Sopan-Santun Yang Lebih Muda

Hari Jum’at lalu, saat shalat Jum’at saya mendengarkan khotbah yang sempat menyinggung soal cara bertingkah-laku anak-anak sekarang. Sang khotib intinya menyoroti betapa anak-anak generasi sekarang sudah kurang sopan-santunnya kepada orangtua. Orangtua dianggap teman sehingga tak dihormati. Padahal, dalam Islam hal itu termasuk dalam akhlak yang harus dipelihara.

Orangtua (dengan dua suku kata disambung) dan orang tua (dua suku kata dipisah) dua-duanya harus dihormati. Yang pertama adalah ayah-ibu kandung yang melahirkan kita. Sementara yang kedua adalah mereka yang berusia tua atau lebih tua daripada kita. Tentu  secara proporsional.

Saya sendiri tidak terlahir dari keluarga agamis, malah abangan, meski paman atau sepupu saya ada yang santri. Dan karena itu penghormatan seperti cium tangan tidak ada dalam tradisi keluarga saya. Saya juga hampir tidak pernah mencium tangan orang lain, kecuali guru spiritual atau mentor bisnis saya. Bahkan tidak kepada orangtua karena memang tidak dibiasakan dari kecil. Namun saya konsisten, saya pun tak mau dicium tangan saya, padahal secara posisi dalam keluarga besar ada saja yang senantiasa berusaha mencium tangan saya bila bertemu. Saya menganggap penghormatan macam itu berlebihan. Namun saya tetap menghormati siapa pun secara proporsional meski tanpa mencium tangan yang bersangkutan (maaf kalau jadi teringat foto Anas Urbaningrum yang saya muat sebagai ilustrasi di atas, terserah Anda bagaimana mengartikannya).

Saya baru saja mengalami satu kejadian menyebalkan saat sedang online di FaceBook semalam. Seseorang  yang tidak saya kenal di dunia nyata menyapa saya dengan agak kurang sopan. Setelah saya lihat profilnya, kira-kira usianya masih setara pelajar SMA. Kurang sopannya itu antara lain menyapa saya dengan kata ganti orang kedua “kamu”. Padahal, kalau saja pelajaran bahasa Indonesianya dapat nilai bagus, ia tidak akan melakukan itu karena “kamu” berkonotasi merendahkan. Minimal kita memanggil orang lain “Anda”. Kalau mau lebih hormat  dan akrab bisa “Mas” atau “Mbak”, “Abang” atau “Kak”, atau yang hormat tapi berjarak “Pak” atau “Bu”. Jangan pula memanggil atau menyapa dengan “Saudara/i” karena sama saja berkonotasi memposisikan orang kedua lawan bicara lebih rendah daripada kita. Sudah begitu ia menyapa saya tanpa melihat profil saya terlebih dulu sehingga sangat keliru memposisikan diri dalam bertanya. Misalnya ia tidak tahu apa itu arti “owner” vis a vis “employee” dan menganggap dirinya sejajar -atau kalau istilah khotib tadi “menganggap teman”- dengan saya. Memang, dunia internet memungkinkan seseorang tampil anonim, tapi mustinya tidak dengan FaceBook bukan? Justru situs jejaring sosial itu tengah menghadapi sorotan terutama di A.S. karena terlalu mengumbar data privasi penggunanya dengan mudah. Jadi, mustinya justru kesalahan pemosisian diri itu tidak terjadi karena data saya bisa dilihat dengan mudah, tidak anonim.

Namun sebagai owner biro konsultasi pengembangan SDM & psikologi, saya tahu bahwa perkembangan anak tergantung bagaimana ia diarahkan. Kalau orangtuanya mengarahkan dengan benar, kejadian seperti yang saya alami itu tidak akan terjadi. Maka, hati-hatilah mengarahkan anak-anak Anda. Karena seperti sabda Nabi Muhammad S.A.W., anak -anak itu ibarat kertas putih, orangtuanyalah yang akan menentukan akan ditulisi atau digambari apa kertas itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s