Motivasi Saja Tidak Cukup! (2)

Para motivator kerap menggelorakan semangat peserta trainingnya dengan beragam cara. Ada yang sekedar meneriakkan yel-yel, memaksa peserta menjawab pertanyaan “Apa Kabar?” sesuai dengan kreasi si motivator, hingga yang aneh mendoktrinkan bahwa hari selalu pagi dengan menjawab “Selamat Pagi” kapan pun disapa. Tentu saja, saya mengerti rasionalisasi di baliknya.

Hanya saja, saya berlatar belakang filsafat, induk segala ilmu pengetahuan. Ada beda cukup jauh antara rasional dengan rasionalisasi. Ini seperti penyebab dengan dalih atau alasan. Segala sesuatu yang berlangsung maupun tidak pasti ada penyebabnya. Tapi kalau dicari-cari, itu namanya alasan atau dalih, terutama bila tidak terlaksana.

Jadi, lupakan dulu trik dagang para motivator itu.

Yang kita bahas di sini adalah hubungan antara bisnis dengan motivasi. Saya sering menemui orang begitu bersemangat untuk memulai bisnis. Sebenarnya, secara psikologis bukan bisnisnya yang membuat bergairah, tapi memulai hal barulah yang memicu adrenalin. Ini sama saja dengan saat kita pertama kali masuk sekolah hingga pertama kali masuk kerja. Anak kecil bila diajak ke suatu tempat menyenangkan untuk piknik misalnya, malah bisa begitu bersemangat sampai-sampai tidak tidur semalaman. Tindakan yang malah membuatnya lelah dan mengantuk saat tiba di tempat rekreasi keesokannya.

Fenomena semacam inilah yang sering saya lihat saat melihat para pebisnis baru. Begitu bersemangatnya sehingga seakan tak tahan lagi barang sedetik pun untuk ‘nyebur’. Saya lantas jadi teringat puisi karya Hamsad Rangkuti yang ditorehkan di tembok bawah jembatan fly-pass Landmark Tower sebagai mural: “Semua Kecebur? Semua kecebur!”

Ya, semua kecebur ingin jadi entrepreneur. Padahal, sebenarnya jadi entrepreneur, pengusaha, bisnisman, usahawan, wiraswasta, atau wirausaha tidaklah seseksi seperti dikumandangkan di kelas motivator. Hanya memang, potensi meraih kekayaan dan kebebasan lebih besar dibandingkan bekerja kepada orang lain. Cuma ya itu tadi, motivasi saja tidak cukup. Bersemangat saja cuma bakal membuat kita jadi kecebur. Kalau cuma kecebur mending, kalau kelelep gimana?

Karena itu, setelah termotivasi jadi pengusaha, kita harus mengerjakan pe-er alias pekerjaan rumah kita. Jangan minta orang lain membukakan jalan sukses buat kita. Ikut seminar, training, workshop, atau malah kelas pengusaha tidak ada gunanya kalau kita tidak bertindak. Kalau istilahnya milis TDA, “take action!” Kalau ada orang lain terlibat, ia sekedar membantu. Kitalah yang harus bekerja keras dan cerdas sendiri. Toh nanti hasilnya kita sendiri juga yang paling banyak menikmati.

Pe-er itu adalah melakukan analisa SWOT terhadap diri sendiri, membuat rencana bisnis, melakukan riset pasar, menyiapkan modal dan perlengkapan bisnis, untuk kemudian mencari mitra bisnis dan barulah menjalankan bisnis. Terlalu ribet? Terserah. Ada yang bilang ngapain pusing-pusing, sekalian saja nyebur jadi pengusaha biar ngerasain. Ngerasain apa? Bangkrut? Emang enak?

Jangan mau sekedar dimotivasi, apalagi diprovokasi. Anda harus tahu langkah-langkahnya dulu. Kalau bisnisnya cuma modal ribuan rupiah sih cuek saja langsung nyebur tanpa banyak cing-cong. Tapi kalau jutaan apalagi milyaran? Huh, ta’ u’u’ ya. Hati-hati, sekarang banyak orang pinter yang ‘minteri’. Mereka menawarkan apa yang disebutnya bisnis padahal baru prospek bisnis. Ada yang menawarkan franchise dengan menghitung BEP & ROI dalam skala maksimal, padahal bisnis tak akan selalu di atas. Jangan berpikir menanamkan modal besar pasti untung besar. Banyak contoh kehati-hatian dipadu keberanian dan kreativitas membuahkan hasil luar biasa.

Saya pernah menulis soal fenomena FaceBook (klik di sini). Itu adalah contoh bagus dari kreativitas, keberanian melihat peluang sekaligus kehati-hatian. Mark Zuckerberg sudah mendaftarkan hak cipta dan segala legalitas hukum perusahaannya saat ia merilis versi komersial FaceBook. Maka, ia pun menuai hasilnya: jadi milyarder termuda di dunia teknologi informasi.

So, hati-hati ya buat yang baru saja termotivasi untuk jadi pebisnis. Dunia ini penuh buaya. Baik buaya darat, laut, maupun udara. (kok jadi kayak angkatan bersenjata ya?). Pokoknya, cari mentor, terus belajar, seraya berani melangkah setapak demi setapak. Itu paduan yang akan membawa ke kesuksesan, bukan sekedar motivasi. Ocee?

(oleh Bhayu Mahendra H. diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Iklan

3 responses to “Motivasi Saja Tidak Cukup! (2)

  1. superr…mas..(artikel super bagus maksudnya) 😀

    Terutama saya sangat suka dengan yang ini (copaste):
    “Saya pernah menulis soal fenomena FaceBook (klik di sini). Itu adalah contoh bagus dari kreativitas, keberanian melihat peluang sekaligus kehati-hatian. Mark Zuckerberg sudah mendaftarkan hak cipta dan segala legalitas hukum perusahaannya saat ia merilis versi komersial FaceBook. Maka, ia pun menuai hasilnya: jadi milyarder termuda di dunia teknologi informasi.

    So, hati-hati ya buat yang baru saja termotivasi untuk jadi pebisnis. Dunia ini penuh buaya. Baik buaya darat, laut, maupun udara. (kok jadi kayak angkatan bersenjata ya?). Pokoknya, cari mentor, terus belajar, seraya berani melangkah setapak demi setapak. Itu paduan yang akan membawa ke kesuksesan, bukan sekedar motivasi. (Bhayu.MH)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s