The Sorcerer’s Apprentice – Resensi Film

Menonton film ini nyaris tak ada sesuatu bisa dibawa pulang. Jadi, sedari awal benar-benar siapkan diri cuma untuk menikmati film ala anak-anak. Tak heran, karena film ini memang buatan Disney. Paling tidak, film ini menghibur dengan ceritanya yang ringan, sejumlah efek khusus yang menarik dan tentu saja banyak selipan humor yang membuat tertawa lepas.

Kisahnya sederhana saja, penuh kebetulan. Namun masih enak dilihat dan cukup menghibur.

Di awal film dikisahkan Merlin, seorang penyihir legendaris rekan kepercayaan King Arthur, dikalahkan oleh Morgana Le Fay pada tahun 740. Tapi ia sempat memberikan cincin naganya kepada muridnya, Balthazar Blake seraya berpesan agar ia mencari “Prime Merlinean” yang akan dapat mengalahkan Morgana.

Di tahun 2000, seorang anak seusia SD bernama Dave Stutler yang agak dikucilkan teman-temannya karena “nerd” tiba-tiba terpisah dari rombongan. Penyebabnya sepele, ia mengejar kertas yang ditulisi seorang murid wanita bernama Becky Barnes yang ditaksirnya, berisi jawaban pertanyaan “nembak”-nya. Ia lalu secara tak sengaja masuk ke toko barang antik dan “kebetulan” bertemu penjaganya yang ternyata adalah Balthazar Blake. Ia ternyata adalah seorang penyihir. Dan Dave pun ternyata seorang penyihir. Ini dibuktikan oleh Balthazar dengan memberikan patung kecil berwujud naga bersayap kepada Dave. Di tangan si bocah, patung itu hidup, menggeliat, lalu melingkarkan diri di jari Dave dalam bentuk cincin.

Menyadari “kebetulan” itu, Balthazar lantas mengatakan kepada bocah itu bahwa dialah “Prime Merlinean” yang selama itu dicarinya. Dave tak tahu bahwa Balthazar ini adalah penyihir besar, salah satu dari tiga murid Merlin yang sudah berusia 1.400 tahun. Ia juga tak tahu cincin itu berkekuatan besar sehingga iseng menggerak-gerakkan tangannya. Ternyata, dengan gerakan tangan itu ia menjebol tembok di sampingnya dan dari dalamnya terlempar keluar boneka berlapis ala Rusia yang disebut Grimhold. Ternyata di dalam boneka itulah Morgana dan para pengikutnya dipenjara oleh Balthazar. Dan karena lapisan terluar boneka lepas, maka keluarlah pula penghuninya yaitu Horvath.

Balthazar yang sedang mengambil buku mantra untuk Dave terkejut, dan lantas bertarung dengan Maxim Horvath. Keduanya lantas terjebak masuk ke dalam sebuah guci antik. Dave yang kebingungan dan ketakutan lari terbirit-birit keluar toko. Dan di sana ia mendapati guru dan teman-temannya tengah menunggunya. Dave pun mengadukan kejadian yang menimpanya, tapi saat gurunya membuka pintu toko yang tadi berantakan karena perkelahian Balthazar versus Horvath, ternyata tidak ada apa-apa. Ia pun ditertawakan teman-temannya dan kemudian harus berobat ke psikiater.

10 tahun kemudian, tahun 2010, Balthazar dan Horvath akhirnya bisa keluar dari dalam guci. Keduanya lantas berlomba mencari Dave, yang sekarang sudah menjadi mahasiswa fisika di NYU (New York University). Tujuannya untuk mencari keberadaan Grimhold tadi. Karena di dalamnya ternyata terpenjara juga tokoh-tokoh lain dari aliran Morganian, termasuk sang master sendiri, yaitu Morgana yang merasuk ke dalam tubuh Veronica. Ternyata Veronica inilah sumber pengkhianatan Horvath yang membelot ke Morgana. Karena mereka ternyata terlibat cinta segitiga, namun Veronica lebih memilih Balthazar. Jadi, mereka bertiga itulah murid langsung Merlin.

Di masa sekarang, Dave yang sudah menjadi asisten dosen secara “kebetulan” lagi bertemu dengan Becky yang mengikuti kuliahnya. Dan tak dinyana, Becky ternyata mau kembali menjalin hubungan dengan Dave. Terutama setelah Dave menunjukkan bagaimana dirinya yang seorang fisikawan serius mampu memahami minat musik Becky yang bekerja sebagai penyiar radio kampus. Dengan koil tesla raksasanya, ia membuat musik kesukaan Becky. Dan tentu saja, dengan mudahnya Becky jatuh cinta.

Jatuh cinta buat seorang pemuda kutu buku ternyata menimbulkan masalah. Balthazar yang berusaha melatih Dave ilmu sihir guna menghadapi kebangkitan Morgana yang dapat berbahaya bagi dunia nyaris dibuat putus asa. Tapi tenang saja… film ini pastinya “happy ending”. Wong buatan Disney jee (yang terkenal dengan adagiumnya “and they life happily ever after”). Selamat menikmati.🙂

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

One response to “The Sorcerer’s Apprentice – Resensi Film

  1. Ping-balik: Resensi-Review oleh Bhayu MH » Blog Archive » The Sorcerer’s Apprentice·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s