Ketika Ramadhan Usai

Sore ini, begitu bedug dan azan Maghrib berkumandang, Ramadhan 1431 H. berakhir. Banyak yang bergembira, terutama mereka yang merasa tersiksa harus menahan lapar, haus dan hawa nafsu selama satu bulan. Mereka yang puasanya termasuk kategori awam. Sementara, mereka yang puasanya sudah masuk kategori khowas bil khowas niscaya akan bersedih. Selaras dengan menangisnya langit, bumi dan seisinya selain manusia terhadap perginya bulan mulia ini. Semua ini digambarkan dalam hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan dari Jabir r.a.:

“Jika malam Ramadhan berakhir, seluruh makhluk-makhluk besar, di segenap langit, dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana yang menimpa umat Muhammad saw. Para sahabat bertanya, bencana apakah ya Rasul? Jawab Nabi. Kepergian bulan Ramadhan. Sebab di dalam bulan Ramadhan segala doa terkabulkan. Semua sedekah diterima. Dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara di hapus.”

Padahal, banyak di antara kita yang justru senang Ramadhan berakhir. Senang karena ‘penyiksaan’ dengan lapar dan haus tak harus lagi kita lakoni. Senang karena besok adalah saat bersenang-senang. Senang karena kita bisa kembali melakukan banyak hal yang dilarang selama Ramadhan. Senang karena mendapatkan baju baru. Senang karena banyak makanan enak. De-es-be. De-el-el. De-ka-ka.

Di sinilah kita kemudian seyogyanya bercermin, sudah sampai manakah tingkat keimanan kita? Apakah seperti para wali yang menangis ketika Ramadhan usai, atau malah merasa bebas karena 11 bulan berikutnya bisa kembali ke kebiasaan lama?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s