Pembajakan

Kapal MV Sinar Kudus dibajak perompak Somalia. Hari ini konon adalah tenggat waktu pembayaran uang tebusan senilai US$ 3 juta setelah 27 hari disandera. Kapal pengangkut milik PT Samudera Indonesia,Tbk itu diawaki oleh 20 orang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia. Kelihatannya opsi damai-lah yang dipilih, karena perusahaan pemilik kapal bersedia menalangi tebusannya. Padahal, banyak yang berharap agar pemerintah mengambil opsi keras: operasi militer seperti pernah dilakukan Prancis dan Korea Selatan.

Sebenarnya, inilah saatnya menunjukkan kepiawaian TNI kita. Ingat, TNI terutama dari Kopassandha (nama Kopassus sebelumnya) TNI AD pernah sukses menggagalkan pembajakan pesawat Garuda GA-206 jenis DC-9 dengan callsign “Woyla” di tahun 1981. Pembajakan itu pun dilakukan di luar negeri, tepatnya di Thailand. Pesawat didaratkan di bandara Don Muang oleh pembajak yang mengklaim sebagai “Komando Jihad”.

Terlepas dari kontroversi rivalitas antara Ali Moertopo dan Benny Moerdani, namun operasi militer itu dipuji dunia. Dan bagaimanapun membuktikan Kopassus sebagai pasukan elit yang patut diperhitungkan di muka bumi.

Nah, untuk soal pembajakan di Somalia ini, dari segi teritori sudah berbeda jauh. Selain berada di lautan, lokasi pembajakan di benua Afrika pun menimbulkan kesulitan tersendiri. Meski sudah ada tawaran bantuan dari kapal perang India yang sedang berpatroli di sekitar Teluk Aden, tentu pelaksanaan operasi militer lintas negara tidaklah mudah. Terutama dari segi koordinasi dan biaya.

Bahkan yang dekat saja, di perbatasan Indonesia-Malaysia, konflik militer pun selalu berusaha dihindari. Hari Sabtu (9/10) lalu, kita membaca berita terjadi lagi gesekan antara petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap dua kapal pukat harimau milik nelayan Malaysia yang melanggar batas perairan Indonesia. Dua kapal itu kemudian berusaha dikejar oleh empat helikopter dari APMM (Angkatan Penegakan Maritim Malaysia) dan TLDM (Tentera Laut Diraja Malaysia). Sempat terjadi saling gertak bahkan konon ancam-mengancam dengan senjata, namun akhirnya dua kapal nelayan Malaysia itu bisa ditahan setelah helikopter Malaysia itu menghindari konflik militer. Berita ini heboh di Malaysia, juga di Indonesia. Dari sisi kita, tentu kita geram karena memang sudah beberapa kali terjadi dan Malaysia selalu bersikap arogan. Tindakan aparat Indonesia itu bukanlah pembajakan, tapi bisa jadi dianggap begitu karena aparat Malaysia menganggap kapal-kapal itu masih di wilayah negaranya.

Pembajakan di Somalia dan insiden “pembajakan” kapal di perbatasan Indonesia-Malaysia itu tidaklah sering terjadi. Tapi di negara kita, “pembajakan” dalam arti lain justru seringkali terjadi sehari-hari. Tahukah Anda, Indonesia adalah “surga” pembajak? Ya, itu karena di sini marak terjadi pembajakan karya dan hak cipta intelektual, terutama dalam industri musik, film, merek pakaian dan asesori, serta tak jarang juga buku dan karya akademis. Pembajakan karya atau plagiarisme itu terutam bermotif komersial, namun dalam soal akademis motifnya pribadi semata karena kemalasan. Di saat kita mengecam pembajak Somalia dan aparat Malaysia, sehari-hari kita melihat sendiri di sekeliling kita banyak pembajakan terjadi. “Copy-paste” artikel di internet pun merupakan pembajakan. Yang “halus” misalnya membajak ide teman atau kolega untuk kemudian diutarakan dalam rapat dengan atasan atau klien. Dan sama halnya dengan pembajakan oleh perompak, pembajakan macam ini juga merugikan yang dibajak dan pemerintah. Karena itu, janganlah jadi pembajak, apa pun alasan dan motifnya. Jadi pembajak -seperti para perompak Somalia itu- memang bisa kaya. Tapi ingatlah, itu kaya dari merugikan orang lain. So, jelas tidak halal duong…

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s