Emang Enak Jadi Orang Ngetop?

Saya pernah mendengar sebuah adagium: Kemasyhuran adalah penjara paling mengerikan. Sayangnya saya tidak bisa lagi menemukan dari siapa kalimat indah ini berasal. Namun, seberapa sering kita lihat betapa banyak orang mengejar kemasyhuran? Coba saja tengok kontes “bintang televisi” dengan berbagai nama, banyak orang sampai antre berjam-jam untuk ikut audisinya. Seringkali bahkan tanpa melihat potensi diri melainkan cuma mengandalkan mimpi.

Tulisan saya “Orang Hebat & Orang Baik” hari Minggu (14/6) lalu menunjukkan, betapa saya mencoba insyaf untuk mengejar kategori orang hebat alias termasyhur itu. Di tiap bidang, selalu ada orang hebatnya, dan saya tidak mau lagi jadi orang hebat di bidang apa pun. Cukup jadi orang baik saja. Kalau ada yang bertanya, orang baik menurut siapa. Ya menurut Tuhan, atau setidaknya menurut tuntunan Tuhan. Karena toh kita tidak bisa tahu penilaian Tuhan sampai nanti kita mati.

Makin bergaul dengan banyak orang, mulai dari pejabat tinggi negara sampai bajingan, saya makin melihat, betapa anak bangsa ini krisis identitas. Dalam tiap kesempatan mereka bisa mengungkapkan aktualisasi dirinya, maka niscaya akan digunakan. Pejabat negara sibuk membanggakan prestasinya, sementara bajingan pun sibuk membanggakan hal serupa. Bedanya, tinggal di kategori prestasi. Kalau pejabat soal kinerja di pemerintahan, kalau bajingan ya kinerja di kejahatan. Rekor sudah pernah tidur dengan sekian perempuan misalnya, merupakan salah satu hal yang kerap jadi pembicaraan para bajingan.

Dalam pencarian identitas diri ini pula mereka kerap sekali menghina orang lain. Seorang kusir delman, tak akan ragu misalnya mencerca, “Dasar Presiden goblok!” dalam pembicaraan di warung kopi. Tapi, tanpa argumen. Makanya, disebut debat kusir.Yang penting gue menang, gak penting caranya. Itulah prinsipnya.

Nah, sulitnya lagi, dalam pencarian identitas diri itu, semua orang berlomba-lomba ingin ngetop atau menjadi masyhur. Padahal, dari segelintir orang ngetop yang saya kenal (ya iyalah, siapalah saya mau sok kenal sama banyak orang ngetop), rata-rata justru senang saat bisa menikmati waktu sebagai orang biasa.

Piramida Maslow yang saya kenal secara teoretis jadi terbalik-balik di sini. Pasalnya, seharusnya aktualisasi diri itu baru dilakukan saat kebutuhan dasar lain sebagai manusia terpenuhi. Tapi di Indonesia, tampaknya terbalik. Sebuah pencerapan terhadap simbolisasi yang keliru. Karena orang kaya atau sukses punya handphone bagus, maka kesimpulannya adalah kalau mau jadi orang kaya harus punya handphone bagus. Maka, berlomba-lombalah orang membeli handphone bagus. Padahal, selain belinya maksa karena sebenarnya belum punya dana, juga fungsinya tidak optimal karena cuma dipakai sms dan menelepon saja.

Demikian pula dengan menjadi orang ngetop. Karena orang ngetop sering masuk media, maka, kalau mau dibilang ngetop masuklah jadi pemberitaan media, dengan berbagai cara. Dan karena di media orang ngetop ngomongnya bisa “pating clemong” tanpa kontrol, kita yang merasa berhak ngetop pun ngomongnya (atau nulisnya) juga tanpa berpikir lagi. Sehingga, kasus seperti Ruhut atau Mubarok sebenarnya jauh lebih sering terjadi di media massa. Hanya saja karena yang melakukan adalah “orang ngetop palsu atau karbitan”, maka efeknya tidak besar. Penghinaan rasis seperti “Arab”-nya Ruhut kepada Fuad Bawazier sebenarnya jauh lebih sering dilakukan orang biasa kepada sesamanya. Dan itu seringkali dilakukan bahkan tanpa alasan. Sekedar ingin kelihatan ngetop saja.

Emang enak jadi orang ngetop? Pasti enak, karena selalu jadi sorotan orang lain plus bisa bertingkah seenaknya. Itu kan yang dimaui banyak orang? Sudah dikagumi, berhak melecehkan orang lain pula. Hmmm, hebat!

(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s