The Hurt Locker – Resensi Film

Saya memang terlambat menyaksikan film ini, maka bagi yang sudah menonton, ya dilewatkan saja. Saya merasa tidak tertarik saat melihat posternya di bioskop sewaktu tayang perdana dulu. Dan baru tertarik setelah film ini menang 6 penghargaan Academy Awards alias Oscar 7 Maret 2010 lalu.

Film dibuka dengan adegan yang langsung mencekam [spoiler alert!], yaitu adegan para prajurit dari unit EOD (Explosive Ordnance Disposal-saya harus cari singkatan ini di google karena di film sering disebut tapi tak dijelaskan) sedang berupaya menjinakkan bom di suatu kawasan pemukiman di Irak. Setting film langsung jelas, Irak, dalam periode Invasi AS ke Irak yang dimulai sejak 2003 dan terus berlangsung hingga kini. Secara resmi, AS menyebut operasi ini “Enduring Freedom”.

Adegan pembuka yang menarik karena langsung berada dalam tensi tinggi. Upaya menjinakkan bom dengan robot mengalami kegagalan karena sebab yang teknis: as roda pembawa bom C-4 yang akan digunakan memicu ledakan patah. Ada sindiran lucu saat as ini patah, seorang prajurit bertanya pada rekannya, apakah kamu yang membuat, jawabannya bukan, US Army dong. (hehe, berarti barang US Army jelek kualitasnya). Maka, Sergeant First Class (SFC) William James pun kemudian menjinakkannya sendiri. Ia mengenakan pakaian anti-bom (bomb suit), dan berjalan santai ke arah bom. Ternyata, seorang penjual daging yang berada di dekat sana memegang remote control-nya yang berupa handphone (bom yang dipicu oleh frekuensi pengontrol dari jarak jauh, secara teknis disebut radio-controlled 155mm Improvised Explosive Device atau IED, suatu istilah yang juga banyak disebut di film). Dan sebelum James sempat melangkah jauh, bom meledak. Namun, karena ia mengenakan bomb suit, ia selamat. Yang tewas justru Staff Sergeant (SSG) Matthew Thompson, komandan regu EOD tersebut karena berusaha menembak si penjual daging yang memegang HP. Karena ia tidak mengenakan bomb suit, maka saat bom meledak, akibatnya fatal. Specialist Owen Eldridge -anggota paling yunior grup tersebut- yang telah mencoba memperingatkan SSG Thompson merasa berdosa, sehingga ia di adegan berikutnya memerlukan diri berkonsultasi dengan Lieutenant Colonel (LTC) John Cambridge, psikiater militer lulusan Yale University yang bertugas di Camp Victory -markas EOD di Irak- untuk memulihkannya. Cambridge sendiri kemudian tewas terkena ledakan bom yang dipasang di antara bebatuan saat ikut berpatroli bersama tim EOD.

Adegan-adegan film berikutnya tak lepas dari berbagai upaya penjinakan bom di Irak oleh EOD. Heroisme James yang tak kenal takut membuat banyak orang kagum, termasuk Komandan Satuan Tentara AS yang ditugaskan di markas PBB, Colonel Reed. Ia sempat menanyai James pasca penjinakan bom mobil yang daya ledaknya bisa menjebol gedung karena basis bomnya berupa bom yang biasa dijatuhkan dari pesawat tempur. Saat itu James menyebut angka fantastis saat ditanya berapa jumlah bom yang berhasil dijinakkannya: 879! (saya sebenarnya lupa tepatnya, tapi sekitar 800-an lah).

Gaya pengambilan kamera dibuat seolah dokumentasi, gaya yang dipopulerkan oleh The Blair Witch Project (1999). Namun di sini tanpa narrator atau pencerita, sehingga pemirsa terkadang agak dibuat bingung dengan scene yang terkesan melompat ke sana-ke mari. Secara umum, saya sendiri tidak terkesan dengan cerita yang cenderung monoton, dari satu penjinakan bom ke penjinakan bom lain. Malah cenderung seperti Rambo gaya baru. Mengedepankan kepahlawanan seorang William James di berbagai kesempatan. Kepahlawanan yang bahkan membuat sebal rekan satu timnya, Sergeant J.T. Sanborn, yang saya sempat heran dalam setidaknya dua scene berani menegur -bahkan di satu scene menampar- William James yang dari segi kepangkatan lebih tinggi. Sanborn bahkan sempat berniat meledakkan James saat James menunda peledakan bom di tengah gurun saat sarung tangannya tertinggal di dekat bom yang akan diledakkan. Lucunya, Sanborn yang galak menjelang akhir film sempat ‘curhat’ kepada James tentang ketidaksiapannya mati karena ingin punya keluarga dan anak dulu, bahkan sampai menangis segala. Adegan yang maunya mengharukan, tapi malah membuat saya ‘ill-feel’.

