Clash of The Titans – Resensi Film

Melihat film ini mungkin cuma akan terasa seperti dongeng belaka bagi kita di masa kini. Apalagi bagi generasi muda yang sekarang masih duduk di bangku sekolah menengah, malah terasa seperti omong kosong fantasi masa lalu saja. Apalagi di era teknologi seperti sekarang, seolah manusia telah merengkuh segalanya.

Banyak manusia zaman kini yang lupa, bahwa bahan cerita dalam film ini merupakan sebuah sistem kepercayaan atau agama yang dianut oleh masyarakat Yunani Kuno, di masa sebelum lahirnya filsafat. Bila filsafat pertama oleh para filsuf alam diperkirakan muncul abad 6 SM, maka mitologi Yunani ini sudah berlaku jauh sebelumnya, diperkirakan abad 10 SM. Kini, setelah agama terutama yang tergolong monotheistik lebih banyak dipeluk umat manusia, maka sistem kepercayaan itu dikategorikan sebagai mitologi dan cerita di dalamnya dianggap mitos.

Menyenangkan bagi penyuka sejarah dan legenda seperti saya, menyaksikan film yang penuh kisah seperti ini. Bila Anda menyukai film sejenis trilogi the Lord of The Ring (LOTR), maka bisa dipastikan Anda juga menyukai Clash of The Titans. Namun seperti halnya trilogi LOTR, sedikit pengetahuan mengenai legenda dan mitologi diperlukan agar Anda tak bingung dengan jalan ceritanya yang beralur cepat.

[spoiler alert!]

Film dibuka dengan penggambaran di alam bintang-bintang tentang legenda terciptanya alam semesta. Narrator mengisahkan bagaimana Zeus, Poseidon dan Hades sebagai tiga dewa utama berebut kekuasaan. Zeus akhirnya menang dan menguasai tahta surga dan langit, Poseidon menguasai lautan, sementara Hades yang diperdaya menguasai alam bawah yang dihuni para roh nan gelap. Zeus kemudian menciptakan manusia, dan kemudian ternyata membutuhkan cinta dari manusia agar kekuasaannya langgeng. Hades yang merasa dicurangi dalam perebutan kekuasaan terus-menerus mencari cara agar bisa merebut tahta saudaranya.

Kesempatan itu muncul saat kerajaan Argos yang dipimpin oleh Raja Kepheus dan Ratu Cassiopeia dengan pongahnya menantang kekuasaan dewata. Tentara mereka menghancurkan patung Zeus yang berdiri megah menjulang di sebuah tebing yang menghadap ke teluk, namun diserang oleh bala tentara Hades yang berupa makhluk hitam bersayap. Hanya sedikit tentara yang tersisa mampu kembali ke ibukota. Walau begitu, Ratu Cassiopeia tetap dengan pongahnya membandingkan kecantikan putrinya Andromeda yang menurutnya lebih cantik daripada dewi sekali pun. Tiba-tiba Hades hadir di aula istana, memaksa raja dan ratu beserta seluruh isi istana berlutut. Ia dengan mudah menghancurkan tentara Argos di ruangan itu, kecuali Perseus yang ikut dalam rombongan tentara. Perseus inilah yang kemudian menjadi sentral kisah film ini. Ia adalah anak Zeus sendiri dari hasil cintanya dengan permaisuri Raja Acrisius bernama Danae. Hal itu dilakukan Zeus untuk menunjukkan ia tetap mencintai manusia walau saat itu Acrisius  tengah berontak melawan kekuasaan dewa. Pasukan kerajaan Acrisius bahkan berhasil mengepung Olympus. Acrisius yang marah membuang Danae dan Perseus ke laut. Sang ibu mati, tapi Perseus hidup. Ia lalu diangkat anak oleh nelayan yang menyelamatkannya. Saat pasukan Argos merubuhkan patung Zeus ke laut itulah, seluruh keluarga angkat Perseus tewas oleh amarah Hades. Ia ditemukan masih hidup oleh pasukan Argos dan dibawa ke istana.

