjot ketimbang muamalah. Tak heran di negeri ini masih banyak sekali orang miskin padahal jumlah orang kayanya tak sedikit.

Bagi pemimpin negara, mendengarkan Tuhan sebenarnya dapat juga dilakukan dengan mendengarkan suara rakyat. Fox populli vox dei kata adagium terkenal itu. Meski inilah kelemahan demokrasi, karena suara terbanyak bukan berarti yang terbaik, namun inilah keinginan mayoritas.

Dan paradoks pun kerap terjadi.

Tak jarang kebenaran dan suara Tuhan justru terdapat dalam suara kaum minoritas. Karena kerapkali mereka inilah kaum marginal yang terpinggirkan. Dan kepada merekalah Tuhan berpihak daripada mayoritas yang sudah menikmati kehidupan.

Maka, untuk mendengarkan di sisi mana Tuhan berpihak, kita harus terus mengasah nurani. Agar mampu mendengarkan suara Tuhan dengan lebih jernih. Tanpa distorsi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s