Adegan yang kuat adalah saat tim EOD menggerebek satu rumah yang dijadikan markas pembuatan bom oleh gerilyawan pejuang Irak. Di dalam rumah itu ada mayat seorang  anak lelaki yang sempat dikira sebagai Beckham. Tentu, itu bukan nama sebenarnya, tapi itulah nama yang disebut oleh seorang anak lelaki penjual DVD di dekat Camp Victory. James sempat terharu dan sedih, karena merasa dekat dengan anak yang sempat mengajaknya main bola itu. Maka, saat sesuai S.O.P. seharusnya ia meledakkan mayat anak itu karena perutnya telah diisi bom, malah ia membatalkan niatnya. Bom yang ditaruh di dalam perut mayat diambilnya, dan kemudian mayat anak itu dibopong untuk kemudian dimintanya kepada warga untuk menguburkan. Adegan ini bisa membuat mual karena diperlihatkan dengan vulgar mayat si anak diaduk-aduk oleh James isi perutnya untuk mengeluarkan C-4 campur Semtex di dalamnya. James sempat melakukan penyelidikan sendiri untuk mencari pembunuh Beckham yang membahayakan nyawa rekannya Eldridge yang nyaris diculik para gerilyawan pejuang Irak. Ketika kemudian ternyata Beckham masih hidup -berarti mayat anak tadi bukan Beckham-, James terlihat jengkel, tapi ekspresi yang ditampakkan malah jadi ngambek ala anak kecil.

Adegan kuat lain terjadi saat patroli EOD bertemu dengan kontraktor penjaga keamanan swasta asal Inggris (sekelas Black Water asal A.S.) yang memang banyak beroperasi di Irak. Ralph Fiennes yang berperan sebagai pimpinan unit tersebut melambaikan tangan pada Humvee group James, meminta bantuan karena ban Range Rover mereka kempes. Di tengah upaya mengganti ban, tim mereka ditembaki oleh sniper Irak. Bagi saya pribadi, adegan ini yang paling seru, terutama karena pameran senjata yang digunakan hingga keahlian tembak-menembak kedua pihak. Sayangnya, adegan ini berakhir begitu saja tanpa ending jelas begitu hari memasuki senja. Scene berikutnya tim patroli EOD sudah kembali ke Camp Victory. Aneh.

Kathryn Bigelow memang patut berbangga, karena dialah perempuan pertama yang mendapatkan Oscar atas penyutradaraannya. Namun film ini mendapatkan kritik keras dari Amerika Serikat sendiri. Terutama sekali pada ketidakakuratannya, terutama dalam penggunaan perlengkapan film (anakronisme). Pertanyaan saya mengapa Sergeant J.T. Sanborn berani menampar Sergeant First Class William James terjawab saat membaca credit title di akhir film. Ternyata, dalam skenario asli Jeremy Renner diberi peran sebagai “Staff Sergeant William James,” sebuah pangkat yang dalam jenjang kepangkatan US Army adalah golongan E-6. Sementara di filmnya karakter William James mengenakan pangkat golongan E-7, yaitu “Sergeant First Class”.  Well, karena saya memang menyukai kemiliteran, detail ini saya perhatikan dengan baik.

Beberapa kesalahan lain juga terkait dengan atribut dan perlengkapan militer ini. Misalnya tidak ada senjata apa pun yang digunakan di film ini menggunakan laser pembidik (bahasa militernya “crosshairs”), hanya ada teropong. Padahal, di lapangan justru sebaliknya, semua senjata modern memerlukan perangkat ini untuk mendapatkan keakuratan bidik. Di film ini tim EOD juga menjadi ‘slonong boy’, pergi ke sana-ke mari sendirian. Padahal, dalam S.O.P. US Army, saat patroli atau menuju TKP titik ledak, EOD selalu dikawal 2-3 Humvee lain dari kesatuan Quick Reaction Force. Tipe Humvee yang digunakan di film, dengan kanopi pelindung tambahan di atas bangku penumpang yang disebut “snorkel”, juga bukan milik US Army, melainkan aslinya justru varian yang hanya digunakan secara eksklusif oleh US Marine Corps (USMC).

