Kudatuli

Kerusuhan Duapuluh Tujuh Juli = Kudatuli

Saya menciptakan istilah itu sewaktu masih bekerja sebagai Redaktur cum Fotografer di Tabloid SWADESI. Idenya sederhana saja, saya mengusulkan pada Pemimpin Redaksi saya agar membuat istilah yang mudah diingat seperti Malari (Malapetaka Limabelas Januari). Dan ketemulah istilah Kudatuli. “Ku”-nya berarti “kerusuhan”, bukan “kudeta”. Pertama kali dimuat di Tabloid SWADESI edisi Juli 1996.

Tanpa dinyana, istilah ini kemudian populer. Hari ini saya melihat ada dua televisi yang menayangkan dokumentasi peristiwa yang terjadi 27 Juli 1996 ini menggunakannya. Juga situs detik.com (meski menuliskan “Ku”=”Kudeta”). Alhamdulillah. Tidak terpikir untuk mengambil untung. Buat apa? Lagipula itu bukan istilah komersil, bukan tagline iklan. Bisa dipakai dan diterima saja sudah alhamdulillah. Apalagi ini cukup sering dipakai. Malah Prof. Soehardiman, SE sang Ketua Umum SOKSI pun sudah memakainya dalam salah satu bukunya. Yah,minimal saya punya tabungan ilmu yang berguna bagi masyarakat, lumayan buat nambah timbangan saat hari kiamat nanti…

Sebenarnya waktu itu ada istilah ‘tandingan’, yaitu “Sabtu Kelabu”. Tapi seiring berjalannya waktu, siapa sih yang masih iseng mengingat-ingat kalau tanggal itu adalah hari Sabtu? Maka istilah Kudatuli (ada yang memisahnya jadi Kuda Tuli, terserah saja sih) terasa lebih nyaman dipakai.

Tapi lepas dari istilahnya, Kudatuli ini sebenarnya merupakan pisau bermata dua (double jeopardy). Baik bagi pemerintah maupun bagi Megawati dengan PDIP-nya. Bagi pemerintah, peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI (waktu itu PDIP belum ada) yang dikuasai massa pro-Mega oleh massa Pro Kongres IV Medan merupakan kebijakan tidak resmi. Tidak ada institusi yang resmi terlibat, tidak ada surat perintah. Yang ada adalah menindaklanjuti isyarat Soeharto saja.

Meski berhasil merebut kantor itu, namun ternyata kemudian pecah kerusuhan di sekitar Salemba hingga Senen. TGPF menyatakan dua kejadian itu walau terjadi berurutan namun terpisah. Itu merupakan embrio perlawanan gerakan pro-demokrasi. Budiman Sudjatmiko dengan PRD-nya lantas jadi ‘selebritis’ karena dituduh pemerintah Orde Baru sebagai dalang kerusuhan.

Bagi Megawati, kejadian itu juga lantas menaikkan nama dan pamornya. Meski pada hari itu ia cuma berdiam diri di rumah saat kantornya diserbu, toh media massa, LSM dan terutama pihak luar negeri menganggapnya sebagai icon perjuangan demokrasi. Namanya mendadak disejajarkan dengan Corazon “Cory” Aquino bahkan Aung San Suu Kyi. Maka, meski pada hari itu ia seolah mengalami ‘kekalahan’ karena kantornya berhasil direbut lawan politiknya, tapi sejatinya ia menang karena dukungan kepadanya menguat.

Inilah awal embrio goyahnya kedudukan kekuasaan Soeharto. Konon, operasi penghancuran PDI tersebut diberi sandi “Operasi Naga Merah”. Dan atas inisiatif intelijen, mereka mencoba ‘mengamankan’ Soeharto justru dengan tindakan yang ternyata berbalik hasilnya menghantam Soeharto sendiri. Mega bukannya tidak punya back-up. Ada sejumlah perwira militer yang nekat mendukungnya (karena berarti melawan Soeharto). Antara lain adalah Agum Gumelar yang ketika itu berpangkat Letnan Jenderal dan memegang jabatan Staf Ahli Pangab bidang PoIkam. Tak heran Mega kemudian membalas jasanya dengan menjadikannya Menteri Perhubungan pada Kabinet Gotong Royong yang dipimpinnya. (Sebelumnya pada kabinet Persatuan Nasional Presiden Abdurrahman Wahid, Mega juga memperjuangkannya menjadi Menhub). Oleh karena adanya dukungan dari personel di kekuasaan itulah, diduga Mega sebenarnya sudah tahu rencana penyerbuan sejak jauh-jauh hari. Tapi bisa jadi karena ada potensi menguntungkan bagi dirinya itulah ia tidak bertindak mencegahnya.

Hingga kini penuntasan Kudatuli tidak jelas. Justru karena memang harus begitu. Karena ini politik kekuasaan, begitu banyak yang terlibat. Kalau dibongkar, fondasi negara kita dikuatirkan bisa ikut runtuh. Begitulah, kekuasaan memang memabukkan. Seperti saya pernah tulis juga, citra yang ditampilkan kepada publik belum tentu sesuai realitasnya. Jadi, apa yang dulu dilarang, siapa tahu kini malah dipuja. Siapa yang dulu pahlawan, sekarang mungkin malah pecundang. Tergantung sejarah… “history written by the winner”. Right?

Foto: Gedung korban Kudatuli (ki-ka)=dealer Honda Cakra Pangukir, Departemen Pertanian, Menara Salemba. Semua gedung di sekitar Salemba Raya. Fotografer: Bhayu M.H., 1996.

Iklan

6 responses to “Kudatuli

  1. Ping-balik: Mantan Presiden & Boikot Pemilu « LifeSchool by Bhayu M.H.·

  2. Ping-balik: Kudatuli & Megawati « LifeSchool by Bhayu M.H.·

  3. Ping-balik: Kasus 27 Juli (Kudatuli) « History Education·

  4. Ping-balik: Menoleh SEBENTAR Ke “PERISTIWA 27 JULI 1996” Atau ‘PERISTIWA SABTU KELABU” « Jurnal Toddopuli·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s