Perjalanan ke Bali melalui jalur darat (2)

Salah satu patung di persimpangan jalan yang saya potret dari dalam APV sewaan. Saya tidak tahu ini patung siapa, walau dari panahnya saya menduga dia Arjuna. (foto: Bhayu MH)

Kemarin, saya bercerita perjalanan hingga sampai ke penyeberangan antar pulau menggunakan kapal ferry. Sebenarnya, perjalanan lewat darat ke Bali pasti akan menggunakan kapal ferry, yang berbeda justru alat transportasi utamanya. Tentu saja, ada tiga cara untuk menuju suatu tempat yaitu melalui darat, laut atau udara. Melalui laut bila berangkat dari Jakarta sangat tidak efektif dan tidak efisien pula. Karena selain lebih lama juga mahal. (Kecuali Anda pedagang yang perlu membawa barang banyak dan harus ‘dikawal’). Hanya udara dan darat yang efektif, namun jalur udara tentu lebih mahal.

Jalur darat tentu ada cara lagi, yaitu:

  1. Menggunakan kendaraan pribadi, baik dengan supir ataupun menyetir sendiri.
  2. Menggunakan kendaraan sewaan dari kota asal, baik lepas setir atau dengan supir.
  3. Mengikuti biro perjalanan wisata (mengambil paket wisata).
  4. Menumpang travel car.
  5. Menggunakan bus umum antar kota.

Pilihan terserah Anda. Secara peringkat, dari atas ke bawah menjadi makin murah. Menggunakan kendaraan pribadi paling mahal karena selain biaya bahan bakar, juga biasanya lebih sering berhenti untuk makan. Belum lagi kalau pengemudi lelah dan tak ada cadangan, bisa jadi akan perlu menginap di satu kota selama perjalanan. Itu berarti tambahan biaya akomodasi. Belum lagi resiko terjadi kerusakan pada kendaraan atau kecelakaan lalu-lintas. Bus umum paling murah karena semuanya sudah “satu paket”, tentu dengan mengorbankan beberapa faktor seperti saya terangkan kemarin.

Setibanya di terminal Gilimanuk, masih perlu sekitar tiga jam lagi untuk mencapai Denpasar. Bus umum biasanya tidak lagi berhenti untuk istirahat, meski supirnya berganti. Di Denpasar, bus akan berhenti di terminal Ubung. Saya mendapat informasi, bulan Maret atau April, terminalnya akan pindah lebih ke utara. Nah, saat di terminal inilah Anda akan dihadang calo saat turun. Mereka menawarkan moda transportasi lanjutan untuk menuju tujuan Anda selama di Bali.

Bila mungkin, booking-lah hotel sebelum Anda sampai. Sehingga, saat sampai di terminal bus Anda akan pe-de minta diantar ke hotel yang sudah Anda pesan. Jangan mencari di internet (kecuali di milis), karena hampir semua hotel tidak memiliki situs, kecuali hotel besar berbintang tiga ke atas. Jadi kalau mau jadi backpacker, Anda harus minta referensi pada teman yang sudah pernah ke sana atau warga lokal teman Anda. Cara lain adalah dengan membeli buku panduan semacam Lonely Planet. Harganya cuma sekitar Rp 150 ribuan saja. Kalau tidak mau juga, ya on the spot saja. Keluar terminal dan berjalan kaki menyusuri sekitarnya, akan ada sejumlah hotel melati atau losmen. Tarif bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga 200-an ribu. Terserah selera Anda apakah mau ‘bertetangga’ dengan para supir truk dan bus di hotel transit atau memilih yang lebih nyaman. Cuma kalau on the spot, Anda harus cuek menolak bujukan setengah memaksa dari para calo.

Selama di Bali, ada sejumlah moda transportasi lanjutan untuk menuju tempat-tempat wisata. Pertama adalah angkot (angkutan kota), baik berupa kendaraan sejenis colt ataupun mini bus. Saya sendiri tidak menganjurkan ini karena rutenya terbatas dan penumpangnya sedikit. Akibatnya, mereka sering ngetem dalam waktu lama. Kedua menggunakan taksi. Saya juga tidak menganjurkan ini karena sangat mahal. Taksi di Bali tidak mau memakai argometer, melainkan menggunakan tabel tarif yang sering di-mark up oleh calo dan supirnya. Alternatif paling baik adalah menyewa kendaraan, baik itu mobil ataupun motor. Tarifnya sekitar Rp 450 ribuan per 10 jam untuk mobil. Sementara motor bisa setengahnya kalau pintar menawar. Tentu saja, kalau Anda punya teman di Bali dan dia mau mengantarkan ke mana-mana serta diinapi gratis, itulah yang paling baik. :D

Salah satu penyedia layanan sewa mobil (foto: Bhayu MH).

