Hikmah Beragama

Hari ini, seorang yang mengaku sebagai guru spiritual diperiksa polisi. Dia adalah Anand Khrisna. Tuduhannya adalah pelecehan seksual terhadap muridnya.

Saya tidak hendak masuk ke dalam perkara masalah. Apakah benar ia pernah melecehkan atau tidak, biarlah penyelidikan dan penyidikan aparat hukum yang menentukannya. Hanya saja, sudah lama saya mempertanyakan apa yang diajarkan Anand Khrisna. Sebab, bagi saya agak mengherankan orang seperti Lia Aminuddin bisa ditangkap dan dihukum dengan tuduhan  penodaan agama, sementara Anand Khrisna tetap melenggang bebas.

Bahkan, ia telah menghasilkan puluhan buku yang intensinya patut dipertanyakan. Apa yang dilakukan Anand sebenarnya adalah suatu bentuk sinkretisme atau pencampuran agama. Dan saya yakin, di Indonesia hal seperti itu tidak dibenarkan. Bukankah pernah ada yang mencampurkan agama Islam dengan kepercayaan kejawen dianggap pula telah menodai agama? (ingat ajaran Satria Piningit Weteng Buwono?)

Saya pernah membeli beberapa buku Anand, dan isinya memang bisa membuat takjub. Seolah, ia menempatkan dirinya dalam posisi “kebenaran semua agama sama” dan ia sebagai “maha guru”-nya. Padahal, apa yang diajarkannya banyak berlandaskan pada budaya India, negeri asal leluhur Anand. Meditasi misalnya. Ia seolah mengatakan meditasi itu adalah jalan ibadah yang bisa diterima semua agama. (lihat saja ilustrasi artikel ini, CD dari Anand tentang meditasi dengan lambang berbagai agama).

Bagi saya, beragama itu memang harus penuh keyakinan. Kita bisa bertoleransi, tapi tidak mencampur-adukkan agama. Ini sesuai dengan prinsip dasar agama Islam yang saya anut: Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Bila memang Anand tidak bersalah dalam kasus pelecehan seksual, ia harus dipulihkan nama baiknya. Akan tetapi, sudah seharusnya ia disidik dalam kasus penodaan agama. Karena ia menyebarkan ajaran baru yang berpusat pada Hindu -atau Sikh?- dengan seolah menghormati ajaran agama lain, namun sebenarnya yang terjadi adalah upaya melakukan sinkretisasi. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan hikmah beragama paling dalam: setia melaksanakan ajaran agama kita, seraya menghormati agama lain.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s