Berbagai Pengalaman: Tertipu Pegawai Sendiri (1)

Kali ini saya hendak sharing atau berbagi pengalaman bagaimana saya sampai merasa tertipu oleh pegawai sendiri. Sampai hari ini saya masih kesal dengan kelakuan dua pecundang yang pernah saya terima jadi karyawati saya beberapa bulan lalu. Kebetulan keduanya orang Yogyakarta, tanpa ada maksud mengatakan orang Yogya jelek. Karena saya sendiri keturunan raja Kraton Yogya lho. Moso’ mengejek asal sendiri sih.

Yang pertama mantan mahasiswi terbaik kedua dari kampus tempat general manager saya pernah mengajar. Atas rekomendasinya saya menerimanya tanpa tes. Ia tinggal di kota kecil sekitar DIY, yah, anggap saja juga masuk Yogya deh. Yang kedua seorang lulusan perguruan tinggi swasta tertua di Yogyakarta. Meski hasil tesnya biasa saja, ia mampu memukau kami saat wawancara. Maka, ia pun kami terima sebagai karyawati.

Ternyata, keduanya tidaklah sebagus kami harapkan. Malah, sangat jelek! The worst employee ever!

Yang pertama terus-menerus mengeluh soal suaminya yang pecundang itu. Bayangkan saja, suaminya tidak memiliki penghasilan tetap dan tak henti komplain soal istrinya yang bekerja. Saya ingat ia berkata: “masak suami saya berkata, karir-karir-karir yang dikejar, anak nggak diurus.” Saat itu, kebetulan anaknya yang diboyong ke Jakarta sedang sakit. Saya kira itu wajar, mengingat ia masih menyesuaikan diri dengan iklim ibukota yang panas. Apalagi ia masih berusia kurang dari dua tahun. Jadi, itu bukan karena ibunya yang bekerja. Apalagi kedua orang tua kandungnya –kakek-nenek si bocah- ikut pula ke Jakarta. Artinya, anak itu tidaklah terlantar karena banyak yang mengurus termasuk pula keluarga paman-bibi tempat karyawati saya itu tinggal.

Keluhan itu tidak cuma di mulut, tapi juga di tindakan. Ia datang terlambat hampir tiap hari. Jam masuk kantor 08.30 WIB diabaikan, seringnya ia datang jam 10.00 WIB lebih. Alasannya mengurus anak. Pekerjaan tak beres. Ditugasi ‘ora mudeng’. Bayangkan, saya minta membuat riset selama seminggu, hasilnya cuma tulisan tangan di selembar kertas setara ukuran B5. Ia bahkan tidak mau repot-repot mengetiknya. Astaga! Opo tumon?

Untuk karyawati yang ini sebenarnya kami masih akan memberi pengampunan. Ia kami beri skorsing dirumahkan sementara untuk berkompromi dengan suaminya. Tapi akhirnya kami tidak jadi memanggilnya kembali untuk melakukan tes psikologi lengkap karena hal sepele: ia mengubah “me-“ menjadi “di-“. Saat diberi surat skorsing, ia berkata kepada sekertaris saya: “Mungkin kamu nanti akan disuruh menelepon saya.” Astaga, siapa yang butuh kerja sih? Padahal di surat jelas-jelas dialah yang diperintahkan menelepon sekertaris saya itu untuk pemeriksaan lengkap psikologi klinis. Bahasa awamnya: tes kejiwaan! Ia jelas sakit jiwa tidak bisa membedakan antara “me-“ dan “di-“. Bila sekertaris saya “menelepon” dia, berarti kami begitu membutuhkan dia sebagai karyawati. Padahal, seharusnya sekertaris saya yang “ditelepon” olehnya sebagai pihak yang membutuhkan pekerjaan. Astaga! Sejak kapan ia jadi employee of the year yang diperebutkan perusahaan?

Dia ini LifeLearner, sehari-hari bekerja sebagai tenaga lepas di sebuah departemen. Kerjanya, keliling-keliling desa untuk memberi penyuluhan. Saat ia menelepon general manager kami sebagai mantan dosennya untuk meminta kerja, ia memohon-mohon sambil menangis bahwa gajinya sudah tiga bulan tidak dibayar. See, betapa tidak berkualitasnya dia. Kok bisa-bisanya kami yang “menelepon” dirinya?

Soal telepon ini pula yang memantapkan kami untuk tidak memanggil lagi pecundang tersebut. Saat tagihan telepon bulan sebelumnya datang, itu berarti saat ia masih bekerja di kantor kami, ternyata melonjak tiga kali lipat! Apa sebabnya? Dipakai oleh yang bersangkutan untuk interlokal teman-temannya. Karena ia tinggal di sekitar DIY tadi, maka teman-temannya pun tentunya tinggal di sekitar kota itu. Maka, mantap sudah keputusan kami untuk menjatuhkan talak tiga kepadanya.

Sebuah ironi mengingat ia adalah mahasiswi lulusan terbaik kedua di kampusnya dulu. Kami menduga ia berubah jadi kontra-produktif seperti itu sejak menikah dengan seorang lelaki “madesu”. Padahal, lulusan terbaik di angkatannya dari kelasnya kini sukses bekerja di sebuah stasiun televisi sebagai host. Ironis baginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s