Sombong & Percaya Diri

Tiap kali ditanya siapa pun, saya kerja di mana, biasanya saya menjawab, “Saya tidak kerja.” Biasanya si penanya akan terdiam. Tapi kalau ada yang tega atau iseng atau memang ingin tahu, akan bertanya lebih lanjut. Barulah saya bilang dengan nada rendah, “Yah, saya alhamdulillah sedang mencoba usaha sendiri.”

Kenapa saya menjawab begitu?

Karena saya sombong.

Saya punya segala hal yang bisa membuat saya sombong. Sejak masih duduk di bangku SD, saya sudah dikelilingi dan dikagumi lawan jenis. Tapi, sekarang malah saya yang takut sama lawan jenis, takut tidak bisa membahagiakan mereka. Hehehe. Kalau sesama jenis, tak jarang merasakan saya sebagai ancaman karena iklim kompetisi sesama pria. Tapi banyak yang pintar menjadi sekutu saya agar bisa mengambil manfaat dari apa yang saya miliki. Tentu saja, ada pula yang tulus. Dan kepada orang-orang tulus ini saya tetap menjalin hubungan persahabatan walau secara geografis mereka ada yang terpisah jarak. Harus diakui, saya memang agak pemilih dalam berteman. Karena pengalaman saya sejak muda, banyak orang yang ternyata tidak memiliki ketulusan. (Sahabat saya tidak harus kaya atau good-looking lho, tapi tulus. Mereka umumnya punya keyakinan beragama cukup baik. Itulah yang jadi ukuran saya. Yang jelas, mereka senantiasa ada saat saya membutuhkan.).

Pun orangtua saya cukup berada, pemilik perusahaan dan pejabat publik, itu membuat saya punya beragam fasilitas yang tidak dipunyai orang lain. Karena mereka berdua pintar, saya pun kecipratan. Punya sederet gelar dari beberapa kampus bergengsi mungkin bisa jadi ukuran. Suatu pencapaian yang tidak cuma bisa dicapai sekedar dengan uang saja. Tidak hanya itu, saya pun aktif berorganisasi dan selalu jadi ketua di setiap organisasi yang saya masuki. So, apalagi yang kurang?

Tuh, sombong kan?

Saya ini sombong, makanya saya selalu berusaha belajar dari kehidupan.

Terlepas dari banyak kekurangannya, orangtua saya yang memang aslinya ‘orang kampung’ mendidik saya dengan keras. Saya tidak dibekali uang selain untuk dua keperluan: pendidikan dan kesehatan. Bahkan tradisi belanja lebaran saja tidak ada. Kami juga nyaris tak pernah liburan. Hari Minggu ayah saya yang workaholic akan tidur kecapekan, kalau tidak malah ada meeting untuk urusan politik. Maklum, beliau itu ketua di salah satu parpol zaman Orde Baru.

Kekerasan orangtua itu membuat saya pun jadi keras pada diri sendiri. Seorang inner circle saya yang kebetulan warga negara asing sudah bisa menebak habit workaholic pada diri saya sejak pertama kali kenal. Tentu. Itu betul. Tapi saya bukan cuma hard worker, tapi juga hard player. Yeah, you know. I try to apply work hard-play hard principle. Itulah yang membuat saya beda dengan ayah saya yang benar-benar keranjingan kerja itu.

Sombong itulah yang membuat saya pernah diperingatkan Tuhan saya dengan keras bertahun-tahun lalu. Dan saya jatuh tersungkur, terjerembab hingga babak-bonyok. Kerugian tidak hanya material, tapi juga fisik dan fisis. Luar biasa hancurnya. Tapi saya memilih untuk bangkit lagi. Perhatikan kata “memilih”, karena orang di kondisi seperti yang saya alami dulu banyak yang “memilih” untuk tetap pingsan saja. Dari semula menyalahkan orang yang menyebabkan saya hancur, sampai kemudian saya bisa introspeksi dan proporsional terhadap masalah dan penyebab masalahnya. Dan peran kekasih saya saat ini sangat besar untuk membuat saya percaya diri lagi.

Nah, percaya diri.

Kata ini kerapkali jadi andalan motivator untuk memompa semangat peserta seminar motivasinya. Tapi tahukah Anda, batas antara percaya diri dan sombong itu setipis titian rambut dibelah tujuh?

Dalam jalan kehidupan saya, kerapkali orang-orang dengan tingkatan pe-de yang over ini saya temui. Ingat, kesombongan itu bisa timbul karena kesempurnaan fisik, kepandaian otak, ketrampilan tangan, kekayaan harta, keluwesan pertemanan, atau kehandalan bicara. Sebenarnya, apa pun bisa menjadi pemicu (trigger) kesombongan kita. Sekedar mengingatkan, di masa kecil barangkali kita pernah saling “adu hebat” dengan teman main kita.

“Aku dong, aku dong. Punya mainan baru.”

“Aku juga punya.”

“Ah, punya kamu mah jelek. Bagusan punyaku. Papa belinya di Ratu Plaza.” (sewaktu saya kecil, Ratu Plaza adalah pusat perbelanjaan termewah di Jakarta).

“Kamu yang jelek. Papaku beliin mainanku di Hongkong dong.”

