Dimensi Ruang

Ruang sering dikaitkan dengan waktu. Ya, dalam Islam, keduanya adalah makhluk dan juga hijab. Mereka yang telah menembus dimensi kematian akan disingkapkan tentang keduanya. Arwah dan roh tak lagi terikat ruang dan waktu. Ia bisa menembus dinding benteng paling tebal sekali pun. Di “dunia lain” juga tak ada siang dan malam. Untuk soal ini, mungkin hanya sejumlah kecil mereka yang diberi anugerah yang bisa menerangkan. Walau sayangnya, dengan komersialisasi terutama acara televisi saat ini, beberapa di antara mereka yang mengaku paranormal sebenarnya palsu. Sementara yang asli malah tampak seperti pembual juga.

Seperti saya terangkan hari Selasa lalu, dunia kita ini terdiri dari tiga dimensi ruang: panjang, lebar dan tinggi. Dimensi keempat dan seterusnya cuma ada dalam teori dan khayalan. Masalahnya, ada di manakah dimensi “dunia lain”? Mereka –bagi yang percaya- hidup dan ada bersama dunia yang kita kenal sebagai realitas. Namun, “dunia lain” itu juga realitas. Agama terutama Islam mengkonfirmasi hal ini, namun ilmu pengetahuan dan teknologi hingga kini kesulitan membuktikannya.

Ada sejumlah teori dan buku soal ini. Misalnya saja The Nature of Space & Time (2010) yang ditulis oleh Stephen Hawking & Roger Penrose. Nama terakhir ini merilis satu lagi paradoks ruang yang disebut Penrose Stair atau tangga Penrose. Ini adalah sebuah dimensi ruang dimana satu sama lain saling terkait begitu rupa hingga tak jelas pangkal-ujungnya. Dengan penggambaran Penrose, ada  tangga yang tak berakhir dan tak menuju ke mana-mana. Ia cuma berputar-putar di situ-situ saja. Bisa jadi, sebenarnya kita juga sedang berada di situ. Hanya saja tak menyadari karena besarnya dimensi ruang dunia yang ditempati bersama oleh 6 milyar manusia.

Dalam konsep dimensi ruang juga terletak konsep kepadatan massa. Sewaktu SD, kita tahu ada 3 jenis kepadatan massa: padat, cair dan gas. Walau sebenarnya secara fisika ada beberapa jenis zat lagi seperti eter yang sekaligus bersifat cair dan gas. Makin rapat kepadatan massanya, makin tinggi berat jenisnya, makin sulit ia ditembus. Namun, kita tahu ada manusia yang mampu melakukannya. Secara ilusif, dunia sulap (yang sebenarnya adalah sihir), terlihat seolah mampu melakukannya. Sebutlah David Copperfield yang pernah menembus Tembok Besar China. Hanya saja, bisa jadi itu cuma ilusi alias tipuan mata dan pikiran saja.

Melangkah lebih jauh, ruang adalah apa yang ditempati oleh zat. Karena tanpa ruang, zat tak eksis. Maka, zat yang tak kasat mata sekalipun sebenarnya meruang. Itulah mengapa ada konsep makhluk halus yang diakui oleh agama. Dan ternyata, memang ada orang-orang tertentu yang diberi kelebihan memasuki dimensi ruang yang lain, baik itu sengaja maupun tidak. Kita tahu banyak cerita soal ini. Misalnya pendaki gunung yang tersesat. Di dunia realitas kita dia dinyatakan hilang. Namun saat muncul lagi dan ditemukan oleh para pencari, ia memberikan kesaksian telah pergi bertahun-tahun memasuki suatu pasar atau kota gaib. Negeri kita yang memang sangat percaya dunia mistis memiliki banyak cerita semacam ini. Itu dalam konteks tidak sengaja. Sementara mereka yang bisa dengan sengaja melakukannya, memang dianggap memiliki kemampuan “di luar normal”

Bagi Anda yang “normal”, janganlah berharap atau berkeinginan untuk menjadi “abnormal”. Sungguh, memiliki kemampuan melihat apalagi memasuki dimensi lain selain realitas manusia adalah “anugerah sekaligus bencana”. Mungkin tampak hebat saat diceritakan, tapi di saat tertentu adalah siksaan. Betapa tidak, pikiran kita –sebagai jembatan penghubungnya- akan selalu dipenuhi oleh hal-hal yang tidak bisa dibuktikan. Tak ada yang melihat yang kita lihat, tak ada yang mendengar yang kita dengar, tak ada yang merasakan yang kita rasakan. Kalaupun ada “sesama” yang juga diberi anugerah, sebagian besar justru bersembunyi. Dan memang begitulah takdir Tuhan, bahwa mereka yang mengetahui “rahasia-Nya” justru harus bersiteguh menyembunyikannya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s