Hakekat Bekerja

Di dunia pengembangan sumber daya manusia yang baru saja saya geluti, saya bertemu aneka macam karakter manusia, terutama dalam konteks sebagai tenaga kerja. Terlihat secara jelas, bahwa latar belakang mereka baik itu tingkat pendidikan, asal sekolah, lingkungan, orangtua, bahkan hingga suku dan adat-kebiasaan berpengaruh pada cara pandang mereka tentang konsep “bekerja”. Berkali-kali saya singgung di sini, bahwa kebanyakan pekerja “blue collar” menganggap bekerja itu sebagai pengisi waktu dalam konteks “taken for granted” alias “ya memang sudah seharusnya begitu”. Mereka memaknai bekerja semata sebagai siklus kehidupan saja: “lahir-anak hingga remaja sekolah-dewasa kerja-tua pensiun-lalu akhirnya mati” saja.

Padahal, bagi yang “white collar” memaknai bekerja dalam tataran lebih tinggi. Mereka sudah banyak yang melihat bekerja sebagai aktualisasi diri. Menyitir pendapat Jansen H. Sinamo dalam konsepnya “8 Etos Kerja Profesional”, bekerja seharusnya dilihat sebagai berkah dan anugerah dari Tuhan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kebaikan kita dan orang lain.

Namun, ternyata pembagian jenis kerja tidak cukup. Ada saja “white collar” yang menganggap bekerja itu sambilan pengisi waktu saja. Diri sendiri dan keluarganya dalam konteks yang amat luas lebih utama. Jadi kalau terjadi konflik kepentingan, pekerjaan pasti dikalahkan. Akibatnya, ia seringkali terlambat masuk kantor, melalaikan tugas, bahkan kalau perlu bolos kantor tanpa keterangan jelas. Padahal, orang lain yang berpikiran normal dan beretos kerja profesional akan menganggap hal itu jelas tidak profesional. Berarti, orang tersebut tidak mampu memahami hakekat bekerja.

Bicara soal hakekat bekerja amat luas, bahkan bisa jadi satu buku tersendiri. Salah satu contohnya adalah karya terjemahan Syekh Dr. Said Abdul Azhim yang berjudul “Hakikat Bekerja: Wasiat dan Renungan untuk Pengusaha dan Karyawan” (judul aslinya dalam bahasa Arab). Tentu saja, buku itu dari perspektif Islam apalagi banyak menggunakan dalil agama. Akan tetapi, secara isi, buku itu sangat bagus karena sejalan dengan Jansen H. Sinamo, buku ini menyatakan bahwa pekerjaan bukan sekedar berkah dan anugerah dari Tuhan, tapi juga amanat. Bila kita tidak mampu memegang amanat, berarti kita khianat. Dan khianat adalah salah satu ciri orang munafik.

Bila kita cermati, orang-orang yang tidak mampu menghargai pekerjaannya memang cenderung munafik. Salah satu cirinya adalah sering berbohong atau melebih-lebihkan. Ia mengeksploitir hal yang dialaminya sehingga seolah seperti kisah drama atau cerita sinetron. Tentu, ujung-ujungnya ia minta dispensasi soal tugas dan pekerjaannya.

Misalnya untuk menjustifikasi alasannya tidak masuk kerja karena sakit, ia membuat surat dokter. Mungkin suratnya bisa saja asli, tapi -you know-lah- isinya itu lho. Bisa jadi ia seharusnya tidak perlu istirahat sampai tidak masuk kerja kalau cuma pusing-pusing dan diare saja. Tapi karena dokternya sudah kenal, maka cincai-lah. Di situ berarti sudah terjadi upaya penipuan meski mungkin kadarnya dianggap kecil karena tidak melibatkan uang. Namun, sejatinya pegawai yang tidak memahami hakekat bekerja ini sudah merugikan orang lain.

Dan Tuhan selalu, selalu, selalu Maha Adil. Meski di agama Islam yang saya anut tidak ada istilah “karma”, namun ada keyakinan bahwa setiap amal, baik atau buruk, akan dibalas meski hanya sebesar atom sekali pun. Bila Anda merugikan orang lain, amal itu akan kembali pada Anda. Mungkin tidak langsung oleh orang yang Anda rugikan, tapi bisa jadi kembali lewat jalan lain di saat berbeda yang tidak diduga. Maka, bekerjalah dengan baik, agar kita memahami hakekatnya sebagai berkah, anugerah dan amanat Tuhan yang harus kita jaga.

Wallahu’alam bishawab.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s