Modal (1)

Sebelumnya saya mohon maaf lagi karena sedianya tulisan ini akan diposting hari Senin, seperti yang saya janjikan dalam posting berjudul “Kapital” hari Rabu pekan lalu. Karena pada saat hari Senin kok ya ndilalah saya merasa lebih tertarik menulis resensi film, maka baru hari ini tulisan ini di-posting. Tulisan ini direncanakan bersambung karena saya pikir akan cukup panjang pembahasannya. So, selamat membaca…

Well, setiap manusia semenjak lahir sebenarnya sudah memiliki modal dasar. Itulah seluruh organ tubuh kita, masih ditambah akal-budi dan kepribadian yang tidak terlihat. Namun seringkali seiring dengan makin dewasanya kita, semua modal dasar tadi seakan diabaikan. Saya pun demikian.

Padahal, kalau anda pernah naik kendaraan umum terutama kereta api Jabotabek, anda bisa lihat betapa banyak orang yang tidak memiliki modal selengkap manusia pada umumnya. Ada tuna netra, tuna daksa, dan sebagainya. Dan yang saya kagum, sebagian di antara mereka tidak menyerah. Saya melihat ada yang mengamen atau berjualan. Yah, memang sih, sebagian besar memilih jadi pengemis saja. Tapi tetap saja, ada yang dilakukan selain mengeluh dan diam tanpa usaha.

Itulah yang saya sering temui saat mewawancarai para pelamar saat wawancara kerja. Banyak di antara mereka yang sante beibeh, tidak bekerja setelah lulus sekolah atau kuliah. Berbeda dengan kebanyakan praktisi SDM, saya justru lebih menghargai mereka yang berwirausaha, meski cuma jualan cendol sekalipun. Kemalasan itu sebenarnya timbul karena sistem kekeluargaan di negara kita begitu erat. Ini menyebabkan JPS alias Jaring Pengaman Sosial-nya bekerja dengan baik. Tanpa perlu capek dan repot bekerja, seseorang bisa tetap makan dan hidup karena ditopang anggota keluarga besarnya.

Jadi, modal pertama sebenarnya adalah tubuh, pikiran, hati, dan kepribadian kita saat ini. Semuanya bisa dioptimalkan. Mari kita bahas satu per satu.

  • Tubuh bisa dioptimalkan dengan berlatih dan merawatnya secara fisik. Hasilnya, anda bisa mencari nafkah di bidang yang memerlukan kesempurnaan fisik. Misalnya atlet, pelatih atau instruktur olahraga, instruktur fitness, instruktur yoga, bahkan fotomodel yang juga mengandalkan kesempurnaan fisik.
  • Pikiran bisa dioptimalkan dengan menempuh pendidikan setinggi mungkin. Di sini tentu tidak perlu diterangkan karena makin tinggi pendidikan seseorang, makin luas kansnya meraih sukses.
  • Hati bisa dioptimalkan dengan praktek langsung di kehidupan sehari-hari dan olah batin mendekatkan diri pada Tuhan. Hasilnya anda akan makin terasah kepekaan sosial, empati dan keberanian. Menjadi pengusaha, praktisi agama, konselor, atau pekerja sosial seperti di Aceh memerlukan hati yang teguh.
  • Kepribadian bisa dioptimalkan dengan banyak berinteraksi dengan manusia lain dan mengikuti berbagai pelatihan. Saya melihat, di sisi inilah terutama SDM Indonesia paling lemah. Kepribadian dikira sebagai sesuatu yang ‘sudah dari sononya’. Padahal, sesuai penjelasan psikologi perkembangan, kepribadian adalah sesuatu yang bisa ditingkatkan.

Maka, marilah kita introspeksi diri dan melihat modal yang kita miliki sedari lahir. Pilih saja mana yang masih bisa dioptimalkan dan mulailah meningkatkannya sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s