Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century (1)

Mencari buku karya George Junus Aditjondro ini memang gampang-gampang susah. Sejak hari Kamis (24/12) saya memantau perkembangan buku ini setelah sempat diluncurkan di Yogyakarta. Di Jakarta sendiri, rencana peluncurannya baru hari Rabu (30/12) besok. Saya lantas menghubungi toko buku Gramedia, mereka mengatakan faktur sudah masuk, tapi bukunya belum. Terus begitu sampai hari Minggu. Akan tetapi, di hari Minggu ini pemberitaan sudah heboh, sampai-sampai Presiden SBY sendiri menyatakan keprihatinannya. Saat ini pula kontak saya di jaringan toko buku Gramedia (PT Gramedia Asri Media) mengatakan mereka ditelepon seseorang yang meminta agar buku itu ditarik dari peredaran, dan Gramedia pun melakukannya. Sempat mendengar satu-satunya toko buku yang berani menjual adalah di Gunung Agung Kwitang, namun persediaannya cepat habis. Akhirnya lewat “jalur khusus”, saya mendapatkan buku ini. Teman-teman di Yogya mungkin lebih beruntung karena penerbitnya ada di Yogya sehingga lebih mudah mendapatkannya. Karena masih hangat dan memang tidak semua punya akses memiliki buku ini, selama dua hari saya akan membahas mengenai isi buku yang kontroversial ini. Tulisan berbeda tentang buku ini rencananya juga akan saya muat di Kompasiana.

Pertama membaca buku ini, sorry to say, memang seperti kliping belaka. Akan tetapi, penerbitan buku ini sangat tepat waktu mengingat kasus Bank Century yang melibatkan lembaga-lembaga besar dan juga ‘orang-orang besar’ tengah hangat-hangatnya. Apalagi, di halaman 16-17 buku ini dibuka dengan copy surat rekomendasi Kabareskrim Mabes Polri (editor buku kurang menambahkan akronim “Ka”, sehingga tertulis hanya Bareskrim) Komjen Pol. Susno Duadji tertanggal 7 dan 17 April 2009. Bagi para wartawan, mungkin surat ini “basi”. Tapi bagi awam, tentu ‘pembocoran’ surat ini makin membuka mata tentang kelakuan “jenderal murah senyum” itu. Termasuk tentunya makin membuka mata publik mengenai ada apa sebenarnya di balik Century-gate.

Laiknya kliping, sistematika buku ini memang berantakan. Tidak ada keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lain. Bahkan tidak ada bab. Dari daftar isi, George membagi buku ini dengan judul-judul:

  • Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century
  • Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas
  • Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center
  • Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan SBY
  • Kaitan dengan Bisnis Keluarga Cikeas
  • Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan Ny. Ani Yudhoyono
  • Pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-caleg Partai Demokrat

Dari daftar isi tersebut, tampak bahwa memang George memfokuskan “serangan” ke SBY dan keluarganya. Premis-premisnya memang “menyeramkan”, George mengatakan di p. 31: “Pengalihan dana melalui Bank Century, LKBN Antara, atau korporasi-korporasi lain, terdorong oleh gencarnya usaha SBY serta para pendukungnya, untuk kembali memastikan menduduki jabatan kepresidenan yang kedua dan terakhir. Maka tak heran manakala terbukti jumlah pemilih Partai Demokrat melonjak hampir tiga kali lipat dari 7 % dalam Pemilu legislatif tahun 2004 menjadi sekitar 20 % dalam Pemilu legislatif 2009″.

George juga menyebutkan mengenai peran yayasan-yayasan pendukung SBY, baik yang berafiliasi dengan SBY langsung maupun dengan Ani SBY. Di p. 35 misalnya, George menyatakan: “Selain melalui lebih dari selusin tim kampanye (lihat Lampiran 1 Tim-Tim Kampanye Partai Demokrat dan Capres-Cawapres SBY-Boediono), penggalangan dukungan politis dan ekonomis bagi SBY dimotori oleh yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono.” Tak lupa George pun menyebutkan nama yayasan-yayasan itu:

  • Yayasan Puri Cikeas (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Mutu Manikam Nusantara (afiliasi ke Ny. Ani)
  • Yayasan Batik Indonesia (afiliasi ke Ny. Ani)
  • Yayasan Sulam Indonesia (afiliasi ke Ny. Ani)

Tentu saja, ada banyak data yang disampaikan George. Akan tetapi, kebanyakan data justru merupakan hasil copy-paste dari media massa. Sebutlah tulisan tentang bisnis Ibas (Edhie Baskoro) di p.49-52 yang cuma ‘comotan’ dari Indonesia Monitor versi online. Banyak pula yang sudah membacanya dalam versi cetak yang sama persis, termasuk saya. Atau tulisan mengenai Siti Hartati Murdaya yang dikutip dari Forum Keadilan (p. 89). Sehingga, bagi banyak wartawan tulisan-tulisan George tidaklah mengejutkan. Walau, harus diakui bagi awam memang lumayan mengagetkan. Apalagi, George dengan berani menyebutkan nama-nama di dalam bukunya.

4 Responses

  1. Sebagai “the watch dog” siapapun berhak menggonggong, bersuara untuk menjadi bagian demokrasi, guk, guk, guk.

    http://themiphz.wordpress.com/2009/12/29/membongkar-gurita-cikeas-yang-menggurita/
    ;-)

  2. Just share :)
    Free download buku Membongkar Gurita Cikeas (Full Version 183 Pages) :
    http://www.ziddu.com/download/7970921/buku-membongkar-gurita-cikeas-full-version.pdf.html

  3. [...] Bhayu M.H. adalah pengelola blog LifeSchool, versi lain dari ulasan buku ini dapat dibaca di sini. [...]

  4. [...] ini semula diposting di LifeSchool dua hari berturut-turut, 28 Desember 2009 dan 29 Desember 2009 . Bagian awal tulisan asli yang dianggap kurang relevan sebagai resensi tidak [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers