Alangkah Lucunya Negeri Ini – Resensi Film

Deddy Mizwar kembali menunjukkan kegelisahannya pada kondisi bangsa ini. Setelah Naga Bonar Jadi 2 yang mengulang fenomena Naga Bonar, kali ini Deddy mengusung Alangkah Lucunya Negeri Ini. Sama seperti dwilogi Naga Bonar, film ini bergenre komedi satir. Dengan begitu, penonton diajak merenung di balik banyolan yang ditampilkan.

[spoiler alert!]

Kisah diawali dengan lulusan sarjana manajemen bernama Muluk yang sedang sibuk mencari kerja pasca lulus kuliah. Berbagai tempat di iklan lowongan didatangi, namun tanpa hasil. Adegan menarik ini sudah memikat sejak awal, terutama saat ironi ditampilkan saat Muluk mendatangi kantor yang justru sedang tutup dan barang-barangnya diangkuti debt collector. Sang direktur yang diperankan Robby Tumewu justru mengejek gelar sarjana manajemen Muluk. Karena menurutnya ia sudah menerapkan segala teori manajemen -seraya menunjukkan buku-buku manajemen impor yang tebal-tebal- tapi gagal menyelamatkan perusahaan tersebut. Lalu pada hari yang berlainan, masih dengan penampilan khas pencari kerja di film Indonesia – membawa satu map berkas lamaran – Muluk sampai di alamat sebuah Perusahaan, tetapi di gerbangnya tertempel tulisan besar-besar “Pabrik pindah ke Vietnam.”

Di rumahnya, Pak Makbul -ayah Muluk- (Deddy Mizwar) sedang dipanas-panasi oleh Pak  Sarbini (Jaja Mihardja), agar Muluk segera melamar anaknya, Rahma. Apalagi, anaknya pun sedang diincar oleh calon anggota DPR (Edwin). Tapi tentu saja, syaratnya adalah Muluk harus sudah bekerja dan punya penghasilan. Dengan entengnya Haji Jaja bilang Muluk itu pengangguran, tapi ditepis oleh Pak Makbul. “Beda, dia itu sedang berusaha. Bukan pengangguran,” kilahnya.

Saat sedang bingung, tiba-tiba Muluk melihat seorang pencopet melakukan aksinya kepada seorang ibu di bis yang dia tumpangi. Geram melihat kejadian tersebut, Muluk pun mengejar si pencopet. Pencopet berhasil ia tangkap, tetapi ancaman diadukan ke polisi ternyata tidak mempan untuknya. Lebih lagi jawaban pencopet yang kemudian hanya membuat Muluk terdiam dan membiarkannya pergi – “Kamu enak saja nyopet, orang udah susah-susah cari uang. Kenapa ga ngamen aja sana, yang halal ?” lalu jawab si pencopet,”Saya kan pencopet, Bang, bukan pengamen.”

Pada bagian cerita selanjutnya Muluk bertemu lagi dengan pencopet ini, namanya Angga, di warung makan. Ironis, makanan Angga lebih mewah daripada Muluk, bahkan akhirnya Anggalah yang menraktir Muluk setelah sebutir telur opor ditambahkan ke piring Muluk atas permintaannya. Muluk kemudian diajak Angga  mengunjungi markasnya.

Muluk bertemu dengan Jarot, Boss para copet di markas yang berlokasi di loteng sebuah bangunan usang. Jarot, yang belakangan ketahuan juga seorang sarjana, rapi mengatur pasukan copetnya. Ada 3 kelompok copet yang ia atur berdasarkan daerah operasi pencopetan : copet mall, copet angkot, dan copet pasar. Masing-masing kelompok mempunyai ketua kelompok dan yel masing-masing yang selalu mereka serukan setiap pagi pasca briefing, sebelum berangkat menunaikan tugas. Total ada 20 anak seusia Angga yang menjadi anak buah Jarot. Muluk mempelajari sistem yang dikelola oleh Jarot ini dan terutama penghasilan harian mereka. Dalam satu hari kelompok copet pasar, yang areanya paling basah, bisa memperoleh Rp 400.000. Bayangkan penghasilan yang didapat per bulannya dari semua kelompok.

Muluk mulai bergerak. Ia me-lobby Jarot. Di sini tampak adegan menggelitik. Di warung kopi langganan Jarot dan anak buahnya, pemilik warung kopi mengingatkan agar mereka membaca bismillah sebelum minum kopi. Terasa satirnya, karena yang diingatkan adalah para pencopet yang jelas tak taat agama. Lalu di sela perbincangan mereka, tiba-tiba datang dua orang pria di belakang Jarot. Mereka mengenakan celana jeans dan jaket kulit hitam, yang kemudian berlalu setelah Jarot menyelipkan sesuatu ke tangan mereka. Sudah bisa menerka kan, siapa mereka ini? Lebih diperjelas lagi saat Muluk berkunjung ke rumah Jarot lalu Jarot minta tolong istrinya membuatkan minuman, istrinya menjawab dari dalam,”Biasa kan Bang, buat bertiga ?” Siapa lagi  kalau bukan kedua orang tadi? Hal itu kemudian membuat Muluk penasaran. Jarot menjelaskan dengan,”Gini, Bang. Anak-anak kan butuh perlindungan. Saya juga butuh. Nah, mereka ini yang melindungi saya.”