Dan datanglah anak ketiga yang langsung tak mau kalah.

“Alah, udah deh. Jangan pada sombong. Aku aja punya mainan baru bagus banget aja enggak sombong. Bapakku belinya aja di langit.”

Halah!

Itulah perbincangan “adu hebat” kita sewaktu kecil. Tentu saja variannya beragam, tapi intinya sama: kita ingin jadi yang terhebat, bahkan dengan ngibul sekali pun.

Herannya, saya sering sekali menemui “kontes adu hebat” ini di saat dewasa. Dan lucunya, orang-orang yang “adu hebat” ini justru mereka yang kerap berkoar-koar soal keteladanan dan mengkampanyekan nilai-nilai hidup. Seorang trainer motivator misalnya, guna menunjukkan kehebatannya sampai perlu-perlunya bilang di depan hadirin di sebuah gathering, “Sekarang saya sudah punya rumah di xxxxxxxxx (sensor, ia menyebut nama sebuah perumahan bagus) karena penghasilan sebagai trainer motivator ini lebih besar daripada gaji sewaktu saya masih bekerja di xxxxxxxx (sensor lagi, ia menyebut sebuah perusahaan multinasional).”

Dalam hati saya bergumam, apa perlunya ya menyebut hal semacam itu?

Iklan

6 responses to “Sombong & Percaya Diri

  1. Hahaha…tulisan mas Bhayu ini berkesan menyindir para Motivator ya, tapi yaa bagus saja kok. 😉

    Kadang atau bahkan sering, Pembicara motivasi menceritakan kehebatan dirinya yang sukses meraih impian, dengan terkesan PAMER kesuksesan… sudah punya rumah mewah, mobil mewah, keliling dunia, dsb. 😀

    Mereka rata-rata juga bercerita, bahwa dulunya masih miskin, duitnya juga pas-pasan sebagai pegawai, dan akhirnya mereka punya tekad kuat untuk mengubah pilihan hidupnya dalam meraih sukses!

    Tapi yang LUCU menurut saya, di saat mereka bercerita meraih sukses itu…kok aneh. Banyak diantara mereka, para motivator ini, berkata bahwa dia harus belajar dari yang terbaik di luar negeri sono, Amerika, atau Australia…tempat “para guru sukses” bermukim, dan itu benar-benar dilakukannya, dan dalam tempo waktu yang lama lagi…beberapa hari atau beberapa minggu (biaya hidup di sono berapa?)

    Yang aneh adalah, mereka tidak menceritakan UANGNYA dari mana…lha awalnya kan berkisah bahwa mereka ini dari golongan yang TIDAK KAYA.

    Di satu kesempatan, saya pernah iseng bertanya ke salah satu pembicara sukses top, begini: “lho katanya anda ini nggak punya duit banyak saat memutuskan keluar dari status pegawai, dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja bukan milyarder, tapi kok bisa langsung belajar ke luar negeri dengan biaya RATUSAN JUTA RUPIAH…?”

    Yaaa….dia “ngeles” menghindari pertanyaan saya, alias orang jawa bilang “Nyelimur” mengalihkan perhatian ke topik lainnya….hwekekekek… nggak bisa jawab deh… 😀

    Ini yang sangat saya sayangkan. Memang motivator seperti mereka ini bermaksud memotivasi orang lain. Tapi kalau terlalu “bluffing” seperti itu, ya tidak benar menurut saya, meskipun banyak orang yang kurang cermat menyimak ceritanya (kecuali saya…hehe..sombong nggak ya?)

    Ok, salam sukses luar biasa prima,
    Wuryanano

  2. heuheuheu..
    seru juga tu baca yang satu ini..
    jadi inget waktu kecil.. 🙂
    tapi klo sekarang anak2 pada gitu juga ga ya..
    jangan2 dah dewasa sebelum waktunya.. jadinya ikut2an debat ky orang dewasa.. hihihi
    padahal kan salahsatu syarat untuk berdebat itu, klo dia memang sudah sangat memahami apa yang akan didebatkan yah.. ngga malah jadi ky pepatah “Tong kosong nyaring bunyinya”..
    tapi.. ya.. gitu deh.. 😀

  3. Mas Bhayu…Met kenal ya,,,,

    Mungkin maksudnya motivator tsb baik..dia ingin berbagi pengalaman ke peserta klo dengan berdiri sendiri hasil yg dicapai tentu akan jauh lebih baik daripada bergantung dengan orang lain. ie.kita jadi pekerja,,,

    Si motivator juga ingin ”memanas2i” peserta trainingnya..Dengan tujuan si peserta mjd panas dalam arti positif..’Motivator yg hanya modal cuap2 aja bisa beli mobil dan rumah mewah..sedangkan kita, -sbg peserta training, yg notabene yg mbayar dia- pasti mampu juga dong!!!

    Gitu kali mksdnya….Be positif thinking aja,,

    Thx
    Hasta

  4. Banyak orang juga sering tanya-tanya padaku begitu dan mereka tidak percaya. Masak tinggal di Perancis hanya nganggur sih?

    Salam kenal ya! Blognya bagus deh!

  5. Ping-balik: Vanitas & Narsis « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s