Hari Ibu dan Iklan Politik

iklan-pd-pks

Hari Ibu biasanya dirayakan dengan cara yang unik. Ada yang menggelar lomba masak, lomba kebaya, atau hal-hal domestik lain. Padahal, jika mencontoh perayaan serupa di luar negeri, sudah selayaknya hari Ibu digunakan untuk memberikan penghormatan pada peran ibu sebagai wanita multi-peran. Bukannya malah seolah menjustifikasi bahwa sosok ibu cuma berperan dalam soal domestik saja.

Toh tahun ini ada yang berbeda. Ada sebuah partai politik yang memanfaatkan momentum hari Ibu untuk mencuri simpati pemilih. Parpol itu adalah Partai Demokrat yang dengan cerdik gencar memanfaatkan momentum Hari Ibu untuk melansir iklan politik.

Iklan ini tidak menuai reaksi negatif dari masyarakat karena pesannya cukup mengena dan santun. Hanya saja memang terkesan hanya PD saja yang menghormati peran ibu di Indonesia. Musababnya karena tidak ada parpol lain yang mengambil momentum itu untuk beriklan. Cerdik memang. Apalagi jelas penduduk -dan tentu saja pemilih- Indonesia lebih banyak kaum perempuan. Kemenangan SBY pada Pemilu 2004 pun disinyalir karena ia banyak dipilih ibu-ibu. Sayangnya, tetap saja peran ibu yang dikedepankan parpol tersebut dalam iklan baru sebatas peran domestik saja. Ditambah lagi, pemanfaatan momentum itu memang mengesankan hanya PD saja yang menghormati ibu.

Kecerdikan ini agak berbeda dengan nasib yang diterima Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang melansir iklan bertemakan Hari Pahlawan bulan lalu. Pasalnya, PKS nekat mengusung Soeharto dalam iklannya dan menempatkannya sebagai “Guru Bangsa”. Karuan saja suasana “Soeharto-phobi” yang masih terasa di masyarakat pasca reformasi 1998 membuat iklan politik itu menuai reaksi negatif. PKS dituding sebagai “antek Cendana” hingga tidak tahu etika berbangsa.

Padahal, ya namanya jualan, berhak saja semua orang bilang jualannya sebagai “kecap nomor satu”, entah bagaimana caranya. Dan kalau dalam rangka membuat jualannya laku ada yang merasa perlu menggaet tokoh kontroversial atau sekedar menempelkan profilnya ya silahkan saja. Kan nanti pasar alias pembeli yang menilai. Kalau dinilai oke iklannya dan produknya sesuai, pasti laku. Kalau tidak ya tidak. Gitu aja kok repot…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s