Permodalan Usaha (1)

Terinspirasi dari acara Workshop TDA Jaksel hari Rabu (9/1) lalu, hari ini saya menuliskan mengenai permodalan usaha. Memang, di acara tersebut disampaikan mengenai hal ini, namun hanya sepintas. Walau begitu, saya mendapatkan insight dari pemaparan dua orang narasumber: Michael R. Tampi dari Kinara dan Hendy Premanasakti dari Bank Syari’ah Mandiri (BSM).

Dari Michael, ada satu kalimat yang saya suka: “Sebenarnya mendapatkan uang untuk modal itu tidak sulit.” Betul. Tapi hanya bagi mereka yang mampu mendapatkannya tentu. Siapa yang mampu? Mereka yang dianggap mampu mengelola modal itu oleh investor tentu saja. Di sini Michael menekankan pentingnya karakter, dalam konteks “siapa”-nya penting. Sementara Hendy mengingatkan bahwa bagi UKM terutama yang penting adalah membuat pembukuan rapid an teratur. Karena hanya dengan begitu nantinya akan bankable apabila diperlukan. Ia juga mengisahkan bahwa BSM pernah mengadakan semacam lomba proposal bisnis (business proposal). Dari ratusan aplikasi yang masuk akhirnya dipilih 14 untuk didanai. Bukan cuma itu, mereka juga diberikan pelatihan dan pendampingan. Tapi apa lacur, di tahun pertama, tinggal 1 yang bertahan. Namun, tak lama kemudian, yang satu itu pun mengundurkan diri. Jadi, semua rontok.

Itulah masalahnya. Menjadi pengusaha tidak segampang yang dikira. Modal uang saja tidak cukup. Modal yang lebih penting justru modal niat, tekad, keberanian, keteguhan, kesabaran, dan ketekunan.

Namun, memang yang sering jadi kendala dalam berusaha adalah permodalan dalam bentuk kapital atau uang. Bahkan, ada follower Twitter saya yang mengirim mention bertanya apakah saya bisa memodali usahanya. Untungnya yang begitu cuma 1 di antara 17 ribuan lainnya (sudahkah Anda follow saya di @BhayuMH?).

Sebenarnya, modal uang itu harus disadari justru pertama-tama hanya bisa didapat dari apa yang disebut dengan “angel investor”. Ini adalah tipe investor yang tidak mengharapkan apa-apa dari investasinya kepada sebuah usaha. Ia hanya memberikan dengan maksud sosial.

Ada beberapa jenis investor malaikat ini, yaitu:

  • Orangtua. Ini adalah sumber permodalan paling pertama. Karena biasanya orangtua normal akan memperjuangkan anaknya sedapat mungkin.
  • Keluarga, baik inti maupun batih. Keluarga inti selain orangtua adalah kakak dan adik. Sementara keluarga batih adalah selainnya seperti sepupu, keponakan, paman-bibi atau kakek-nenek.
  • Kerabat & kenalan. Di sini bisa berarti teman sekolah, teman kuliah atau teman bisnis yang baru dikenal. Di sini biasanya tingkat kepercayaan harus tinggi dan dikenal baik reputasinya, baru bisa diberikan modal.
  • Investor sosial. Ini bisa perorangan atau dikelola oleh lembaga semacam Kinara, atau malah institusi seperti BUMN. Maksud dari investor sosial tentu mereka membagikan sebagian kecil dari keuntungannya untuk memberdayakan masyarakat tanpa maksud untuk kembali modal.

Semua jenis investor sosial tersebut meskipun tidak mengedepankan ROI (Return Of Investment), namun tetap memerlukan itikad baik. Dalam arti, pihak yang diberikan modal merupakan pihak yang kompeten dan dapat dipercaya. Jangan sampai karena tidak diminta mengembalikan modal, malah uangnya dipakai untuk konsumtif dan bukan untuk berusaha.

(Bersambung pekan depan…)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s