Hari Asy-Syura & Anak Yatim

Hari ini, 10 Muharram, diperingati sebagai hari Asy-Syura atau hari anak yatim. Di Indonesia, pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas sebagian besar adalah penganut Sunni atau Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Maka, perayaan hari Asy-Syura jarang dikenal. Sebagai gantinya, ada istilah “Hari Anak Yatim” untuk memperingatinya. Kenapa harus diperingati? Karena di tanggal inilah terjadi satu peristiwa traumatis dalam sejarah Islam.

Peristiwa itu dikenal sebagai Tragedi Karbala, terjadi pada 10 Muharram 61 H. Dalam kejadian tersebut, kedua cucu Rasulullah SAW yang sangat disayanginya yaitu Hasan dan Husain dibunuh oleh pasukan utusan penguasa lalim bernama Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Nama terakhir ini adalah khalifah pertama pasca Khulafaur Rasyidin yang kemudian mendirikan dinasti Umayyah. Pasca wafatnya khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., terjadi perselisihan tentang penerusnya. Dan Mu’awiyah menolak mengakui kepenerusan kepemimpinan kepada ahlul bait atau keluarga Nabi karena ia hendak mengambil-alih sendiri. Apalagi sebelumnya saat Ali bin Abi Thalib r.a. masih hidup, Mu’awiyah selaku Gubernur Syam sudah pernah menentang kekuasaan khalifah dalam Perang Siffin. Perdamaian yang terjadi pun dianggap tipu daya sehingga menyebabkan perpecahan pertama di kalangan umat Islam. Dari sini kemudian muncul golongan-golongan dalam Islam termasuk Syi’ah yang hingga kini tetap bertahan, sementara golongan lain seperti Khawarij kini sudah tidak eksis lagi. Sementara Sunni yang kini menjadi golongan terbesar dalam Islam malah belum lahir. Dalam tragedi Karbala, terjadi peperangan tak seimbang antara pasukan yang diutus Mu’awiyah melalui Gubernur Kuffah Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin Umar bin Sa’ad berjumlah sekitar 4.000 orang (ada yang menyebut 30.000) melawan 77 orang pasukan Husein yang menentangnya.

Tragedi tersebut menunjukkan, betapa kekuasaan bisa amat memabukkan. Bahkan, keluarga pimpinan pun bisa dibantai karena ingin mengambil alih tampuk pimpinan itu sendiri. Dalam kasus tersebut, bahkan yang dibantai adalah anak-anak yatim dari keluarga pimpinan, yaitu Hasan dan Husain yang sudah kehilangan ayahnya Khalifah Ali yang juga dibunuh. Pembantaian anak-anak yatim inilah yang terus dikenang hingga kini, terutama di negara-negara Islam berpaham Syi’ah. Mereka sampai melakukan ritual melukai diri sendiri demi mengenang bersimbah darahnya cucu-cucu Nabi yang yatim di Padang Karbala.

Di Indonesia, tradisi melukai diri tidaklah lazim. Namun hikmahnya tetap dapat diambil di sini, yaitu kelaliman haruslah ditumpas. Di samping itu, kita harusnya menyantuni dan melindungi anak yatim. Dengan daya upaya masing-masing, kecintaan kepada anak yatim -dan fakir miskin serta kaum dhuafa secara umum- haruslah terus digelorakan. Karena bila umat muslim mengabaikan anak yatim, maka termasuk golongan yang mendustakan agama seperti diperingatkan ALLAH SWT dalam QS Al-Ma’un (107) ayat 1-2.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s