Berbisnis Sendiri atau Mencari Mitra Usaha? (I)

Pertanyaan ini hampir senantiasa muncul dalam setiap acara bertema kewirausahaan atau entrepreneurship yang saya ikuti. Ada yang yakin bahwa “bersama kita bisa”, tapi ada pula yang keukeuh bilang “saya ini superman”. Intinya, ada polemik antara yang membangun bisnis bersama mitra dengan yang sendirian. Sebenarnya keduanya sama-sama bisa berhasil. Banyak contoh dari dunia bisnis soal ini.

Pertama-tama, sebenarnya ada hal dasar yang harus dipahami dalam berbisnis. Untung tak perlu dibagi, resiko kerugian-lah yang harus ditanggung renteng. Jadi, waspada di awal apabila ada tawaran investasi yang bilang: investor pasti untung. Mustahil! Kalau memang pasti untung, kenapa tidak dimakan sendiri saja? Kalau ada yang bilang, itu karena modal yang mencari investor tidak cukup, berarti business opportunity yang ditawarkan sebatas di awang-awang. Karena seorang entrepreneur sejati sebelum melangkah pasti sudah tahu secara intuitif apa yang dalam teori dikenal sebagai SWOT. Bahkan saking intuitifnya, kerapkali tidak perlu dirumuskan secara tertulis, tapi langsung dijalankan.

Jadi, dia tidak akan masuk ke suatu bisnis yang secara intuitif tidak cukup dikuasainya, termasuk permodalannya tidak cukup. Saya beri contoh sederhana, seorang perantauan dari kampung dengan modal uang yang dimiliki hanya 500 ribu tidak akan neko-neko bikin café atau beli franchise. Ia paling akan membuka bisnis yang sesuai dengan modal uang itu. Nah, pilihannya tinggal kesesuaian dengan keahlian atau ketrampilan yang dimilikinya. Yang paling gampang ya berdagang. Tinggal kulakan, pilih lokasi berdagang, dagang deh. Tapi, dapat pembelinya mungkin tidak segampang itu. Tergantung jenis barang dan demografi penduduk sekitar lokasi yang bisa jadi terlalu rumit untuk orang kampung.

Intinya, jangan pernah berpikir bahwa modal yang tidak cukup milik kita bisa ditutup dengan modal orang lain. Sahabat saya Rene Suhardono Canoneo yang punya banyak café itu pernah bilang, “Anda akan ditertawakan kalau menawarkan ke investor untuk menanamkan uang 1 milyar ke prospek bisnis (business opportunity) rancangan Anda, sementara Anda cuma punya uang 1 juta!” Intinya, ya jangan neko-neko.

Mulai saja dari yang kecil, mulai dari yang ada, mulai dari hal sederhana. Yah, mirip-mirip anjuran 3M-nya Aa’ Gym-lah.

Dari sini, kita bisa tahu dua hal dari SWOT: Strength alias kekuatan dan Weakness alias kelemahan kita. Kalau dalam bisnis yang akan kita kerjakan itu kita merasa mampu sendirian, ya kerjakan saja sendiri. Banyak bisnis macam ini, cirinya adalah sebenarnya bisnis macam ini mengandalkan keahlian profesional. Sebagai contoh adalah praktek dokter, notaris, fotografer, penulis, desainer grafis, desainer interior, arsitek, tukang masak, tukang tanaman, tukang pijat atau massager, tukang servis apa pun, konsultan apa saja, dan macam-macam lagi.

Nah, yang perlu bermitra cirinya sebenarnya adalah dalam mengerjakan bisnis ini perlu suatu proses yang tidak cukup atau sulit bila dikerjakan satu orang. Di sinilah akan tampak kita tidak bisa mengerjakan proses yang mana. Inilah W kita, dan kita harus mencari mitra untuk mengisi W itu. Apalagi kalau resiko bisnisnya tinggi, sehingga harus ada orang lain yang ikut menanggung.

One response to “Berbisnis Sendiri atau Mencari Mitra Usaha? (I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s