Perjalanan ke Bali melalui jalur darat (1)

Sekedar catatan: Maaf bagi Anda yang sudah terbiasa melakukan travelling apalagi dengan metode backpacking, tulisan ini mungkin membosankan. Mohon di-skip saja kalau begitu.

Patung Garuda ditunggangi Wisnu di muka sebuah kompleks perumahan (foto: Bhayu MH)

Empat kali saya ke Bali, selalu melalui jalur darat. Tiga kali dengan mobil pribadi, satu kali dengan bus. Seingat saya, perjalanan terakhir yang saya lakukan dengan bus antar kota adalah saat diutus kampus (Universitas Indonesia) menghadiri Pendidikan dan Latihan Jurnalistik Nasional tingkat Pembina untuk Pers Mahasiswa di Universitas Mataram tahun 1995. Terus terang, saat itu, saya agak ‘ketakutan’. Sampai-sampai saat pulang saya terpaksa turun di Surabaya dan minta dijemput oom saya yang “anggota”. Perjalanan lantas saya lanjutkan dengan kereta api kelas eksekutif dari Surabaya setelah menginap semalam. Yeah, maklum deh, masih “cupu” soalnya. Hehehe.

Tapi tentu saja perjalanan kemarin sudah berbeda. Saya jauh lebih siap dan tentunya tidak takut lagi. Wong umur udah setua ini dan badan segede gini, moso’ masih takut? Jadi, saya bersiap menikmati 30 jam perjalanan.

Karena tiket bus jauh lebih murah daripada pesawat, maka kita harus ‘tahu diri’. Pelayanan dan kenyamanan jelas bukan prioritas. “Yang penting sampe” adalah motto yang lebih tepat bagi penumpang bus antar kota. Oh ya, tiket bus ke Bali berkisar di angka 300 ribuan saja. Jelas lebih murah dibandingkan pesawat yang bisa lebih dari satu juta. Namun kalau mau tiket pesawat murah, rencanakan perjalanan  jauh-jauh hari. Karena tipe pemesanan tiket pesawat adalah makin mahal bila makin dekat ke hari keberangkatan.

Satu hal yang paling utama dalam perjalanan adalah, kenali diri Anda sendiri. Ya, ini penting karena kalau Anda tergolong tipe-tipe tertentu, Anda mungkin akan mengalami kesulitan atau minimal ketidaknyamanan bepergian dengan bus umum. Apalagi rentang waktu yang ditempuh lama.

Suasana di pelabuhan Ketapang Banyuwangi (foto: Bhayu MH)

Misalnya Anda seperti Ibu saya, yang punya siklus hidup sangat teratur termasuk dalam urusan “ke belakang”, niscaya akan mengalami masalah besar. Sebabnya, jadwal berhenti dan istirahat bus “sa’ pena’ udele” (bahasa Jawa, artinya: seenak udelnya alias semau gue) supirnya. Sebagai contoh, saat berangkat dari Jakarta ke Denpasar, kami berhenti tiga kali. Jam 4 sore, jam 8 malam dan jam 1 dinihari! Sementara saat pulang dari Denpasar ke Jakarta, kami berhenti seharusnya juga tiga kali. Namun malah jadi empat kali, karena satu gagal. Perhentian jam 8 malam, jam 5 pagi, jam 10 pagi dan jam 4 sore. Perhentian jam 5 pagi gagal karena restoran sebagai tempat istirahat belum siap. Sehingga, selain harus menahan lapar, juga harus menahan buang air besar dari jam 8 malam hingga jam 10 pagi keesokan harinya. Itu berarti 14 jam!

