Kursus Memikat Wanita

Pagi ini, tanpa sengaja saya melihat acara talkshow Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan di TV-One yang digelar di Taman Suropati. Ada sejumlah narasumber yang diundang. Namun ada satu yang menarik perhatian saya. Itu adalah dari sekelompok orang yang menamakan diri Hitman System. Saya sudah tahu mereka semenjak baru berdiri di tahun 2006. Nama yang menarik, karena kata “Hitman” secara harafiah berarti “pembunuh bayaran” yang bisa diartikan juga sebagai “pemburu”. Dan karena saya ‘gamers’, saya tahu istilah itu dipopulerkan oleh sebuah game bertitel Hitman yang terdiri dari 5 seri (2000-2007) rilisan IO-Interactive. Game ini sendiri sudah dilayarlebarkan tahun 2007 lalu dengan bintang Timothy Olyphant.

Namun, Hitman Indonesia ini bukanlah kelompok pembunuh bayaran, melainkan sistem yang dibuat oleh sekelompok orang yang katanya ampuh untuk memikat wanita. Dipelopori oleh orang seperti Kei Saviour dan Lex d’Praxis (apakah itu nama asli?), mereka membuat kursus bagi lelaki untuk memikat wanita. Menarik ya? Saya tidak mau mendebat sistem mereka, karena dari website-nya pun tidak terlalu tergambar. Jadi, cara satu-satunya untuk mendebat adalah ikut dulu kursusnya. Padahal, saya tidak merasa butuh. (Halo Bung Lex, thank’s beberapa waktu lalu sudah komentar di blog ini. Walau link Anda terpaksa saya hapus karena hard selling.)

Apa yang hendak saya ulas hari ini adalah kebutuhan anak manusia untuk mendapatkan afeksi. Karena saya adalah praktisi psikologi, maka mungkin menarik bagi LifeLearner bila saya menggunakan sejumlah rujukan dari para pakar. Jadi, saya tidak cuma ngomong pengalaman saya sendiri yang sangat subyektif sifatnya.

Hampir sepanjang hidupnya, manusia selalu mendambakan afeksi. Ini adalah istilah teknis yang secara awam dikenal sebagai cinta. Namun, sejatinya afeksi (affection) sebenarnya lebih luas sifatnya. Afeksi merupakan gabungan dari rasa ingin dihargai, dicintai, saling membutuhkan dan keterikatan sekaligus. Dan afeksi tidak hanya muncul dari hubungan antar lawan jenis saja. Tapi juga hubungan dengan orangtua atau bahkan orang lain yang kita hargai.

Namun, tentu saja afeksi paling asyik ya dengan lawan jenis. Karena dengan lawan jenis kita mendapatkan bumbu yang tidak didapatkan dari hubungan dengan orang lain. Apa itu? Romantika dan akhirnya, seks. Tentu saja, saya anggap pembaca blog ini -LifeLearner- sudah dewasa semua. Karena itu, tidak jadi problem bila kita bicarakan omongan ‘orang dewasa’ seperti ini.

Dalam afeksi dengan lawan jenis, kita punya satu kecenderungan, yaitu ingin memiliki. Di sini, kemudian berperanan sejumlah faktor yang membuat manusia seolah berada pada tahap kompetisi untuk mendapatkan afeksi yang diinginkannya. Karena kerapkali, pengharapan akan afeksi tidak muncul dari kedua belah pihak. Karena itulah, maka ada istilah “bertepuk sebelah tangan”.

Mungkin karena kesibukan dan makin individualistisnya manusia, maka makin sulit pula menjalin hubungan inter-personal. Seperti di Jepang, sindroma kesepian makin meningkat. Jumlah pasangan yang menikah menurun, dan penjualan alat bantu seks dan prostitusi meningkat. Karena ketidakmampuan menjalin afeksi, maka cara-cara instan dipergunakan.

Padahal, sejatinya kemampuan inter-personal merupakan satu bentuk skill yang bisa dilatih dan dipelajari. Bisa jadi atas dasar pemikiran itu, Hitman System mencoba membuat kursus memikat wanita.

Sebenarnya, untuk memikat lawan jenis, tidaklah perlu sampai ikut kursus segala. Tapi yang perlu adalah, mempertinggi kualitas diri sendiri. Dengan begitu, niscaya lawan jenis akan datang dengan sendirinya. Hal ini juga diakui oleh para pengelola Hitman System dalam wawancaranya dengan TV-One.

Tapi jangan salah, kualitas diri itu ada yang asli, dan ada yang semu. Yang semu dimiliki oleh para gigolo. Kalau mau lihat versi kocaknya, silahkan tonton film komedi Indonesia Quickie Express (2008). Tapi dari film kocak itu kita bisa tahu, bahwa kemampuan seorang ‘pria sejati’ bisa dilatih dan dibiasakan.

Kita bisa memilih menjadi seorang ‘pria apa adanya’ artinya tanpa ada perbaikan dan berharap atau malah memaksa orang lain untuk tertarik dengan diri kita, atau berusaha menjadi lebih baik. Hal ini juga berlaku pula bagi wanita. Dan menjadi lebih baik dalam hal apapun perlu usaha. Ingat, hidup adalah samudera pilihan dan lautan usaha belaka.

