District 9 – Resensi Film

district-nine-202x300

Saya tertarik menonton film ini karena membaca resensi di harian Kompas edisi Minggu (23/8) beberapa waktu lalu. Namun, saya baru sempat menyaksikannya semalam. Itu pun sudah turun ke teater yang kapasitasnya kecil. Jadi, saya agak terlambat memang menuliskan resensi ini. Semoga masih berguna terutama bagi yang menyukai film bergenre fiksi ilmiah (sci-fi).

Film ini merupakan film besutan sutradara Neill Blomkamp. Ini adalah film layar lebar debutannya, setelah sebelumnya ia lebih dikenal sebagai sutradara film pendek dan ahli animasi serta special effect. Menurut informasi, film District 9 ini merupakan upaya produser Peter L. Jackson untuk meneruskan proyek film pendek Blomkamp berjudul Alive in Joburg (2005). Jackson sendiri terlibat sebagai produser film Halo karya Blomkamp yang merupakan adaptasi video game Halo, namun berhenti di tengah jalan karena kesulitan pendanaan. Agar tidak sia-sia, maka dibuatlah film District 9 ini.

Filmografi film ini mengingatkan saya pada serial televisi NYPD Blue (1993) atau The Blair Witch Project (1999) atau justru yang relatif baru Cloverfield (2008). Penonton diajak menyaksikan kehidupan dalam film dengan sudut pandang seolah film tersebut adalah film dokumenter atau berita. Caranya dengan membuat seolah itu adalah rekaman dari handycam atau acara televisi.

Cerita berfokus pada tokoh protagonis bernama Wikus van der Merwe (Sharlto Copley), seorang petugas dari Multi National United. Kentara sekali ini adalah pelesetan dari United Nations. Apalagi seragam dan kendaraan para petugasnya pun putih-putih seperti UN.

Nah, diceritakan bahwa Wikus beserta timnya harus memberitahukan pada para alien yang dilokalisasikan di sebuah area bernama District 9 bahwa mereka harus dipindahkan. Adegan ini seolah diambil dari kamera petugas MNU yang mendokumentasikan semuanya. District 9 sendiri adalah sebuah area yang dikisahkan sebagai tempat penampungan para alien dari pesawat luar angkasa mereka yang rusak dan terdampar di bumi. Melihat suasana District 9 yang lebih mirip kamp pengungsian itu saya langsung melihat gambaran mirip dengan kamp pengungsi Lebanon dalam film The Bourne Supremacy (2004). Tempat pesawat itu rusak berada di Afrika Selatan, dan bukan kebetulan kalau itu adalah tempat asal sang sutradara!

Saat melakukan upaya pemberitahuan dari bedeng ke bedeng, Wikus merazia sebuah bedeng yang dicurigai. Di bedeng milik “Christopher” ini Wikus menemukan semacam tabung dan terpapar zat yang ada di dalamnya. Kata “terpapar” atau “tercemar” ini yang dengan salah diterjemahkan menjadi “penyinaran” oleh penerjemah dalam subtitle bahasa Indonesia.

Ternyata, zat yang memerciki muka Wikus itu adalah bahan bakar pesawat pengangkut alien yang tersembunyi di bawah bedeng itu. Dan efeknya kepada manusia adalah Wikus kemudian bermutasi menjadi alien yang dijuluki “prawn” karena memang bentuknya mirip udang. Ini mirip dengan sebutan “nigger” bagi orang berkulit hitam. Ironisnya, di film ini ada geng orang-orang Nigeria yang malah jadi penguasa di District 9. Mereka berdagang di lokasi pengungsian itu, menukar berbagai perlengkapan alien dengan makanan yang bagi orang bumi tak berharga. Bayangkan saja, alien itu ternyata makan segala macam daging termasuk makanan kucing!

Bermutasinya Wikus menjadi alien menjadikannya berharga karena berbagai senjata alien yang disita maupun alat-alat lain menjadi bisa dioperasikan. Karena kelaparan, para alien membiarkan berbagai perlengkapan dan senjata mutakhirnya diambil manusia. Namun, manusia tak bisa mengoperasikannya karena alat-alat itu hanya bisa dioperasikan oleh alien, sebabnya semua menggunakan pengenalan DNA. Dengan bermutasinya Wikus menjadi alien, maka jadilah ia satu-satunya manusia yang bisa menggunakan teknologi maju alien.