Bus akan berhenti di restoran yang sudah jadi langganan perusahaan bus bersangkutan. Makanan yang disajikan sebenarnya memadai, meski alakadarnya. Namun Anda tetap bisa lho memesan menu tambahan dengan merogoh kocek sendiri, walau saya lihat nyaris tidak ada yang melakukannya. (Saya selalu memesan tambahan minuman dengan es, karena yang ‘gratisan’ selalu panas). Oh ya, waktu istirahat cuma sekitar setengah jam. Waktu sesingkat ini bagi saya harus dibagi tiga: untuk makan, buang air besar dan shalat. Meski di bus ada toilet, namun tidak bisa untuk buang air besar. Seringkali saya terpaksa shalat (bahkan di-jamak-qashar) di dalam bus saja mengingat sempitnya waktu.Ini sah secara fiqh karena merupakan ruqshah dari ALLAH SWT sebagai musafir.

Selain itu, siap-siaplah untuk berhadapan dengan aneka jenis orang yang mungkin tidak Anda temui di keseharian. “Jagalah hati” agar tidak mudah terpancing emosi. Perlebar rentang toleransi Anda. (Orang-orang yang ‘tidak biasa’ itulah yang membuat saya ‘ketakutan’ sewaktu mahasiswa dulu).

Suasana di pelabuhan Gilimanuk Bali (foto: Bhayu MH)

Ada banyak kejadian yang bisa membuat kita sebagai penumpang merasakan adanya ‘gesekan’. Mulai dari sikap awak bus yang jelas tidak sesopan atau seramah pramugari/a pesawat atau kereta api. Jelas saja. Mereka ini tidak ada ‘sekolah’nya seperti pramugari/a. Jadi tingkahnya pun jangan diharapkan setara. Bisa juga ‘gangguan’ datang dari rekan seperjalanan, baik sebangku (biasanya bangku berformat 2-2) atau di depan/belakang Anda. Saya misalnya, mendapatkan gangguan dari orang di depan saya yang merebahkan kursinya secara maksimal hingga menjepit kaki saya. Kita harus menegurnya secara baik-baik agar tidak berlanjut ke pertengkaran bahkan perkelahian. Kejadian lain adalah saat turun dari bus saya menerobos kerumunan orang dan sepertinya mengenai tubuh seorang calo (atau supir taksi?) berbadan tambun yang tampaknya tidak senang. Jangan ragu meminta maaf sekedarnya daripada berkelahi. Karena mentalitas orang-orang di terminal bus termasuk awak dan penggunanya memang ‘berani mati’ saat ada masalah. Buat apa ‘pasang badan’ cuma untuk urusan ‘senggolan’ kan?

Saya sendiri harus merentang toleransi lebar-lebar untuk urusan ‘kuping’. Ya, penumpang bus dan awaknya sangat berisik untuk ukuran kita yang terbiasa menggunakan pesawat, kendaraan pribadi atau minimal kereta api. Mereka bisa mengobrol sesamanya bahkan melalui telepon berjam-jam! Selain bicaranya keras, seringkali juga dengan bahasa daerah yang belum tentu kita mengerti (sehingga terkesan sedang ‘ngomongin kita’). Saran saya, bawalah penutup telinga, lebih baik berupa headphone atau earphone. Terserah mau terhubung ke i-Pod, Disc-man, Walkman, atau HandPhone sekalipun. Yang penting sumpal telinga Anda dengan musik kesukaan daripada ‘keberisikan’.

Bila senang membaca, bisa membawa buku. Namun hanya bisa dibaca saat siang. Di malam hari, lampu di atas tempat duduk akan mengganggu penumpang lain. (Di samping lampunya sendiri sering justru tidak berfungsi). Selain itu, hati-hati karena membaca di kendaraan yang berjalan akan menyebabkan mual dan pusing.

Kalau Anda senang mengobrol, silahkan saja membuka obrolan dengan teman seperjalanan. Namun sepanjang pengalaman saya naik bus terutama saat mahasiswa dulu, jarang kita bisa bertemu teman bicara yang ‘enak’. Apalagi ditambah cantik (atau ganteng). Biasanya kita malah ‘diinterogasi’ (seperti ditanya nama, pekerjaan, tujuan dan sebagainya) yang bagi saya malah membuat tidak nyaman. Jadi, lebih baik ‘menyepi’ saja.

