Hari Kesaktian Pancasila

Bagi yang masih sekolah, sudah pasti tanggal 1 Oktober akan diperingati dengan upacara bendera. Namun bagi yang sudah lulus atau minimal duduk di perguruan tinggi, mungkin sudah lupa-lupa ingat pada hari ini. Padahal, namanya mentereng: Hari Kesaktian Pancasila. Dulu di waktu Orde Baru, malah selalu ada ritual khusus. Dalam hal pengibaran bendera, pada 30 September dikibarkan bendera merah putih setengah tiang, untuk kemudian dikerek satu tiang penuh pada 1 Oktober. Di tingkat nasional, juga selalu diadakan upacara baik di Taman Makam Pahlawan Kalibata maupun di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya-Jakarta Timur. Untuk tahun ini, menurut situs presidenri.go.id, temanya adalah “Dengan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Kita Perkokoh Semangat Persatuan dan Kesatuan Menuju Bangsa Indonesia yang Berkarakter”.

Bagi saya pribadi, tema itu sangat kental nuansa Orbanya. Jargon yang entah kenapa dari dulu selalu dengan pola “Dengan ….. , kita ….” Kalaupun ada alternatif, paling-paling kata “Dengan” diganti “Bersama” atau varian-varian senada.

Terlepas dari tema yang “enggak banget” itu, sebenarnya Pancasila harus selalu dipelihara. Bukannya saya terjebak pada nasionalisme sempit atau tergolong Machiavellian, namun kita harus ingat bahwa Tuhan menakdirkan kita lahir sebagai orang Indonesia. Kata “Indonesia” adalah entitas bentukan semata. Ia bisa hancur seperti halnya negara-negara lain yang telah datang dan pergi dalam sejarah peradaban manusia. Bagi yang hidup di zaman sekarang, mungkin tinggal membaca saja dalam pelajaran sejarah nama-nama imperium seperti Romawi, Abbasid (Abbasiyah), Umayyad (Umayyah), Golden Horde, Byzantium atau Persia. Anda tentu juga tak akrab lagi dengan nama negara seperti Prussia atau Austrasia. Juga bangsa-bangsa yang kini melebur menjadi bangsa baru atau malah punah seperti Hun, Visigoth, Viking, Suevi atau Vandals.

Indonesia, sebelum 1945 tidak eksis. Dan belum tentu setelah satu abad ia akan tetap eksis. Namun, sebagai warga negara Indonesia, kita harus berusaha sekuatnya mempertahankannya. Karena dalam ikatan ke-Indonesia-an inilah kita hidup. Ikatan ini bahkan mengatasi kendala perbedaan agama, suku bangsa, ras dan bahasa daerah. Sumpah Pemuda 1928 telah menghidupkan rasa Indonesia ini vis a vis rasa Hindia Belanda.

Kini, sekian puluh tahun usia bangsa yang masih muda, kita justru kerap melupakan sendi-sendi penting bagi berdirinya sebuah negara. Antara lain adalah Pancasila sebagai dasar negara. Setelah UUD 1945 diamandemen dengan agak serampangan di masa reformasi ini, hanya Pancasila-lah yang tidak bisa diubah. Kalau Pancasila berubah, maka secara teoretis Indonesia harus bubar. Dasar negara kita itu secara simbolik diwakili oleh bentuk burung garuda yang tentu saja distilisasi. Ia menyandang perisai berisi lambang dari masing-masing sila Pancasila.

Karena selama Orde Baru Soeharto menggunakan Pancasila untuk melegalkan kekuasaannya, seolah dasar negara kita itu menjadi pro-Orba. Begitu Soeharto tumbang, sontak penataran P-4 dan lembaga BP-7 dibubarkan. Praktis, pasca reformasi penghayatan dan pengamalan kita terhadap dasar negara menjadi sangat kurang. Barulah akhir-akhir ini para pemimpin negara seolah disadarkan kembali bahwa kita tak bisa berpaling darinya.

Sebagai rakyat biasa, saya cuma bisa berharap pemerintah membuat langkah konkret dalam mempertahankan dasar negara sekaligus memperluas penerapannya. Tentu saja, kontribusi saya lagi-lagi sebatas membuat tulisan saja. Mungkin tak berguna banyak, namun setidaknya membantu mengingatkan. Dalam konteks agama, ya amar ma’ruf nahi munkar-lah. Cuma dalam hal ini tentu konteksnya kebangsaan.

NKRI, Pancasila, UUD 1945: harga mati!

Ilustrasi: kepakgaruda.wordpress.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s