Kebaya & Pakaian Nasional Kita

Kaget, tapi sekaligus juga lega melihat harian Kompas hari ini menyajikan headline yang menyegarkan: Kebaya! Keluar dari hiruk-pikuk pemberitaan tentang Sri Mulyani, Bank Century atau Susno Duadji. Pakaian nasional ini memang menyegarkan dan terus bertahan dengan kemampuannya berevolusi mengikuti tren fashion. Ini merupakan pakaian tradisional nusantara, meski terutama berasal dari Jawa. Walau begitu, varian kebaya ditemukan juga di banyak tempat, bahkan di negeri jiran. Bahkan saat saya googling, justru banyak laman web dari Malaysia yang mengklaim kebaya sebagai pakaian nasional mereka. Tapi untuk yang saat ini sepertinya kita tak perlu buru-buru sewot. Karena memang pakaian wanita ini di masa lalu menyebar hampir di seluruh Asia Tenggara dengan berbagai varian. Tentu berbeda dengan batik yang jelas teknik dan polanya hanya dikuasai penduduk Jawa.

Sayangnya, seperti halnya batik, masyarakat kita terutama yang di perkotaan jarang mengenakan kebaya. Paling-paling hanya saat ada pesta atau perayaan. Sebabnya tentu cuaca yang panas dan bahan kebaya yang relatif kurang nyaman dipakai sehari-hari. Padahal, andaikata ada inovasi dari segi bahan sehingga lebih nyaman dan praktis dipakai, bisa jadi wanita-wanita kita akan lebih mudah berkebaya. Ini seperti halnya batik yang mulai banyak dipakai sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran. Tentu saja para perancang kita tak diam saja. Ramli dan Anne Avantie misalnya, banyak membuat kreasi kebaya modern yang dipadukan dengan berbagai gaya. Kini kita bisa melihat sebuah adaptasi seperti memakai kebaya tak harus berpasangan dengan kain jarik yang ‘ribet’, tapi bahkan bisa dengan celana jeans. Batik pun sudah lebih dulu dipadukan semacam ini. Walau bagi saya, rasanya mata masih ‘tak rela’ melihat perpaduan macam itu. Toh hal itu diperlukan agar kebaya bisa menjadi gaya hidup bagi semua kalangan terutama generasi muda yang selalu ingin praktis dan mudah.

Sebenarnya, yang perlu dikembangkan tidak hanya kebaya. Bangsa Indonesia ini punya budaya amat kaya. Dari segi pakaian saja, kita punya aneka ragam jenis. Ada baju bodo, baju kurung, songket, teluk belanga, dan macam-macam lagi. Sudahkah ada proyek resmi dari pemerintah yang mendaftarnya dan sekaligus meminta pengesahan hak cipta atau patennya dari dunia internasional? Mengingat kita satu rumpun atau satu ras bangsa dengan negara-negara tetangga kita, bukan tidak mungkin nanti ada klaim terhadap kebaya atau pakaian nasional kita lainnya.

Rasanya, perlu juga mengganti kebiasaan para pejabat negara kita agar selalu berpakaian nasional tiap kali tampil di hadapan publik. Lihatlah para pejabat Malaysia yang hampir selalu tampil berpakaian teluk belanga bagi yang pria dan berkebaya bagi yang wanita. Sementara di kita, mulai dari Presiden sampai RT malah lebih senang memakai jas dan blazer. Paling banter batik saja yang dipakai, itu pun seragam semua. Alangkah baiknya sekali-kali dipakai juga pakaian nasional lain yang sebenarnya bisa saja dibuat modis dan pantas dipakai pejabat. Bila pejabatnya sudah memberi contoh -masyarakat kita adalah masyarakat patronisme- maka akan mudah pembiasaan ke bawahnya, terutama di jajaran pemerintahan sendiri. Mungkin malah dengan berpakaian nasional suhu politik akan turun karena masing-masing pihak menahan diri dan sungkan untuk saling mengkritik pedas dan terbawa santun karena berpakaian nasional. Siapa tahu kan? ;)

Foto: Salah satu kebaya rancangan Anne Avantie yang modern dan indah.

Sumber Foto: weddingnouveau.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s