Tanpa ikut kursus, kita bisa memahami lawan jenis lebih baik dengan membaca buku semacam Men Are From Mars, Women Are From Venus (1992) karya John Gray, Ph.D. Khusus bagi pria, buku dari Barbara De Angelis, Ph.D. berjudul What Women Want Men to Know (2001) juga bagus. Pendeknya, kemampuan macam itu bisa dipelajari. Tapi tak ada yang lebih baik dari pengalaman. Alah bisa karena biasa, kata pepatah. Jadi, just do it. Practice make better. Oke?

6 responses to “Kursus Memikat Wanita

  1. Tanpa ikut kursus, kita bisa memahami lawan jenis lebih baik dengan membaca buku semacam Men Are From Mars, Women Are From Venus (1992) karya John Gray, Ph.D. Khusus bagi pria, buku dari Barbara De Angelis, Ph.D. berjudul What Women Want Men to Know (2001) juga bagus. Pendeknya, kemampuan macam itu bisa dipelajari.

    Memang sudah banyak buku populer yang beredar tentang topik memahami percintaan dan lawan jenis, namun sayangnya hampir semua dituliskan dalam semangat mengagung-agungkan idealisme cinta, bukannya mencoba membedahnya dalam bahasa yang lebih praktis dan sederhana. Misalnya, kebanyakan sering mengeksplorasi topik cinta lewat kisah romantis ataupun metafor cantik yang lebih enak-didengar daripada berdasarkan-realita.

    Ditambah lagi, seperti yang saya sudah sebutkan dalam tayangan tersebut, kesalahan dari belajar tentang hubungan lawan jenis, cinta, asmara dan tetek bengek dari nyaris seluruh buku yang tersedia tersebut adalah karena kealpaan mereka untuk menyadari bahwa adanya beberapa fase dalam interaksi dinamika sosial pria-wanita. Misalnya, apa yang efektif dan cocok dipakai dalam tahap HUBUNGAN (relationship) tidak selalu bernilai demikian bila dipakai dalam tahap PRA-HUBUNGAN (pre-relationship).

    Terakhir, referensi buku-buku yang Anda seringkali memberikan terlalu banyak penekanan pada MEMPELAJARI / MEMAHAMI lawan jenis. Sekalipun itu ada gunanya, namun sayang sekali justru memberikan awalan yang buruk bagi seorang insan manusia dalam perjalanannya mencari sang pasangan hidup. Buku-buku seperti Mars-Venus jauh lebih cocok digunakan panduan komunikasi pria-wanita, bukannya peta untuk menciptakan atraksi, afeksi, maupun kelekatan (attachment) romantika antar pria-wanita.

    Terlepas dari itu semua, yup saya setuju dengan Anda bahwa seluruh hal-hal di atas memang DAPAT didekonstruksi ke dalam sejumlah prinsip dan pendekatan praktis sehingga mudah ditransfer kepada orang yang membutuhkannya. Berbicara tentang asli dan semu, nyaris segala sesuatu yang kita pelajari di usia dewasa ini bisa dikatakan semu karena kita tidak terlahir dengannya. Jangankan ilmu pengetahuan atau keterampilan, RASA TAKUT saja sebenarnya adalah sesuatu yang dipelajari (sebagaimana yang saya pelajari dari beberapa sumber bahwa pada saat bayi kita hanya mengenal dua rasa takut, yakni takut ketinggian dan takut kebisingan).

    Salam kenal.

    Lex dePraxis

  2. Terima kasih Bung Lex, masukan Anda sangat berarti. Jadi, kalau ada LifeLearner yang mau ikut kursus atau memperdalam kemampuannya memikat wanita, silahkan langsung menghubungi teman kita ini. Saya tidak dalam posisi untuk mendebat, setuju atau tidak. Jadi, silahkan saja LifeLearner mengambil kesimpulan sendiri. Toh bung Lex ini termasuk ‘pejantan tangguh’ yang berani berkomentar dengan identitas jelas.

    Sukses ya, Bung!

    Bhayu M.H.

  3. aku baca buku nya john gray banyak menulis bagaimana memahami wanita dan karakteristiknya namun dalam prakteknya sulit bagi saya untuk memulai hubungan

    gambarannya adalah pria adalah seorang pemburu , tidak mungkin seorang pemburu hanya mengenal buruannya namun tidak melatih dan mengembangkan dirinya sendiri untuk menjadi pemburu

    tidak cukup bagi seorang prajurit mengenal musuh mereka kalau mereka tidak melatih diri untuk berperang

    yang gw tau dari artikel2 nya hitman bukan berbicara soal mengenal wanita namun justru kepada pria itu sendiri yaitu bagaimana seorang pria menjadi menarik, menyenangkan, pemimpin, dan bertanggung jawab.

    kalau buku john gray hanya membahas bagaimana memperlakukan wanita dengan baik tapi tidak mengajarkan bagaimana menjadi pria menarik

    that’s my opinion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s