Juga di awal film, Sanborn sempat mengatakan pada James, “So you were a Ranger” dan dijawab ya, ia memang pernah bertugas sebagai Ranger. Ini adalah salah satu kesatuan elite dalam jajaran US Army, dimana resminya bernama the 75th Ranger Regiment. Akan tetapi, di seragam James sama sekali tidak ada tanda kesatuan (tab) “Ranger” yang terlihat, meski ia mengenakan emblem atau lambang kesatuan (insignia) Ranger. Padahal, bila memang benar karakternya digambarkan begitu, tanda kesatuan itu mutlak. Demikian pula seragam LTC John Cambridge, tampak mengenakan dua bendera A.S. di bahu kiri dan kanan, mustinya cuma di kanan saja. Kejanggalan juga muncul saat adegan tembak-menembak antara tim patroli EOD dan kontraktor penjaga keamanan swasta di satu pihak melawan tim sniper gerilyawan pejuang Irak, senjata yang digunakan untuk menembak sniper Irak adalah Barrett M107 anti-material rifle. Namun senjata berat itu digambarkan tak mampu menembus dinding batako tempat sniper Irak berlindung. Padahal, aslinya senjata berkaliber .50 itu mampu menembus baja cukup tebal, apalagi batako yang mustinya rontok dengan mudah.

Namun kesalahan paling banyak justru berkaitan dengan setting film yang mengambil tahun 2004. Banyak barang yang digunakan di film sebagai properti tampil terlalu awal, karena pada masa film itu berlangsung barang tersebut belum ada. Yang paling parah adalah seragam tentara A.S. sendiri, yang menggunakan model kamuflase bernama Army Combat Unit (A.C.U.). Dalam kenyataannya, seragam model ini baru didistribusikan pada Februari 2005. Hingga saat itu tipe seragam yang digunakan adalah seragam tiga warna yang dinamakan Desert Combat Unit (D.C.U.). Demikian pula disebutkan saat adegan penjinakan bom di gedung PBB, ada pemuda Irak yang mengambil gambar dengan kamera video, seorang prajurit mengomentari, “Dalam beberapa jam saja gambar kita akan muncul di You Tube”. Well, YouTube baru berdiri tahun 2005. Malah ada adegan saat Eldridge -di beberapa scene namanya malah terlihat “Eldrich”- memainkan game console dengan The X-Box 360, perangkat ini baru ada tahun 2005. Kesalahan soal gadget juga terlihat saat James memainkan iPod touch, yang sebenarnya baru ada di tahun 2007!

Di atas semua kritik tersebut, saya paling tidak setuju pada propaganda Kathryn yang mengatakan film ini film anti perang. Jauh sekali. Film ini justru pro-perang, menunjukkan dengan vulgar dan kasar keheroikan serdadu Amerika Serikat. United States ubber alles-lah. Para gerilyawan pejuang Irak yang berupaya mengusir pasukan penjajah A.S. ditampilkan bodoh dan kasar. Pembom bunuh diri pun ditampilkan pengecut, menangis minta dilepaskan bom-nya oleh tim EOD. Seolah, ia dipaksa oleh orang lain untuk berjihad mati syahid. Padahal, kebanyakan pembom bunuh diri justru mengajukan diri dan ikhlas melaksanakan tugasnya karena keyakinan agamanya. Dengan vulgar kalimat syahadat juga diucapkan saat pembom bunuh diri yang ketakutan tadi terpaksa dibiarkan mati dalam ledakan karena James gagal menjinakkan bomnya.

So, jika mau nonton, anggap saja sama dengan film-filmnya Arnold Schwarzenegger dimana jagoan selalu menang. Karena kalau mau menegaskan sisi humanis para serdadu A.S. yang maju perang tanpa kemudian memihak kebijakan perangnya yang sangat hawkish, bagi saya film ini kalah jauh dari Home of The Brave (2007) yang justru tidak mendapat apresiasi memadai dari insan perfilman. Yah, singkatnya, saya tak sependapat bila film ini diganjar Oscar begitu banyak. Lha wong cuma sekelas film propaganda jee.

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

Iklan

5 responses to “The Hurt Locker – Resensi Film

  1. tolong kasih tau ya sisi sosial,sisi ekonomi,sisi agama,bahaya dari film the hurt locker.
    mohon di bales secepat mungkin thx

    • waduh, ini utk tugas kuliah ya? kok interogasi? tolong japri saja indah, tapi kalau utk referensi, tolong jujur disertakan sumbernya. karena di yahoo answer misalnya, banyak yg ‘nakal’ menanyakan tugasnya utk dijawab orang lain. saya tunggu e-mailnya.

  2. film the hurt locker trlalu mengada-ngada.. msa snjta barret M107 d pake buat patroli, seharusnya snjata berat yg d pke patroli humvee cukup MINI M1 saja,,

  3. Ping-balik: The Hurt Locker : Resensi-Review Bhayu·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s