Adegan menjadi ‘sangat film’ saat Jarot – yang dikesankan garang, keras, dan kejam – luluh dengan tawaran Muluk untuk mengelola uang hasil mencopet walaupun dengan konsekuensi, penghasilan pribadi Jarot akan berkurang. Ujung dari usaha Muluk, Muluk ingin anak-anak pencopet itu bisa diarahkan untuk mencari pekerjaan dengan cara yang halal. Uang hasil mencopet akan diserahkan kepada Muluk, lalu ia setorkan ke bank. Muluk mengambil 10 % dari hasil tersebut sebagai imbalan pengelolaan yang ia lakukan. Muluk pun akhirnya bisa kredit motor, yang ia sebut sebagai kendaraan operasional, dari sejumlah uang yang terkumpul. Muluk menyebut pekerjaannya di bagian pengembangan sumber daya manusia, kalau Bapaknya bertanya.

Cerita berpindah sejenak ke situasi di gang sempit tempat Muluk tinggal. Terlihat empat pria dengan wajah dicoreng-coreng abu dari pantat panci, sedang main gaple sambil tertawa keras-keras. Salah satu pria tersebut bernama Syamsul, seorang sarjana pendidikan. Muluk kemudian mengajak Syamsul bergabung untuk mengembangkan para pencopet dengan ilmu yang ia miliki. Mulailah Syamsul rutin mengajar di markas copet, meskipun diawali dengan kejengkelannya karena anak-anak yang ia temui, memegang pensil pun tidak bisa dan tidak mau diajari cara memegang yang benar.

Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), teman dekat Bapaknya, meminta tolong Muluk untuk mengajak juga Pipit, puterinya yang masih menganggur. Aktivitas Pipit sehari-hari adalah mengirimkan kuis lewat pos atau mengikuti kuis-kuis di televisi melalui telepon, sampai suatu ketika telepon di rumahnya mati karena tagihan belum terbayar. Pipit semula enggan untuk bekerja bersama Muluk, karena lokasi markas copet yang menyeramkan ditambah lagi para pencopet yang seperti ngiler melihat kedatangan Pipit, yang memang manis dan yang penting, perempuan ! Mahluk yang jarang mereka saksikan dari jarak dekat di lingkungan markas copet.

Jadilah mempunyai 2 personel dalam timnya, Syamsul mengajar pendidikan dasar termasuk membaca dan pendidikan kewarganegaraan, Pipit mengajar agama Islam. Tampak lucu waktu Pipit sedang mengajar bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, lalu ia mengajari para pencopet untuk mandi – dengan sabun colek – karena mereka memang tidak pernah mandi. Cara shalat dan membaca Al Qur’an juga termasuk dalam mata ajaran Pipit. Pengaruhnya terlihat saat seorang pencopet pergi shalat Jumat, namun tetap saja karena naluri pencopet yang kuat, pulang dari masjid sandal yang ia kenakan berubah menjadi bagus dan mengkilat. Shalat jalan, nyuri sandal juga. Teuteup.

Klimaks cerita mulai terlihat saat Pipit panik, ketika dia mau berangkat ‘kerja,’ tiba-tiba saja trio Haji – Haji Rahmat, abahnya sendiri, Haji Sarbini, dan Haji Makbul – punya ide untuk ikut Pipit ke ‘kantor’-nya karena ingin tahu seperti apa pekerjaan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Pipit tak bisa menolak, maka berangkatlah dia ke markas diiringi 3 Bapak itu. Syamsul yang sedang mengajar di markas dan Muluk pun pias mengetahui rombongan yang datang bersama Pipit. Awalnyanya ketiganya bangga saat Pipit dan Syamsul memamerkan bagaimana murid mereka unjuk kebolehan membaca surat dalam Al Qur’an dan hapal butir Pancasila (bagian adegan ini terlalu panjang, sehingga nuansa ‘sinetron banget’ demikian terasa). Sampai kemudian ketiga Bapak yang religius itu tahu bahwa ‘sumber daya manusia’ yang dikembangkan oleh Muluk, Syamsul, dan Pipit semuanya pencopet, tanpa terkecuali.

Suasana haru coba diciptakan dalam film ini saat Haji Rahmat dan Haji Makbul berangkulan menuju masjid untuk mohon ampun pada Tuhan karena mereka sudah ikut makan uang haram, hasil kerja anak mereka. Ekstremnya, Haji Makbul bahkan memisahkan stoples tempat kopi, gula, dan teh untuknya dan untuk Muluk, saat tiba di rumah. Kondisi ini membuat Muluk dan Pipit terpukul lalu berencana untuk menghentikan usaha mereka. Syamsul yang paling tidak terima. Ia merasa sudah menjadi manusia saat kepandaiannya terpakai dengan mengajar, sampai ia berkata dengan keras pada Muluk, “Apa lu mau gue balik lagi tiap hari main gaple ?”

Tetapi Muluk tetap pada keputusannya. Ia sudah bisa membelikan beberapa kotak asongan agar anak-anak didiknya mau beralih profesi menjadi pedagang asongan, dari tabungan hasil mencopet yang sudah ia simpan di sebuah bank syariah hingga mencapai angka Rp 21 juta.

Film berakhir dengan adegan yang membuat penonton miris. Diiringi lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, sebagian pencopet yang mau merubah nasib menjadi pedagang asongan, ternyata masih harus mengalami nasib dikejar-kejar Satpol PP yang sedang razia. Beda oknum saja, ketika menjadi pencopet dikejar polisi, sekarang Satpol PP. Benar, alangkah lucunya negeri ini. Mau haram atau halal, sama tersiksanya.

[Tulisan ini dibuat dengan kontribusi dari Yoice Pauline P.]

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s