Merasa diperlakukan sebagai “kelinci percobaan”, Wikus pun kabur dan jadi buruan MNU. Di sini, MNU malah jadi mirip seperti Umbrella Corporation dalam Resident Evil. Mereka berubah jadi korporasi yang haus pencapaian ilmu pengetahuan guna dieksploitasi untuk kepentingan sendiri.

Satu-satunya tempat bersembunyi bagi Wikus justru di District 9, dimana ia kemudian kembali ke bedeng tempat ia terpapar zat itu tadi. Dan dalam pelariannya, ia kemudian dibantu oleh Christopher sang alien. Nama Christopher ini tentu bukan nama asli sang alien, melainkan diberikan paksa oleh MNU sebagai registrasi dan dicap di kepalanya. Bahkan di kepala tiap alien ada tulisan “Property of MNU”, menjadikannya bak budak.

Christopher ini ternyata menyembunyikan pesawat angkut di bawah bedengnya, ia sendiri ternyata pilot pesawat induk alien. Dalam upaya untuk pulang ke planet asalnya, Christopher beserta seorang rekan aliennya yang kemudian ditembak mati prajurit MNU, ia mengumpulkan bahan bakar pesawatnya selama 20 tahun. Yang saya kagum, special effect para alien ini membuatnya benar-benar tampak hidup. Termasuk anak Christopher yang tampak jenius dan nakal membuat saya jatuh hati padanya. Padahal ia anak alien!

Untuk memulihkan dirinya lagi jadi manusia normal, Wikus menggantungkan diri pada teknologi alien yang lebih maju. Ia dijanjikan Christopher untuk dipulihkan setelah alien itu berhasil kembali ke planetnya dan akan kembali dalam waktu tiga tahun. Maka, Wikus pun sepakat membantu Christopher untuk kembali ke markas MNU guna mencuri bahan bakar dalam tabung yang disita.  Bahan bakar itulah yang telah menginfeksinya sehingga bermutasi menjadi alien. Maka, jadilah Wikus dan Christopher menjebol markas MNU. Setelah mereka berhasil, masih terjadi adegan kejar-kejaran dan tembak-menembak yang malah mengingatkan saya pada Black Hawk Down (2001), dengan Wikus dan Christopher sebagai GI-Joe-nya, sementara para prajurit MNU malah sebagai pemberontak Somalia-nya.

Pendeknya, Christopher yang sempat terluka dibantu anaknya mengoperasikan pesawat angkut. Begitu pesawat angkut aktif, segala peralatan alien termasuk pesawat induk (mother ship) ikut aktif. Juga segala jenis persenjataan alien termasuk robot tempur. Gambaran robot tempur ini jelas-jelas akan mengingatkan kita pada robot serupa yang digunakan mempertahankan kota manusia terakhir “The Zion” dalam The Matrix: Revolotions (2003). Wikus kemudian membantu Christopher kembali ke bedengnya, tepatnya ke bawah bedengnya, untuk mengoperasikan pesawat angkutnya. Wikus yang makin berevolusi menjadi mutan alien masuk ke robot tempur dan mengoperasikannya. Di sini adegannya sangat komik, tapi hidup. Keren!

Dalam film ini, saya mencatat ada dua kejanggalan besar. Pertama, seperti biasa, kenapa semua orang termasuk alien mendadak jadi bisa bahasa Inggris? Padahal jelas-jelas semua alien itu berbahasa planet asalnya yang mirip orang tersedak itu saat berbicara dengan sesamanya. Tapi saat berbicara dengan manusia, mereka jadi mengerti bahasa Inggris! Kedua, cara berjalan termasuk cara alien itu menyerah dengan angkat tangan dan berlutut, bagi saya itu manusia banget! Mustinya dikarang saja cara berbeda.

Walau begitu, secara umum, film ini mendapatkan pujian kritikus di Amerika Serikat. Saya pun memujinya, walau di Indonesia tampaknya film ini mendapatkan sambutan biasa banget. Akan tetapi, saya tetap merekomendasikan film ini bagi penyuka genre sci-fi dan action. Special effectnya itu lho, keren!

 

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

Iklan

One response to “District 9 – Resensi Film

  1. Ping-balik: District 9 : Resensi-Review Bhayu·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s