Puisi Karya Sastrawan Indonesia

Negeri Hanyalah

Jika engkau mencintai negeri ini, bukalah jendelamu lebar-lebar, sedot oksigen sebanyak mungkin, gosoklah matamu sebersih cermin di danau yang diam mati angin bahkan bayangan pun disuruh pergi. Jarum jam yang menghitung detak jantung terlelap sampai muncul galaksi baru di angkasa raya. Terbentang negeri di bawah tak kenal lagi namanya, kecuali negeri yang dilupakan. Semua jadi ingkar tak mau lagi menyebut nama leluhur karena malu di dapur tak ada lagi makanan. Orang berbondong bengong di halte-halte bus entah menghirup apa, limbah knalpot dan pidato yang melelahkan disiarkan televisi.

Negeri yang dilupakan oleh anak-anaknya sendiri. Negeri yang semua warganya menjadi hakim. Menghardik dan menguasai orang lain. Negeri kau sebut apa ketika kejahatan tidak dihukum, langit marah mengirim banjir, tanah longsor, kelaparan, wabah penyakit, badai, pertikaian antar keluarga, kecelakaan, dan harapan yang hilang. Negeri tanpa peta. Tak punya cuaca. Terlalu besar untuk dikelola. Tak zamannya lagi memeluk seluruhnya, takut ambruk, padahal modal tak ada, sudah disedot bank-bank di luar negeri, o, angin puyuh yang disemprotkan anak-anaknya sendiri.

Hamba membentangkan tangan sepanjang abad, mengira menggaet cakrawala, lautan bernyanyi, hutan-hutan sunyi, dimakan api yang bersemayam dalam almari, entah, entah, stelan jas mana lagi yang pantas hamba pakai untuk kondangan malam ini. Hamba ini hanyalah, hanyalah.

O, negeri apa pula ini, acap tak tahu kiblat, arah tanda-tanda zaman, yang diramalkan orang-orang suci, yang gentayangan tak dikenali, duduk mencangkung di lapangan parkir, sambil bergumam: “Hamba hanyalah, hamba hanyalah.”

Kamu butuh propinsi mana, aku ambilkan potongan besar, penuh tambang emas dan uranium. Masih kurang? Siapa butuh bagian yang berlimpah minyak, hayo tunjukkan tanganmu, jangan malu-malu, ini zaman reformasi, segalanya bebas untuk diambil alih. Semuanya siap didedahkan.

Jika engkau mencintai negeri ini, siapa saja harus siap menjadi asap, atau apa, sebutlah sesukamu karena ini negeri yang dilupakan. Orang akan lupa siapa yang lewat dan habis diperkenalkan. Orang akan mengangguk, ini negeri apa, tak bakal tahu penderitaanmu, kalian hanyalah selimut yang compang-camping. O, rakyat dari negeri hanyalah, negeri hanyalah.”

{Danarto}

Tangerang, 1 Agustus 2001.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s