Leader, Leadership & Tipe D

Saya terperanjat saat beberapa hari lalu mewawancara seorang calon pegawai untuk klien, dan menanyakan hal positif apa yang ia miliki, yang bersangkutan menjawab: leadership. Mengapa terperanjat? Karena orang yang menjawab pertanyaan itu tampak tak percaya diri, menjawab dengan pelan dan bicaranya tergagap-gagap, banyak menunduk atau menghindari kontak mata, dan tidak punya pengalaman organisasi memadai!

Fenomena serupa pernah terjadi saat seorang motivator bicara di hadapan komunitas pengusaha muda yang saya ikuti, dan sang motivator bertanya: Siapa yang tipe D di sini? Karena sebelumnya sang motivator menyatakan kebanyakan pemimpin bertipe D, sontak hampir semua peserta tunjuk tangan. Apa sebabnya? Tentu karena ingin dibilang layak jadi pemimpin. Sementara saya yang berdasarkan hasil berbagai tes justru bertipe D memilih tidak tunjuk tangan mempertimbangkan fenomena “ngaku-ngaku” tadi. Sang motivator langsung melihat ke arah saya, dan ia tahu, bahwa justru sayalah yang tidak tunjuk tangan yang sebenarnya bertipe D!

LifeLearner, banyak yang tidak sadar, bahwa menjadi “leader” atau pemimpin itu tidak mudah. Bahkan, meskipun seseorang pada saat ini sudah diangkat sebagai “leader”, belum tentu ia punya “leadership” atau kepemimpinan yang baik. Dan disukai atau tidak, pemimpin yang baik memang hanya yang bertipe D (Dominan) atau dalam tipe kepribadian Hippocrates: Koleris. Boleh saja ia memiliki tipe kepribadian lain -karena umumnya manusia memang punya lebih dari 1 tipe kepribadian, yaitu mayor dan minor-, akan tetapi tetap saja harus punya tipe D di salah satunya. Itu karena tipe D sudah punya sejumlah karakteristik “leadership” sejak awal, seakan ‘dari sononya’.

Beberapa waktu lalu saya menuliskan posting tentang penilaian orang lain yang terinspirasi dari Mario Teguh. Kita kerapkali menilai diri secara salah, terutama karena selalu ingin tampil bercitra baik -kerap disebut jaim alias jaga image- di hadapan orang lain. Karena itu, kemudian kita kerap memakai topeng. Salah satu topeng itu adalah karakteristik leadership.

Sebagai contoh adalah tiga tipe manusia yang saya temui hari Minggu kemarin. (Ya, hari Minggu kemarin adalah ‘hari kerja’ bagi saya). Orang pertama bertipe Phlegmatis-Koleris atau Steadiness-Dominan. Ia memang pernah jadi “leader”, bahkan kini pun memposisikan diri sebagai leader (karena tidak ada yang mau, bukan karena pilihan demokratis atau kompetensi karena yang ‘dipimpin’nya cuma kelompok informal non-profit). Akan tetapi sungguh bukan leader yang baik. Ia tidak mau mendengar aspirasi dari orang lain, terutama yang terkait pengaturan jadwal kerja dan pencapaian target. Itu karena sifat Phlegmatisnya lebih kuat daripada Kolerisnya. Ia menjadi ngotot (sifat koleris/dominan-nya) untuk tetap santai dan tidak mau diarahkan serta diberi target (sifat phlegmatis/steadiness-nya). Lucu kan? Ngotot untuk santai. Hehe. Itu masih ditambah ngotot tidak mau disalahkan, mau idenya diterima, tapi tidak mau menerima ide orang lain. Yang bersangkutan memiliki bisnis sendiri yang saya tak begitu jelas bentuknya, namun terlihat tidak tertuntut waktu karena kerap di status FB-nya ia menyatakan ada di rumah pada siang/sore hari kerja sedang bersantai. Padahal secara ekonomis saya tahu ia tidaklah sekuat kesannya.

Orang kedua bertipe Sanguin-Melankolis atau Influence-Compliance. Ia cenderung mengutamakan penampilan dan kesempurnaan daripada pencapaian target, menetapkan dan melaksanakan rencana kerja, bahkan kerja keras itu sendiri.  Maka, dalam bisnis yang dijalankannya ia kerap mengalami kerugian justru karena ia tidak mau bekerja lebih keras dan merasa cukup dengan usahanya yang sebetulnya jauh dari cukup itu. Ia disibukkan oleh berbagai agenda keseharian yang bagi kami tidak jelas mengapa malah hal itu jadi lebih utama ketimbang bisnisnya. Mungkin karena sudah merasa berkecukupan atau bagaimana, yang jelas ia menjalankan bisnisnya dengan santai dan penuh polesan penampilan yang ‘wah’, walau sebenarnya malah jadi merugi.

Orang ketiga bertipe Koleris-Sanguin atau Dominan-Influence. Pengaruhnya kuat dalam memimpin, namun kerap mengutamakan diri sendiri. Ia menjadi pekerja keras yang nyaris tak punya waktu untuk keluarganya.  Karena waktu untuk keluarga sangat minim, apalagi waktu untuk orang lain seperti teman. Hal itu karena ia memimpin berbagai perusahaan yang kebanyakan basisnya di luar pulau Jawa. Orang lain akan ‘terpaksa’ berhadapan dengan situasi di mana ia hanya punya waktu sedikit sehingga harus melakukan efisiensi dalam berbicara dengannya, hanya menyampaikan yang penting-penting saja. Ia pemimpin yang baik dalam mencapai target, tapi menjadi kurang manusiawi terutama dalam berhubungan dengan orang-orang yang dianggapnya ‘kurang penting’ dalam kehidupan. Bahasa Jawa-nya, ia kurang ‘nguwongke’ atau memanusiakan orang lain.

Dari ketiga tipe tersebut, terlihat dari segi kepemimpinan orang terakhir-lah yang akan mampu mencapai target perusahaan/organisasi dengan baik. Meski dari segi leadership, tentu ada yang dikorbankan yaitu mereka yang dianggap kurang bermanfaat baginya akan disingkirkan karena dianggap menghalangi jalannya yang cepat. Kelemahan orang pertama terlalu lambat dan kaku, sementara orang kedua terlalu ingin menonjolkan diri dan menganggap tidak perlu bekerja lebih keras dari seharusnya.

Saya masih bisa bekerja sama dengan orang ketiga dan kedua. Karena saya mampu menambal apa yang tidak ada di diri mereka. Kepada orang kedua misalnya, saya akan sokong dengan membantu melaksanakan pekerjaan yang dianggapnya ‘kurang seksi’, sementara membiarkan ia yang tampil ke depan di berbagai forum. Sementara dengan orang ketiga saya akan ‘andap ansor’, memposisikan diri sedikit di bawahnya karena yang bersangkutan secara ekonomi lebih kuat daripada saya. Tapi untuk yang pertama, saya benar-benar gemas dengan cara dan gayanya. Sudah tidak punya leadership, masih ngotot juga jadi leader [hehe, curcol alert!]

So, ingin jadi leader macam apakah Anda? Itu bisa dibentuk dan dipelajari, asalkan Anda terbuka pada masukan orang lain dan bersedia ‘menderita’ mengubah kepribadian Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s