The Dark Knight – Resensi Film

Ini masalah selera. Buat saya yang “Batmania”, inilah sekuel film Batman layar lebar terciamik yang pernah dibuat. Di tengah makin canggihnya teknologi dan kita seakan sudah bosan disuguhi teknik animasi CGI, The Dark Knight masih bisa menyajikan kejutan. Misalnya penyajian nuansa kota Gotham yang terasa jelas komiknya dengan dominasi warna biru tua dan ungu namun hidup sehingga seolah benar-benar ada. Juga efek khusus Batman yang terbang plus penggunaan alat-alat modern termasuk Batmobile benar-benar membuat kagum.

Ada resensi yang bilang, kalau di film ini Batman tidak jadi “Tuan Rumah Di Film Sendiri”. Kalau buat saya tidak juga. Cuma memang porsi untuk Joker terkesan lebih banyak. Ditambah lagi akting Heath Ledger yang bagus membuat penonton bergidik jijik menyaksikan psikotik tersebut. Memang, porsi The Joker seolah mendominasi film, dengan terornya yang amat psikologis. Buat saya yang bergelut sebagai praktisi psikologi, film ini menyajikan drama psikologis yang menarik. Pergulatan The Joker, Rachel Dawes, Harvey Dent, bahkan Bruce Wayne untuk melakukan tindakan berdasarkan pilihan bebasnya menarik dieksplorasi.

Buat yang malas mikir, toh film ini -seperti saya bilang tadi- masih menyajikan tontonan efek khusus dahsyat. Adegan actionnya memang tidak begitu banyak, tapi tetap greng. Soal cerita, ya sebenarnya standar sih: baik versus jahat. Tapi di sini, pengagum setia Batman yang justru jarang baca komik aslinya mungkin akan kecewa karena Batman dikambinghitamkan. Artinya, sang hero justru dianggap villain. Tapi buat yang beberapa kali baca komik aslinya, tentu tahu bahwa memang Batman dianggap pelanggar hukum pada awalnya sebelum diterima sebagai Sang Ksatria Kegelapan alias The Dark Knight. Sebagai bonus, penonton akan diberitahu bagaimana kisah awal munculnya “Two Face”. Tampaknya, ini akan jadi inti cerita sekuel Batman berikutnya.

Ada banyak adegan yang mengingatkan saya pada film lain dalam The Dark Knight ini. Misalnya adegan dimana terjadi pengungsian besar-besaran warga Gotham City karena ancaman The Joker. Saya langsung teringat Resident Evil: Apocalypse dimana ada adegan pengungsian massal karena ancaman biohazard. Juga adegan dimana terjadi kejar-kejaran di dalam terowongan sangat mirip dengan Speed atau DieHard. Bahkan wajah terbakarnya Two Face yang dalam komik tidak terlalu parah cacatnya, di film ini digambarkan begitu rusak hingga tengkoraknya terlihat. Itu membuat saya teringat mumi dalam The Mummy atau T-1000 dalam The Terminator:Judgment Day. Yah, “nothing new under the sun” toh?

Yang jelas, film ini memecahkan sejumlah rekor box office di negerinya. Antara lain di hari pertama mencapai pendapatan US$ 66 juta. Artinya, kehadiran film ini memang dinanti banyak orang.

Menyaksikan The Dark Knight seperti menyaksikan James Bond. Semata karena kesamaan pemeran dari sekuel sebelumnya. Pemeran Batman/Bruce Wayne masih sama: Christian Bale. Demikian juga pemeran Alfred Pennyworth dan Lucius Fox pun masih sama dimainkan oleh Michael Caine dan Morgan Freeman. Yang saya sayangkan, Katie Holmes tidak lagi bermain sebagai Rachel Dawes. Ia digantikan oleh Maggie Gyllenhaal. Buat saya, ia jelas kurang cantik dan tampak terlalu tua dibanding Katie. Tapi, yah…lagi-lagi itu masalah selera sih..

Soal selera ini juga sejujurnya saya lebih suka Val Kilmer sebagai Batman ketimbang yang sekarang. Masalahnya sederhana, bibir Val terlihat bagus begitu matanya ditutupi topeng! Badannya pun lebih kekar dibandingkan Christian. Tapi kembali lagi, itu cuma soal selera kok.

Terus terang, saya sampai memerlukan menonton ulang Batman Begins (2005) untuk menuliskan resensi ini. Selain fakta bergantinya pemeran Rachel, saya pun mendapati ada pergantian signifikan pada atribut GPD: Gotham Police Department. Dalam Batman Begins, logo GPD berbentuk lingkaran dengan tulisan dan gambar tidak jelas terlihat. Sementara dalam The Dark Knight ini lambang kepolisan kota Gotham –yang fiktif- dibuat begitu mirip dengan NYPD (New York Police Department) –yang nyata- dan tulisan Gotham Police Department-nya cukup jelas. Sementara atribut Batman nyaris tidak ada perubahan, termasuk pada mobil Thumbler yang dijadikan Batmobile.

Yang saya tidak mengerti, mengapa dalam posternya ada gambar gedung terbakar dengan bentuk lobang berlambang Batman ya? Padahal, dalam filmnya tidak ada adegan macam itu. Melihat bentuk lobangnya, seolah itu adalah plesetan dari Insiden 9/11, dimana ada gedung ditabrak pesawat (lihat gambar di atas). Apakah pembuatnya punya misi tersembunyi mengatakan bahwa baik Batman maupun tersangka 9/11 sama-sama jadi kambing hitam belaka? Yah… terserah selera Anda lah…

 

Kunjungi RESENSI-FILM.com untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

resensi-film header for lifeschool

2 responses to “The Dark Knight – Resensi Film

  1. Ping-balik: Batman dan Joker: Antara Pahlawan dan Penjahat « LifeSchool by Bhayu M.H.·

  2. Ping-balik: Panggilan Ulang Total « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s