Hades yang marah mengancam akan menghancurkan Argos saat gerhana matahari, kecuali putri mereka dikorbankan untuk Kraken, monster ciptaan Hades yang tinggal di dasar laut terdalam. Dan upaya Perseus mencegah hancurnya kerajaan Argos itulah yang kemudian menjadi inti film ini. Dalam perjalanan mencari cara mengalahkan Kraken, Perseus dan pasukan Argos menghadapi banyak tantangan. Termasuk saat di padang pasir ia bertemu Scorpioch -sejenis monster kalajengking raksasa- yang kemudian justru mempertemukan mereka dengan bangsa Jinn yang membantu mereka. Bangsa Jinn juga sudah jengah dengan kekuasaan para dewa dan berniat membantu manusia melawannya. Untuk mengetahui cara mengalahkan Kraken, mereka harus menemui para peri Styga. Dari para peri inilah kemudian diketahui jawaban bahwa hanya ada satu cara mengalahkan Kraken, yaitu mempertemukan Medusa dengannya. Karena monster wanita yang tinggal di dunia bawah ini memiliki satu senjata mematikan: siapa pun yang melihatnya akan menjadi batu!

Karena mustahil meminta Medusa bekerja sama, maka satu-satunya cara adalah dengan memenggal kepalanya dari badannya dan membawanya ke Argos. Karena merupakan makhluk hasil kutukan dewa -Medusa awalnya cantik, kecantikannya bahkan menggoda Poseidon. Namun kemudian ia dikutuk agar tak ada lagi pria yang menyukainya dan menjadi monster-, maka meski kepalanya dipenggal, namun kepala itu tidak mati. Matanya masih mampu menyihir siapa pun yang melihatnya.

Dalam perjalanannya, selain ditemani pasukan Argos, Perseus juga ditemani oleh Io. Ia merupakan semacam dewi pelindung bagi Perseus. Ia pun mendapat bantuan dari dewa berupa pedang surgawi dan Pegasus, raja dari bangsa kuda bersayap. Bantuan ini semula ditolaknya, namun terpaksa digunakannya saat mereka diserang oleh Acrisius yang telah menjadi monster Calibos dan diperalat Hades.

Di tengah waktu yang memburu, gerhana matahari telah tiba dan Kraken keburu dilepaskan. Andromeda yang dilindungi di istana diculik oleh warga dipimpin seorang pendeta, hendak dikorbankan untuk meredakan amarah Kraken sesuai permintaan Hades. Namun dengan menumpang Pegasus, akhirnya Perseus berhasil menyelamatkan Argos dengan mengalahkan Kraken, meski seluruh anggota rombongannya tewas.

Film besutan sutradara Louis Leterrier ini merupakan penggarapan ulang dari film berjudul sama buatan tahun 1981, yang kali itu disutradari oleh David Desmond. Tak heran terasa peminjaman ide dari sana-sini. Karakter Io misalnya, akan segera mengingatkan kita pada Ratu Arwen dari LOTR: the Return of The King (2003). Demikian pula Scorpioch langsung mengingatkan pada karakter raja kalajengking dalam mitologi Mesir Kuno yang diperankan Dwayne Johnson “The Rock” dalam The Scorpion King (2002). Kota Argos pun mengingatkan pada Minas Tirith dalam trilogi LOTR, juga patung Zeus yang megah pun mengingatkan pada patung para raja dalam LOTR: the Fellowship of The Ring (2001). Namun saya paling menyayangkan Kraken yang dahsyat dan digambarkan bagus bertentakel ala gurita dan sangat besar memiliki kepala sangat mirip alien dalam aneka serial film Alien, misalnya Alien vs Predator (2004). Padahal, bisa saja dibuat model kepala monster yang berbeda. Namun, penggambaran Medusa sudah ciamik. Ia tampak hidup bak karakter Smeagol alias Gollum dalam trilogi LOTR. Walau tentu berubahnya para prajurit Argos yang terkena sorot mata Medusa menjadi batu mengingatkan pada Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe (2005).

Di atas itu semua, kelemahan utama film ini adalah karakter yang tak terbangun sempurna di tengah-tengah alur cerita yang cepat. Walau begitu, film ini masih sangat layak ditonton. Terutama bagi pencinta tema epik-legenda, atau penyuka efek khusus dahsyat.

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s