Proporsional?

Proporsional. Apa sih arti kata itu?

Secara harfiah, kata itu bisa dianggap setara dengan “seimbang” atau “sesuai ukuran”. Akan tetapi, tatkala digunakan dalam konteks berbeda, tentu akan menjadi lucu. Seperti halnya saat saya membaca berita berupa bantahan Komisi VIII atas tudingan PPIA di Australia terkait kunjungan kerja mereka ke negeri itu (baca di sini). Kenapa? Karena kata “proporsional” itu digunakan oleh sang ketua komisi Abdul Kadir Karding untuk menilai PPIA.

Membaca beritu itu, kita yang ‘waras’ mustinya bertanya, lantas yang proporsional itu seperti apa?

Saya beberapa kali mengalami masalah perbedaan pendapat atau penafsiran dengan klien atau prospek. Dan dokumentasi saya yang bagus biasanya akan membuat mereka terdiam seribu bahasa. Terlebih saat saya tuangkan dalam kronologi. Nah, terkait penilaian PPIA Australia atas kunjungan kerja Komisi VIII ke Australia, saran saya adalah gunakan saja kronologi. Tuliskan apa saja agenda para anggota dewan yang terhormat itu di sana. Dan, tentu saja apa hasilnya. Niscaya akan terlihat betapa tidak bergunanya uang negara yang dihamburkan untuk “plesir berjama’ah” itu.

Bukankah sangat kasat mata anehnya, bila sebuah kunjungan yang diklaim sebagai kunjungan kerja dalam rangka studi banding malah tidak bertemu partner kerja di negara yang dikunjungi? Bagaimana mau bertemu, lha wong parlemen negeri kangguru itu sedang reses jee. Dalam laporan PPIA Australia jelas disebutkan rombongan anggota DPR cuma berfoto di depan gedung parlemen dan mengambil brosur saja, tanpa bertemu secara resmi dengan delegasi dari parlemen Australia. Bukankah ini secara kasat mata merupakan keanehan yang patut dipertanyakan? Lantas, mau dibuat proporsional bagaimana lagi?

Kalau agendanya cuma bicara-bicara dengan masyarakat Indonesia di sana, buat apa? Katanya studi banding kan ya harusnya bertemu dengan “mister bule” kan? Kalau jauh-jauh ke luar negeri akhirnya cuma bertemu “bangsa dewek”, ya buat apa? Akibatnya malah jadi bulan-bulanan karena anggota DPR yang terhormat ternyata “gaptek”. Bagaimana tidak “gaptek” kalau e-mail saja salah atau malah tidak punya? Ini seperti guyonan yang mungkin pernah Anda dengar saat seorang anggota DPR ditanya apakah punya e-mail. Jawabannya, “dulu sih saya pernah punya beberapa, tapi sudah saya jual semuanya.” :D

Jadi, kalau mau meminta orang “proporsional” atau apalah, mbok ya ngaca dulu. Jangan sampai seperti kata pepatah “buruk muka cermin dibelah”.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s