Bagaimana Hidupmu?

“How’s life, Pal?”

Begitulah sapaan dari teman berkebangsaan asing atau minimal aktif berbahasa Inggris atau pernah tinggal atau ke luar negeri. Agak aneh kalau ditanyakan dalam bahasa Indonesia, apalagi dengan dialek slank Jakarta: “Gimana hidup loe, choy?”

Rasanya kok gimanaaa gitu… Jawabannya bisa saja kan: “Mau tauuuu’ aja!”

Sebenarnya, sapaan itu maknanya daleeem. Apalagi kalau mau dipikirkan: Bagaimana hidup kita? Apakah baik-baik saja? Seringkali hidup memang berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada rencana dibuat, tapi yang tercapai berbeda. Oleh karena itu bagi yang percaya, ada ungkapan: “Manusia berencana,Tuhan berkehendak.”

Apakah kehendak Tuhan juga kalau kemarin di Surabaya ada penampakan benda langit tak dikenal atau biasa disebut UFO (Unidentified Flying Objects)? Benda langit itu berupa cahaya tiga warna dan sempat direkam oleh seorang warga dan ditayangkan di situs detikcom. Saya akan bahas soal UFO ini kemudian. Yang hendak saya utarakan di sini adalah itulah hidup. Ia begitu penuh kejutan. Kita sangka telah melihat semuanya, padahal yang kita lihat tidak sampai sepersejuta atau malah sepersemilyar dari realitas yang ada. Di saat Hollywood bisa menampilkan berbagai efek visual canggih, kemunculan UFO ternyata tetap mengejutkan.

Saya teringat pada buku Life of Pi karya Yann Martel. Di dalamnya dikisahkan bagaimana seorang pemuda India berumur 16 tahun berjuang mempertahankan hidup di lautan Pasifik pasca kapal yang ditumpanginya karam. Meski kisah ini fiksi (saya baru tahu ini fiksi setelah googling. Karena pengisahannya seolah itu kisah nyata). Dalam epilog buku itu dikisahkan, para penyelidik dari Jepang yang berupaya mencari tahu tenggelamnya kapal Tsimtsum yang memang berbendera Jepang itu tidak percaya pada kisah Pi. Sebabnya sepele: mereka tidak melihatnya sendiri.

Begitulah hidup. Seringkali pengalaman kita yang luar biasa tidak ada yang mengkonfirmasi. Malah seringkali dibantah habis. Tapi apa lantas itu membuat kita berhenti belajar dari hidup? Jadi, kalau ditanya seperti di atas, jawaban kita bukan seperti jawaban yang diajarkan yang diajarkan motivator: dahsyat, luar biasa, fantastis, yes-yes-yes. Melainkan: “I’m still learning from it”, “saya masih belajar darinya.” Atau kalau memang Anda sudah mampu: “I’m enjoying it”, “saya menikmatinya.” Bisa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s