Apabila Anda membawa barang berharga, jangan ditinggal di dalam bus saat turun untuk istirahat makan (awak bus menyebutnya “service makan”). Bawalah selalu. Saya yang membawa backpack berisi kamera dan laptop juga harus membopongnya ke mana-mana. Lebih baik repot dan capek daripada hilang kan?

Selain segala tantangan itu, anggaplah perjalanan 30 jam ini sebagai petualangan. Nikmati pemandangan. Kalau Anda hobby fotografi seperti saya, sepanjang jalan banyak obyek menarik. Posisi berada di dalam bus juga memberikan privilege tersendiri karena lebih tinggi dari jalan dan kebanyakan kendaraan lain. Sehingga posisi saat memotret lebih menguntungkan. Tentu saja speed harus dipasang di angka tinggi, karena jelas bus tak akan berhenti cuma untuk menunggu seorang penumpangnya memotret kan? (Foto patung di awal tulisan saya ambil bukan dari dalam bus, tapi dari dalam APV sewaan yang melaju cukup kencang tanpa berhenti. Lumayan kan? Hehe).

Oh ya, bus akan menunggu bila penumpangnya ada yang tertinggal saat di restoran atau di ferry. Tapi usahakan itu tidak terjadi. Karena selain bisa jadi Anda benar-benar ditinggal, penumpang lain pasti akan kesal. Bisa-bisa Anda disoraki “huu” saat masuk kembali ke dalam bus. :D

Salah satu kapal ferry yang melintasi Selat Bali. Terlihat tulisan "We Serve Indonesia" di lambung kapalnya. (foto: Bhayu MH)

Nah, saat bus sudah berada di atas kapal ferry, biasanya penumpang akan diminta turun. Manfaatkan ini untuk melihat pemandangan laut yang indah. Bagi Anda yang tidak tahan goncangan, hati-hati mabuk laut. Sebaiknya minum obat dan mengisi perut dulu sebelum naik ke kapal. Di atas kapal juga ada jajanan seperti nasi bungkus atau mie instan. Makan akan mengurangi rasa mual. Perjalanan ferry di Selat Bali tidak lama, cuma sekitar 30 menit. Namun saat sedang ramai seperti musim liburan, yang lama adalah mengantri di pelabuhan untuk masuk ke kapal. Oh ya, angin laut juga kencang. Sehingga bila Anda berada di geladak kapal akan perlu jaket tebal sebagai penahan angin.

Pendeknya, nikmati perjalanan. Enjoy your journey. OK?

(Bersambung besok….)

About these ads

2 responses to “Perjalanan ke Bali melalui jalur darat (1)

  1. mas bhayu, saya marti fauziah, rencananya saya nanti mau ke bali dari jakarta.
    saya baca salah satu artikel mas yang judulnya “Perjalanan ke Bali melalui jalur darat (1)” – Posted on February 18, 2012.
    kan mas tulis kalo bisa dengan bus ke Bali, marti mau tanya mas, bus apa ya mas, trus pesennya gimana?
    e-mail marti ini mas: martifauziah@hotmail.com
    mohon petunjuknya ya mas… soalnya bingung, ini perjalanan pertama saya ke Bali mas… hehee ^_^

    • Wah, maaf, saya baru baca komentar Anda karena Anda salah posting di blog saya http://bhayu.wordpress.com yang sudah jarang sekali di-update. Nanti saya coba e-mail juga. Tapi sebagai pembelajaran utk LifeLearner lain, pesan tiket utk liburan sebaiknya jauh2 hari. Cari agen tiket resmi, lebih baik di pool bisnya. Usahakan hindari di terminal karena banyak calo dan harganya seringkali dinaikkan berlipat-lipat. Saya tidak menyebut nama perusahaan bisnya karena akan promosi gratis. Tapi Anda bisa cari di teman2. Kalau mau lebih aman, jangan naik bus tapi travel atau sewa kendaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s