Berapa Harga Anda?

Kerapkali saat menghadapi pelamar atau calon tenaga kerja saya terhenyak sendiri, betapa banyak yang tidak tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri. Hal ini terutama tampak dari pertanyaan: “Berapa gaji yang anda minta?”

Sebenarnya, dalam melamar pekerjaan, semua itu tidak terlalu sulit karena tergantung dari jabatan yang dilamar, pengalaman kerja anda dan tingkat pendidikan anda. Pendeknya, kata orang Betawi, “lu jual, gue beli.” Kita sebagai tenaga kerja menjual kemampuan kita, dan perusahaan membelinya. Pertanyaan, “apa yang telah Anda lakukan di perusahaan lama yang membangggakan” atau “kontribusi apa yang anda akan berikan pada perusahaan ini” kerapkali sulit dijawab.

Apa sebabnya? Saya sudah mengulas sedikit di hari Sabtu kemarin. Betul. Rutinitas. Banyak orang mengerjakan sesuatu apa adanya. Asal selesai, asal cepat rampung, asal pulang. Akibatnya banyak yang teng go. Begitu jam pulang, langsung deh ngacir keluar dan ngantri absen.

Yang saya heran, banyak yang menghargai dirinya justru terlalu tinggi. Saya tertawa di belakang saat ada seorang lulusan S-2 yang katanya cuma mau bekerja tiga hari seminggu saja dan meminta gaji yang besar. Wah, apa ada ya yang mau mempekerjakan dia? Kalau memang dia sehebat itu, pasti tidak perlu bekerja lagi. Cukup tunggu orderan saja di rumah karena dia sudah berada di kuadran S-nya Kiyosaki.

Ada juga lulusan baru yang meminta gaji setara dengan karyawan yang sudah dua tahun bekerja. Pertimbangannya? Rumahnya jauh, jadi ongkosnya mahal. Halah! Who cares gitu lhoh? Kalau kita bicara sama orang lain, tentu kita harus mempertimbangkan reaksi orang lain itu. Maka, redaksional bahasa dan cara bicara atau gesture kita pilih. Bicara sama adik dan kakak pasti berbeda dong. Apalagi ini sama orang yang bakal ‘ngasih nafkah’ sama kita. Tapi saya kerapkali menemui tenaga kerja kita sulit memahami pentingnya relasi inter-personal ini. Maka alih-alih mempertimbangkan soal ‘jual-beli’ tadi, malah mengungkapkan kebutuhannya sendiri, bukan memperhatikan kebutuhan perusahaan.

Sebaliknya, ada pula perusahaan yang tidak tahu bahwa karyawannya begitu berharga. Sampai saat karyawan itu pergi. Dan pastinya, karyawan bersangkutan biasanya dengan mudah ‘menclok’ di tempat lain. Justru karyawan loser yang dipertahankan. Padahal, loyalitas di zaman sekarang sudah sulit. Karyawan mencari tempat yang tidak hanya memberi fasilitas atau gaji, tapi terutama kenyamanan dan ruang untuk aktualisasi. Ini, bagi Anda yang sudah sering ikut pelatihan manajemen atau SDM, adalah puncak tertinggi dari Piramida Maslow yang terkenal itu.

So, berapa harga Anda? Itu tergantung. Tapi tanyalah lingkungan Anda. Seberapa besar kehilangan yang terjadi saat Anda tidak ada? Kalau pekerjaan terbengkalai saat Anda tidak ada, saat pesta perpisahan dirancang secara inisiatif swadaya rekan-rekan Anda, saat Anda mudah mendapatkan pekerjaan lain, berarti harga Anda makin tinggi. Bila sebaliknya, sebaiknya tanyalah cermin di dinding. Apakah Anda sudah cukup baik sebagai manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s