Saya sendiri memilih menggunakan kendaraan sewaan berjenis APV. Pertimbangannya adalah saya harus berkeliling secepatnya dalam waktu singkat. Agenda utama saya bukanlah berwisata melainkan menghadiri pernikahan sahabat saya. Jadi, di antara waktu akad nikah di pagi hari di rumah mempelai perempuan dan resepsi malam harinya di gedung itulah saya ‘berlari-lari’ ke beberapa tempat wisata. Bagi saya, itu cukup efektif. Karena terbatasnya waktu, saya hanya mencari tempat yang berada di sekitar Denpasar. Harus diingat, Bali itu pulau, bukan cuma satu kota. Dari ujung barat ke timur perlu waktu sekitar 6-8 jam perjalanan. Jadi kalau mau mengunjungi seluruh tempat wisata di Bali, dibutuhkan waktu paling tidak 4-5 hari. Namun kalau mau puas ya seminggu sekalian.

Bagi yang ingin membeli oleh-oleh, kini selain di Pasar Seni Sukawati di Kabupaten Gianyar, ada sejumlah alternatif lain. Intinya, dalam membeli oleh-oleh adalah berani menawar dan tidak ‘nafsu’. Bandingkan dulu harga satu toko atau lapak dengan lainnya. Karena jenis barangnya relatif sama dan stok-nya banyak, maka Anda tak perlu takut barangnya ‘hilang’ dibeli orang lain.

Kebetulan karena saya pernah beberapa kali ke Bali, saya cukup tahu tempat-tempat wisata di sana. Saya memprioritaskan tempat yang belum pernah saya kunjungi seperti areal patung Garuda Wisnu Kencana. Saya akan mencoba menuliskan ulasan mengenai tempat-tempat wisata di Bali (dan tempat wisata lain di Indonesia yang pernah saya kunjungi) di sebuah website khusus yang kini sedang dalam persiapan.

"Warung Jawa Muslim" cukup banyak terdapat di Bali. Merek (brand) saya tutup karena tidak ada promosi gratis! Hehe. Anda juga lihat angkot Bali yang sedang ngetem di foto ini. (foto: Bhayu MH)

Sementara untuk makanan, cukup banyak makanan murah-meriah hingga kelas bintang lima. Tinggal pilih saja. Namun bagi yang Muslim, hati-hati karena di sini banyak makanan tidak halal. Karena itu, bila memang sangat ragu, pilih saja warung yang jelas mencantumkan tulisan “halal” atau semacamnya seperti di foto. Memang, agak sektarian sih, tapi justru tulisan semacam itu rupanya merupakan “garansi” dari pemilik warung berkenaan dengan masakan yang disajikan.

Nah, Life Learner, itulah sekelumit pengalaman saya melakukan perjalanan ke Bali melalui jalur darat. Wa bil khusus dengan menggunakan bus umum. Semoga berguna…. :)

About these ads

7 responses to “Perjalanan ke Bali melalui jalur darat (2)

  1. Bulan meret yg lalu saya sempat mencoba ke bali lewat darat….
    brangkat jam 12 dari stasiun senen naik kereta GBM sel Rp 33500(kereeta ekonomi terjauh dan paling murah)dan samapi stasiun gubeng jam 04,trus mandi sholat shubuh cari sarapan pagi di depan kantor telkom,jam 9 Langsung naik KAmutiara timur sampai Banyu wangi jam 5 trus di lanjutkan dengan naik Bis dr PT KA menuju terminal ubung tiba jam 9.30 harga tiketnya Rp12000..langsung di jemput sama temen kebetulan asli bali..di antar ke penginapan artawan di daerah popis per malam 70000.kamarnya lumayan bagus dan di sediakan sarapan pagi….semoga membantu

  2. terima kasih infonya bagus banget nih, kebetulan ada rencana nih bulan pebruari kami ber4 mau jalan2 ke bali, kalau tau losmen yang murah dimana yah? tolong infonya yah? oh kita juga ibu2 fit semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s