Ulang Tahun Pak Harto & Bung Karno

Hari ini adalah ulang tahun Soeharto atau akrab di sapa “Pak Harto”. Presiden paling lama dalam sejarah negeri ini yang memerintah selama 32 tahun. 2 Hari sebelumnya adalah hari lahir Soekarno. Presiden pertama yang mendirikan negara ini bersama sejumlah “founding fathers” lain. Tokoh yang akrab dikenal sebagai “Bung Karno” oleh bangsa kita.

Tanggal lahir kedua presiden paling berpengaruh ini memang berdekatan, tapi bukan dengan kesengajaan. Walau begitu, dulu sempat ada mistik yang menghubungkan mengenai tanggal ini. Bahkan tahun lahir keduanya yang sama-sama diakhiri angka 1 (Soekarno 1901, Soeharto 1921) sempat diramal oleh Permadi merupakan pertanda Presiden berikutnya lahir tahun 1941. Ternyata meleset. (baca kembali tulisan saya tahun lalu di sini).

Hari ini, diadakan peluncuran buku “Soeharto, The Untold Story” di Museum Purna Bhakti Pertiwi-Taman Mini Indonesia Indah. Acara ini seakan menggenapi fenomena SARAS (baca kembali tulisan saya tentang SARAS di sini). Apalagi, baru-baru ini ada survei dari Indo Barometer yang menyatakan 40,9 % responden menyatakan zaman Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi.  Ini seakan juga membenarkan “celetukan” rakyat yang dipampang di bak belakang sebuah truk (foto dan tulisan tentang itu ada di sini).

Tadi pagi, di Metro TV juga sempat ditayangkan mini talkhsow dengan Mantan Menteri Perdagangan/Perindustrian Kabinet Indonesia Bersatu I Fahmi Idris dan Sukardi Rinakit yang pernah bertemu langsung dengan Pak Harto. Kesan keduanya sangat positif, walau Sukardi Rinakit merupakan salah satu pengkritik utama Soeharto.

Itulah sebenarnya manusia. Selalu ada sisi plus-minusnya. Mantan Wakil Presiden yang juga pernah jadi ajudan Pak Harto yaitu Jenderal TNI (Purn.) Try Soetrisno malah menegaskan Soeharto sebagai seorang humanis. Saat diwawancara Metro TV saat menghadiri acara peluncuran buku di atas, ia membantah kesan Soeharto sebagai seorang otoriter dan totaliter. Menurutnya, itu hanya perkataan para musuh politiknya.

Sebagai mantan aktivis gerakan mahasiswa 1998, saya tentu tidak setuju pada pernyataan terakhirnya. Akan tetapi, sosok Soeharto yang humanis memang “bisa jadi”. Apalagi kepada orang-orang yang dekat yang dipercayainya. Soeharto terkenal loyal dan royal memberi. Karena itu, sebenarnya banyak yang “berhutang budi” bahkan “berhutang nyawa” pada Soeharto. Bahkan nama-nama yang seolah mengesankan dirinya pro-reformasi dan pembela demokrasi sebenarnya pernah menerima “sesuap nasi” dari Pak Harto. Sebutlah seorang Ketua Umum partai politik yang mengaku oposisi, sebenarnya selama bertahun-tahun “dihidupi” oleh Pak Harto dengan diberikan izin mendirikan SPBU (pompa bensin) di kawasan Semanggi yang sebenarnya terlarang. Terbukti, kini SPBU itu sudah ditutup Pemda DKI Jakarta karena masuk “jalur hijau”.

Tak heran, Soeharto begitu kecewa saat banyak orang yang pernah dihidupi dan dibesarkannya itu ramai-ramai “balik badan” dan “buang badan” di tahun 1998. Ingat, sebab utama Soeharto mundur bukanlah tekanan gerakan mahasiswa, melainkan pengkhianatan dari Harmoko cs. selaku pimpinan DPR/MPR dan pengunduran diri sekaligus 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII. Di saat itulah Soeharto merasa “tidak punya teman”. Apalagi ditambah rivalitas antara Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto dan Panglima Kostrad Letnan Jenderal TNI Prabowo Subianto, membuatnya ragu pada kesiapan TNI membelanya. Terbukti, kemudian Soeharto lebih mempercayai Wiranto yang pernah menjadi ajudannya dibandingkan Prabowo yang nota bene adalah menantunya sendiri.

Saya dan para pimpinan gerakan mahasiswa 1998 saat itu tahu, kalau saja Soeharto mau melawan, pasti kami habis seperti gerakan mahasiswa RRC di Tiananmen tahun 1989. Terbukti, rencana “Apel Akbar Reformasi” tanggal 20 Mei 1998 batal dilaksanakan karena ancaman pemerintah dan militer. Karena itu, terus terang kami juga terkejut saat keesokan harinya Soeharto memutuskan berhenti dari jabatan sebagai Presiden. Dan… berubahlah sejarah Indonesia untuk selamanya.

Bila saja Soeharto tak mengundurkan diri, kita mungkin akan melihat para pewaris tahta yang sudah disiapkannya memimpin negeri ini. Itu bisa Mbak Tutut (Siti Hardiyanti), Prabowo atau malah Habibie dan Wiranto. Yang jelas, dinasti Cendana akan berlanjut dan orang-orang di luar kroninya tak berkesempatan naik ke pucuk pimpinan negeri.

Toh, semua sudah terjadi. Kini Soeharto sudah menghadap Sang Pencipta. Tinggallah kita kini yang masih hidup menghadapi “warisannya”. Sebuah negeri bernama Indonesia dengan sejuta masalahnya. Kita ambil positifnya dari beliau, kita buang yang negatif. Sesuai dengan peribahasa yang dahulu sering sekali beliau utarakan: “mikul duwul, mendhem jero”.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s